Oleh : Nayla Syabina Syalsyabila
Setelah pertemuan itu, barulah ku sadari bahwa kelas kita saling berhadapan. Selalu saja kudapati kamu tengah mengamatiku dari lorong seberang sana. Hingga selalu menungguku keluar kelas untuk memastikan aku pulang terlebih dahulu.
Hari itu Tissha membicarakan hal aneh yang sampai saat ini selalu membekas diingatanku.
“Na, lo tau ga? Kalau Kak Juan itu mantan gue?”
“Hah? Yang bener?”
“Iyaa Na, serius!!”
“Terus, kenapa bisa putus?”
“Gue sama dia satu suku Na, di Minang kan ngak boleh kalau sesuku, bahasa orang Sundanya mah PAMALI.”
“Duh, cup cup cup kasiannya huhuuu.”
Pantas saja Tissha terlihat biasa saja saat didatangi cogan, ternyata mantannya, haha. Pantas saja dia terlihat sudah amat akrab dengan Juan. Ternyata ini alasannya.
Terlihat samar-samar diingatanku tentang bagaimana kita bisa menyatu. Ingatkah kala itu, di saat acara perpisahan di sekolah, saat Tissha memintaku untuk menemuimu di ruang kosong di ujung lorong ini? Kau tersenyum dan mengalihkan pandanganmu seakan menolak untuk saling mendekap.
“Hai Na”.
“Eh iya kak.”
“Sudah selesai narinya?”
“Sudah kak.”
Kemudian kamu pergi meninggalkan aku bersama Tissha di ruangan hampa itu.
“Dia mau kemana?”
“Ntahlah, ayo keluar!”
Kejadian hari itulah yang membuatku bertanya-tanya sebenarnya kau ini orang yang seperti apa? Apa yang kau cari? Mengapa pergi begitu saja saat itu? Dan masih banyak pertanyaan yang mungkin memang tidak akan pernah ada jawabannya.
Namun, setelah hari itu entah dari mana dan dari siapa kau mendapatkan media sosialku dan segera memberitahuku tentang hal itu.
“Qasenna sysyel?”
“Maaf siapa ya?”
“Masa depanmu”
“Hah?”
“Apdio Jazuan Juan.”
Aku terdiam kaku. Bagaimana bisa ia mengetahui sosial mediaku dan mengapa bisa ia seberani itu untuk menghubungiku.
Mulai hari itu, kami selalu bertukar kabar setiap hari, selalu saling peduli, saling mendekap walau belum terikat. Hari-hari terasa sangat menyenangkan karena ada dirinya. Selama kurang lebih 2 tahun aku dan dia tetap saling memberi warna di kehidupan masing-masing, tetap saling memandang hangat dan selalu bertukar cerita. Namun, semuanya sirna dan hilang begitu saja ketika ia pindah dari kota ini untuk melanjutkan pendidikannya.
