Oleh : Mutiara Wulandari*
Sepatu lamaku rusak, dan tidak bisa lagi dipakai. Aku berpikir untuk membeli sepasang sepatu baru yang mungkin lebih nyaman untuk dipakai. Sepatu yang enak dan aman dipakai, tidak akan melukai kakiku ketika berjalan.
Mencari toko sepatu di sepanjang jalan, menelusuri etalase sepatu mana yang indah dilihat dan enak dipakai. Hingga aku menemukannya dan melihat sepatu itu dari jauh. Bentuk dan desainnya menarik, begitu pula perpaduan warnanya. Perlahan aku mendekat untuk mencobanya, apakah itu sesuai ukuranku, kataku membatin.
Ternyata sepatu itu terlalu sempit untukku. Sekuat apa pun aku memaksakan tidak akan muat, dan hanya akan membuat kakiku terluka. Aku berusaha melupakan sepatu itu dan beralih mencari sepatu lain.
Dari salah satu sudut toko lain aku melihat sepatu yang jauh lebih indah dari sepatu sebelumnya, tapi tentunya dengan harga yang lebih mahal. Ketika membuka dompet, ternyata uangku tidak cukup. Aku pun bertekad menabung dan akan kembali minggu depan untuk menjemput sepatu itu.
Seminggu kemudian aku kembali ke sana dengan perasaan senang tak terkira, karena yakin sepatu itu sebentar lagi akan pulang bersamaku. Namun, harapanku hancur ketika melihat sepatu itu tak lagi berada di tempatnya. Kata penjualnya, tiga hari yang lalu ada wanita lain yang sudah membeli sepatu itu.
Aku kecewa, rasanya perjuanganku terbuang sia-sia. Sepatu itu pergi bersama pemiliknya yang baru. Sepatu pertama yang kutaksir tidak sesuai ukuran kakiku, sepatu kedua yang membuatku jatuh hati, tidak cukup uangku. Pas aku nabung untuk memilikinya, eh sudah diambil orang.
Bertahun-tahun aku selalu memikirkan sepatu itu. Rasanya ingin kurebut dari pemiliknya, tapi itu terdengar bodoh bukan?
Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak lagi memakai sepatu, bahkan untuk sekedar melihat sepatu lain pun rasanya sudah malas.
*Siswi SMAN 1 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman
