Kyle kembali ke tendanya kemudian tertidur. Sementara Kyle tertidur, teman-temannya masih asyik bersenang-senang. Tanpa mereka semua sadari bahwa ada puluhan pasang mata merah menyala yang mengintai mereka dari hutan yang gelap.
“Makan…”
Sebuah suara yang terdengar berat, membangunkan Kyle dari tidurnya. Baru saja ia bangun, Fedy langsung masuk menembus tendanya.
“Apakah kau mendengar itu juga?” tanya Fedy
“Iya aku mendengarnya… sepertinya mereka sudah mendapatkan mangsa…” ucap Kyle
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Dari penglihatanku… ada seseorang yang sudah melewati pelindung utama… kau hentikan orang itu. Terserah bagaimana kau menghentikannya. Jangan sampai ia melewati batas kedua.”
“Baiklah. Aku akan segera mencegah orang itu.”
“Cepat sebelum terlambat. Lokasinya di sebelah barat” ucap Kyle.
“Aku pergi dulu” ucap Fedy lalu menghilang.
“Menyusahkanku saja. Mengapa ada yang masuk ke hutan sih. Dasar manusia” ucap Kyle kembali berbaring.
Di tempat lain
“Waduh… aku buang air di mana nih… malah si Devan gak mau temenin lagi” ucap Leon.
“Di sana aja kali yah.”
“Di sana aja deh… udah kebelet juga.”
“Akhh… lega… udah dari tadi gua nahan… si Devan sialan gak mau nemenin gue lagi”
Setelah buang air kecil, Leon berbalik dan berjalan menuju ke tendanya. Belum lama ia berjalan, ia mendengar sebuah suara orang menangis
“Hiks…. hiks… tolong… hiks”
‘Suara apa itu? kok aku merinding yah… Astagfirullah… aku harus segera kembali’ batin Leon.
Leon lalu mempercepat langkahnya. Semakin cepat langkahnya, semakin nyaring suara tersebut
“Darah…. aku mau darah…. hihihihihi” ucap sosok kuntilanak yang sedang duduk di atas pohon tak jauh dari Leon.
Mendengar suara yang tidak terlalu jauh, Leon pun berbalik ke belakang. Saat berbalik, ia sangat terkejut melihat sosok berambut panjang dan bergaun putih dengan noda merah itu duduk manis di dahan pohon yang tak jauh darinya.
“Ku… kuntilanak” ucap Leon lalu berlari.
Setelah melihat sosok kuntilanak itu, Leon segera berlari. Karena ketakutan, yang seharusnya berlari keluar hutan Leon malah berlari masuk kedalam hutan.
Di tenda Kyle
“Gawat… orang itu sudah melewati pelindung kedua… cih… mau tidak mau aku yang harus turun tangan. Semoga Fedy segera ke orang itu kalau tidak ia akan membawa masalah ke Naya” ucap Kyle bangkit dari tidurnya lalu memakai hoodienya dan keluar dari tendanya lalu berjalan kehutan.
“Hihihihi… kamu mau lari kemana…. hihihi” sosok kuntilanak itu terus mengejar Leon
“Hah…huh…. kemana lagi gua harus lari” Gumam Leon sambil berlari.
“Hihihi… kau tidak perlu lari lagi…. karena kau sudah tidak bisa lari” ucap kuntilanak itu lalu melesat ke arah Leon.
Entah keberuntungan atau musibah, tanpa sengaja Leon tersandung batu lalu terjatuh yang membuat kuntilanak yang melesat ke arahnya hanya melintas di atasnya.
Kuntilanak itu melesat melewati tubuh Leon yang tersungkur, dan terbang menembus pohon yang ada di depannya. Melihat kesempatan, Leon segera bangkit dan berbalik.
Namun, saat Leon berbalik kuntilanak itu langsung muncul di hadapannya. Dengan wajah yang menyeringai, darah menetes dari pupil matanya serta wajah yang setengah hancur yang dihiasi belatung dan nanah sontak membuat Leon kembali terduduk di tanah.
‘Apakah aku akan mati di sini?… Tuhan… tolong aku… aku janji akan menjadi anak yang baik’ batin Leon.
“Hey… apa yang kau lakukan di sini?… Bukankah sudah kukatakan jangan masuk ke hutan saat malam” ucap Kyle.
‘Kapan dia bilang seperti itu… dia bahkan jarang bicara…’ batin Leon.
“Kyle… pergi… a…ada kuntilanak” ucap Leon.
“Hoh… kau ada antara hidup dan mati tapi kau masih mengkhawatirkan orang lain…. sungguh anak yang baik… tapi… aku datang ke sini untuk membawamu kembali… kalau kau kenapa-kenapa Naya pasti membenciku” ujar Kyle.
