Oleh : Nayla Syabina Syalsyabila*

Aku, seorang yang selalu membawa lari masalahnya dengan pergi menemui senja atau mengejar hujan. Entahlah, menurutku dua hal itu layaknya penenang dari segala badaiku. Aku yang selalu tidak ingin membagi keluh kesahku kepada siapa pun, hanya karena tidak ingin membuat mereka terbebani. Hanya dengan menyaksikan fana orange setelah mendengar ribuan rintik air yang tak kenal takut jatuh sehingga membasahi permukaan tanah saja sudah cukup untuk meredakan semua sedihku. Aku adalah seorang yang selalu dapat menghibur dan menciptakan kebahagiaan bagi orang lain, tidak peduli dengan hancurnya diriku di hari itu yang terpenting adalah mereka bahagia maka aku pun akan ikut bahagia karenanya. Namun, kini aku memiliki seseorang yang terlihat tidak peduli tetapi tetap menggenggam erat diriku di saat semua orang melepaskanku.

Dia, seorang pria baik yang selalu memarahiku jika aku berlaku seenaknya. Dia pria pertama yang selalu dapat membuatku benar-benar merasa semuanya akan baik-baik saja dengan senyum peneduh miliknya. Dirinyalah yang selalu berhasil membuatku tenang di segala kondisi. Dia memang tidak selalu ada di sampingku, tapi ia selalu berjalan di belakangku untuk memastikan diriku baik-baik saja.

Bagian 1
Kamu dan Sejuta Keindahan

Kamu adalah ciptaan tuhan yang paling indah yang pernah kutatap, kugenggam, dan kurasakan sendiri kehangatannya. Indahnya senyummu yang diikuti oleh lengkungan mata tanpa paksa serta raut wajah yang begitu sempurna seakan mengajakku untuk tetap bahagia bersama. Suara indah miliknya merupakan salah satu musik favoritku, yang selalu ingin kudengar setiap saat. Tawanya yang terdengar begitu candu adalah bahagiaku. Kamu adalah salah satu bentuk kebaikan Tuhan padaku, di mana ketika aku meminta yang terbaik ia mengirimkan insan sepertimu untuk membuatku bahagia dalam menjalani hari-hariku.

Jika kita tidak pernah jatuh cinta, maka kita tidak akan mengerti apa arti kehidupan. Hidup tanpa cinta? Bagaimana mungkin. Hal bodoh jika kau bisa hidup tanpa cinta. Kamu, kamu adalah bentuk cinta terindah di masa remajaku. Ingin rasanya aku berlutut berterima kasih pada sang penguasa langit dan bumi akan kehadiran dirimu dalam hidupku.

Sungguh mengenalmu adalah di luar dugaanku. Aku tak pernah ingin tau siapa dirimu. Bahkan aku pun tak pernah melihatmu di sekolah. Namun, pagi itu saat aku sedang berjalan menuju kelas bersama sahabatku, kau muncul dan mengajakku berkenalan.

“Na ada kak Juan”

“Hah? kak Juan siapa woiii?!”

“Itu loh kakel yang selalu jadi inceran cewe-cewe di sini.”

“Hah?”

Di saat sedang kebingungan dengan perkataan Tissha, tiba-tiba kau mendatangiku. Berbicara dengan suara yang sedikit gemetar dengan menggenggam erat kedua tanganmu hingga terlihat kepanikan yang muncul dari dirimu.

“Hai cantik.”

“Eh?” Aku menoleh ke arahnya.

“Senna kan? Angkatan 2017?”

“Oh iya kak, maaf kakak siapa yah?”

“Juan, angkatan 2016. Salam kenal,.” sambil mengangkat tangan seolah ingin berjabatan

“Oh iya kak” kujabat tangannya dan segera pergi dari tempat itu.

*SMAN 3 Solok Selatan

(Visited 41 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *