Rasanya baru kemarin aku menjadi anak kecil yang sering menangis saat permintaannya tidak dituruti. Rasanya baru kemarin aku merayakan ulang tahun yang ke-5, namun ternyata tahun ini aku sudah menginjak usia 15 tahun. Tidak terasa, sepuluh tahun telah berlalu begitu saja.
Mengapa waktu terasa sangat cepat, ya? Dulu, aku membayangkan hidupku akan berjalan persis seperti apa yang ada di imajinasiku. Namun, seiring berjalannya waktu dan prosesku beranjak dewasa, aku mulai mengerti bahwa hidup terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Dulu, duniaku sebagai anak kecil penuh dengan kesenangan dan permainan setiap hari, serta selalu didampingi oleh orang tua. Apa pun yang aku butuhkan, aku tinggal meminta kepada mereka. Ada masalah sedikit pun, aku langsung mengadu. Namun kini, aku mulai dididik untuk lebih mandiri, melakukan segala hal sendiri, dan belajar menyelesaikan masalah tanpa bergantung pada orang lain.
Orang tuaku pernah berpesan: “Selagi kamu bisa melakukannya sendiri, kenapa harus meminta bantuan orang lain? Kamu harus belajar berusaha mengerjakan apa pun sendirian.” Dulu, aku sempat menolak untuk mandiri. Aku ingin terus melakukan segala hal bersama orang tuaku. Namun, mereka selalu mendorongku, katanya: “Kalau suatu saat nanti kamu sudah dewasa dan kami tidak ada lagi yang bisa menemanimu, bagaimana kamu akan menjalani hidup jika tidak belajar mandiri dari sekarang?”
Saat itulah aku mulai sadar betapa pentingnya kemandirian. Terkadang, muncul berbagai pertanyaan di kepalaku mengenai masa depan. Bagaimana jika nanti aku kuliah di luar kota atau bahkan luar negeri? Siapa yang akan membantuku menyelesaikan masalah kalau bukan diriku sendiri? Ternyata, menjadi dewasa yang kubayangkan saat kecil dulu sangatlah berbeda dengan realita yang kujalani sekarang.
Watansoppeng, 13 Mei 2026
