Oleh : Jusnia Paseba

Jika ditanya hari apa yang Aruna benci? Maka dengan senang hati Aruna akan menjawab hari ini. Hari ini adalah hari pertama Aruna memasuki semester baru di tahun ajaran baru, setelah menikmati libur kurang lebih dua minggu. Aruna bukannya malas untuk ke sekolah. Tetapi, lingkungan sekolah membuat Aruna seakan-akan hanya ingin mendekam di rumah saja.

Aruna si gadis culun yang selalu mengepang rambutnya ke sekolah. Jangan lupa kacamata selalu bertengger manis di atas hidung mancungnya. Siswi kelas XII IPA-5 ini selalu menjadi objek bullying oleh siswa yang penampilannya di atas rata-rata.

Aruna kira di hari pertama ini sekolah akan sepi karena banyak yang akan menambahkan liburnya sendiri. Nyatanya tidak. Mereka justru berdesak-desakan memasuki gerbang sekolah.

“Se-ambisi itu kah mereka?” Tanya Aruna pelan sambil membenarkan letak kacamatanya.

Aruna terus berjalan dengan tatapan kosong. Rasanya hari ini teramat malas untuk melangkahkan kakinya memasuki pekarangan sekolahnya. Aruna masih ingin hidup tenang di rumah, menikmati paginya menonton berbagai macam tayangan TV. Aruna juga masih ingin hari-harinya sepi tanpa keributan yang mengusik kegiatannya. Nyatanya, semua itu hanyalah my dream yang mungkin akan terwujud di hari Minggu saja.

Langkah demi langkah hingga tak terasa kaki jenjang Aruna sudah menyentuh ubin lantai depan kelasnya. Saat Aruna mengangkat pandangannya, hal pertama yang dia lihat adalah kelompok siswa yang membuat lingkaran. Terhitung ada enam kelompok  kecil yang diisi oleh siswa laki-laki dan perempuan. Melihat kelompok-kelompok seperti ini sudah menjadi hal yang biasa bagi Aruna.

Enam kelompok kecil itu selalu membahas berbagai macam hal; dari masalah pribadi,teman kecilnya, bahkan cerita random pun selalu mereka perbincangkan.

Singkatnya, siswa kelas Aruna ini main circle-circle-an. Sayangnya, Aruna bukanlah tipe seperti mereka. Aruna hanyalah siswi yang selalu mengisi hari-hari nya dengan kesendirian.

Saat Aruna mulai memasuki kelas, semua mata memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan, ada yang terang-terangan berbicara mengenai Aruna.

“Masuk juga nih beban kelas,” kata salah satu siswi yang berada di kelompok sudut.

“Gue kirain nih beban kelas udah ga datang. Secara, hari ini kan pembagian rapor.”

“Malu ah punya teman cewek kok beban banget.”

“Ga malu apa cewek kok nilainya kayak cowok.”

“Bikin malu kaum hawa ajah.”

Semua makian ini bagaikan sarapan pagi untuk Aruna. Keterasingan Aruna di kelas IPA-5 berasal dari dirinya yang menempati peringkat ke-23 di antara 25 siswa.  Aruna adalah salah satu nya siswi yang menempati peringkat 20 besar. Semua teman-temannya sesama perempuan berbondong-bondong menempati peringkat 10 besar.

Dulunya, Aruna berprestasi. Bahkan, saat kelas X, Aruna berada di kelas IPA-1, kelas yang isinya para siswa berprestasi. Seiring berjalannya waktu, waktu belajar Aruna serta kehadiran Aruna banyak tersita dengan suatu halangan yang membuatnya tidak baik seperti dulu. Sekarang, jika satu hari saja Aruna tidak sekolah tanpa kejelasan, maka dirinya terancam di-drop out dari sekolah. Mati-matian Aruna berusaha agar dirinya selalu hadir sekolah, meskipun sebagian anggota tubuhnya menolak keras.

Aruna hanya memaksakan senyumnya sebagai balasan untuk teman-temannya yang telah memakinya pagi ini.