“Hey anak manusia… kau pikir bisa pergi dari sini. Jangan harap. Kau akan jadi santapanku” ucap Kuntilanak itu.
“Kau pikir aku butuh izin mu untuk pergi dari sini? Jangan membuatku tertawa…”Ucap Kyle.
‘Apa yang Kyle lakukan?… Apakah ia tidak takut?’ batin Leon
“Bagaimana dia bisa takut dengan makhluk yang lemah seperti itu… dan… sebaiknya kamu istirahat saja” Bisik Fedi di dekat telinga Leon.
Mendengar bisikan itu, Leon tiba-tiba dilanda rasa kantuk, dan perlahan kesadarannya pun masuk ke alam mimpi.
*
Keesokan paginya, Leon terbangun dan mendapati dirinya sedang berbaring di dalam tendanya. Leon duduk sambil melihat sekeliling dan melihat Devan dan Nolan yang masih tertidur.
“Apakah aku hanya mimpi?.. tapi itu sangat nyata” gumam Leon
“Akhh” Leon meringis memegangi lututnya yang nyeri.
‘Sepertinya itu bukan mimpi…’ Batin Leon.
“Hah… Kyle… semalam Kyle ada di sana… apa yang terjadi dengannya” ucap Leon bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari tenda sambil menahan nyeri pada lututnya.
“Jangan memaksakan diri… kau bisa merepotkan yang lain” Ujar Kyle yang muncul tiba-tiba dan membuat Leon sedikit terkejut.
“Obati lukamu..” Ucap Kyle memberikan sebotol obat kepada Leon.
“Kyle..” Baru saja Leon ingin bicara, Kyle langsung mendahuluinya.
“Jangan bertanya apapun… lupakan yang terjadi… jangan menyusahkan orang lain apalagi Naya” Ucap Kyle berbalik lalu pergi meninggalkan Leon yang masih berdiri di sana dan melihatnya berjalan menjauh
“Aneh… apa yang sebenarnya terjadi tadi malam… dan mengapa saat aku bangun aku ada di dalam tenda… seingat ku aku sangat mengantuk tak lama setelah Kyle datang” gumam Leon.
“Apa yang kau pikirkan Leon?” Tanya Nolan menepuk pundak Leon.
“Astaga Lan… kamu ngagetin aja” ucap Leon menghempaskan lengan Nolan yang bertengger di bahunya.
“Santai aja kali…” ucap Nolan.
“Oiya Lan… semalam siapa yang bawa aku ke tenda?” tanya Leon
Nolan menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bingung.
“Apa maksudmu?… apa kau lupa?… kau sendiri yang datang ke tenda… bahkan kau tidak mengajak kami berdua bicara… kau langsung masuk ke dalam tenda lalu tertidur” jelas Nolan.
“Masa sih…” ucap Leon sambil memikirkan sesuatu.
“Hey.. ada apa denganmu?… apa otakmu bermasalah?… kau belum tua tapi sudah mulai pikun” ucap Nolan.
“Kalian berdua kenapa berisik banget sih… aku mau tidur juga… malah berisik… ganggu orang tidur aja” ucap Devan berjalan keluar tenda
“Heh… kamu mau kemana?” tanya Leon pada Devan.
“Mau ke danau… pengen mandi” ucap Devan
Devan berjalan ke arah danau sambil membawa perlengkapan mandinya. Saat sudah dekat dengan danau, Kyle tiba-tiba muncul dan menghadang Devan.
“Kau mau kemana?” tanya Kyle
“Aku mau ke danau” ucap Devan
“Para wanita sedang mandi di sana… tunggu sebentar lagi mereka juga akan selesai” ucap Devan.
“Untung kau menghentikan ku… kalau tidak, nanti mereka memikirkan hal yang tidak-tidak terhadapku” ucap Deva.n
“Bukan apa-apa… aku hanya tidak ingin kau melihat adik ku” ucap Kyle dengan wajah datarnya
‘Sepertinya Kyle sangat peduli dengan Naya… aku tidak ingin dia membenciku… bagaimana pun aku suka dengan Naya’ Batin Devan.
‘Oh… jadi kamu menyukai adikku… sepertinya kau tidak tau kalau aku bisa mendengar suara batin seseorang’ batin Kyle.
“Iya Van… sebaiknya…” belum sempat Kyle menyelesaikan kalimatnya, suara teriakan dari danau menarik perhatian mereka. Spontan mereka berdua berlari ke danau.
“Nay… Naya…” ucap Siska
“Tolong… Naya tenggelam” teriak Siska.
“Hah… Naya…” tanpa Pikir panjang, Devan langsung berlari ke danau lalu melompat ke dalam air untuk menyelamatkan Naya meninggalkan Kyle yang berdiri mematung dengan wajah cemas.
“Fedy… lepaskan aku… Naya dalam bahaya” ucap Kyle mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman Fedy.
“Apa kau gila… kau membahayakan dirimu… apa kau lupa kau tidak tahu berenang… bukannya menyelamatkan Naya kau hanya menjadi beban” Bentak Fedy untuk menyadarkan Kyle
“Kau benar… aku minta maaf…” ucap Kyle menundukkan kepalanya. Melihat Kyle yang sudah tenang, Fedy melepaskan cengkramannya pada Kyle
Tak lama, Devan muncul ke permukaan sambil menggendong Naya yang tidak sadarkan diri. Melihat itu, Kyle segera ke sana untuk melihat kondisi Naya.
Devan meletakkan Naya yang tidak sadarkan diri di bibir danau. Melihat sahabatnya pingsan, Siska kemudian mencoba melakukan pertolongan pertama pada Naya. Siska menekan nekan dada Naya dengan kedua tangannya.
setelah beberapa saat, Naya terbatuk-batuk dan mengeluarkan air danau yang ia minum saat tenggelam. Kyle yang melihat Naya sudah siuman berbalik dan ingin pergi. Namun, Devan mencegahnya.
“Adikmu tadi dalam bahaya… apa yang kau lakukan hah… kau mau Naya mati tenggelam… kakak macam apa kau… dan kau mau pergi… ku kira kau sangat peduli pada Naya tapi aku salah… kau itu kakak yang tidak berguna” Maki Devan dengan suara yang tinggi.
“Kau tidak tau apa-apa… jangan mengajariku apa yang harus aku lakukan” ucap Kyle dengan wajah datarnya.
“Brukk” sebuah pukulan mendarat tepat di pipi Kyle.
“Sudah lama aku ingin memukul wajah songong itu… kau masih ingin menyebut dirimu kakaknya… aku lebih baik darimu” ucap Devan.
“Brukk” Kyle membalas pukulan Devan.
“Kalian berdua berhenti… apa yang kalian lakukan” Bentak Sinta.
“Devan mengapa kau memukul Kyle?… Apa yang terjadi?” tanya Naya.
“Mengapa aku memukulnya?… tanya padanya… ketika kau tenggelam mengapa ia tidak menolongmu?… setelah mendengar kau tenggelam dia hanya berdiri mematung” ucap Devan sambil menunjuk Kyle.
“Jangan menunjuk ke arahku… aku bisa mematahkan lenganmu” ancam Kyle.
“Kalau kau berani cobalah” ucap Devan.
Kyle ingin memukul Devan. Namun ditahan oleh Fedy. Fedi kemudian membawa pergi Kyle dari sana. Namun, saat Kyle pergi teman-temannya heran karena ia melihat Kyle seperti di tarik oleh sesuatu.
“Devan… kau mungkin tidak tau tapi… sebenarnya Kyle tidak bisa berenang…” ucap Naya yang membuat mereka yang mendengar itu tidak percaya.
“Apa kau serius Nay?” tanya Siska.
“Ia… aku serius… aku tidak ingin cerita… tapi kalian harus tau… apa kalian memperhatikan Kyle saat pergi tadi?” ucap Naya.
“Iya… aku lihat ia seperti sedang ditarik sesuatu” ucap Siska.
“Sebenarnya…. Kyle itu indigo… kalian sering melihatnya berbicara sendiri kan… tapi sebenarnya ia sedang berbicara dengan makhluk yang kita tidak bisa lihat” ucap Naya.
“Aa…apa kau serius Nay” ucap Desi.
“Aku serius… dan satu lagi… Kyle juga bisa….”
“Naya…. aku sudah bilang jangan memberitahu siapapun… mengapa kau memberi tahu mereka?… apa gunanya?” Bentak Kyle yang tiba-tiba muncul.
“Kyle… mengapa kau sangat keras kepala?… aku lakukan ini untukmu” ucap Naya berdebat dengan Kyle.
“Untukku?… apa gunanya untukku kalau mereka tahu?… jangan membongkar apapun lagi termasuk hal itu… kalau tidak kau pasti tau apa yang terjadi” ucap Kyle dengan ekspresi wajah yang kesal lalu meninggalkan mereka yang masih bingung
“Kau sangat keras kepala Kyle. Aku khawatir denganmu… bodoh” gumam Naya.
***
Penulis : Muh. Irwan ali
Kelas : XI
Asal sekolah : SMAs HASKA
Kec. Katoi
Kab. Kolaka Utara

Cerita yang bagus