“Woi! Ngapain duduk di situ? Duduk di pojok sana, dekat bangku Rifai,” teriak salah satu teman kelasnya saat Aruna menyimpan tas di bangku.

“Cocok tuh, biar nanti pas pembagian rapor lo barengan sama Rifai ambil rapornya.”

Rifai adalah siswa yang mengisi peringkat ke-24. Sikapnya hampir sama dengan Aruna; sama-sama suka diam.

Peringkat ke-25 diisi oleh ketua geng motor yang namanya di kenal di mana-mana. Tidak ada satupun siswa yang berani mem-bully-nya. Yang pasti, mem-bully sama saja dengan mengganggu macan yang sedang tidur.

“Udah loh sono! Biar Citra yang isi bangku loh.”

Tidak mau berdebat dengan teman kelasnya, akhirnya Aruna mengalah dan memilih untuk duduk di bangku sudut kanan.

Pintu kelas terbuka menampilkan perempuan yang membawa setumpuk buku hard cover. Matanya terus melirik, memperhatikan setiap bangku yang ada di kelas.

“Kemana Reihan?” Tanya Ibu Julea saat melihat bangku pojok kiri tak berpenghuni.

“Nyari saya, Bu?” 

Spontan Ibu Julea berbalik saat mendengar suara familiar yang menghuni telinganya.

“Sudah jam berapa, Reihan? Kenapa baru datang?”

“Cuman telat sepuluh menit kok, Bu. Jangan marah marah dong. Udah semester genap nih Bu, bentar lagi Reihan lulus.”

“Pintar banget yah kamu bilang lulus, kayak nilainya bagus ajah,” jawab Ibu Julea geleng-geleng kepala.

“Nanti dibenerin, Bu. Gampang kok,” kata Reihan mengedipkan matanya dan langsung berlari memasuki kelas.

“REIHAN!” Suara Ibu Julea menggema di sepanjang koridor.

Setelah melakukan pembukaan dan berbagai macam nasihat bagi anak walinya, Ibu Julea mulai menyebut satu per satu nama siswa-siswinya, beserta peringkat yang didapatkan.

“Aruna Purnama Sari,” kata Ibu Julea memanggil nama Aruna. Spontan saja Aruna segera mengangkat tangannya.

“Saya, Bu?”

“Ini rapor kamu. Ibu kira setelah ibu memberi surat terhadap orang tua kamu, kamu akan belajar yang lebih giat lagi. Nyatanya tidak. Kamu masih tetap berada di dalam lingkaran 20 besar. Tetapi, kali ini kamu berada di peringkat ke-20. Ibu harap di semester akhir ini nilai kamu bisa meningkat, termasuk kehadiran kamu di sekolah. Jangan Cuma alfa dan surat izin kamu saja yang datang. Ingat yah Aruna, sekali kamu melakukan alfa, kamu akan di-drop out dari sekolah ini. Perlu kamu ingat, izin di sekolah ini hanya berlaku tiga hari saja. Jangan pernah tambah-tambah izin atau kamu akan di-drop out. Sangat disayangkan Aruna, sisa beberapa bulan lagi kamu akan melepas masa-masa sebagai siswi SMA,” ucap Ibu Julea panjang.

Usai Ibu Julea menutup pembicaraan nya, Aruna melangkah maju untuk mengambil rapornya. Bisikan demi bisikan Aruna dengar saat melewati bangku teman-teman sekelasnya.

“Terimakasih, Bu. Maaf karena hasilnya mengecewakan,” kata Aruna sembari mengambil rapornya.

“Belajar yang baik dan perhatian kehadiranmu,” jawab Ibu Julea.

Aruna kira setelah melakukan pengobatan khusus, juga rutin melakukan hemodialisis, kondisinya akan membaik. Nyatanya tidak, kondisinya justru semakin turun.

Setahun yang lalu, setelah Aruna sakit-sakitan dan selalu menolak keras untuk ke dokter, Aruna didiagnosa mengidap penyakit gagal ginjal. Andai saja sejak awal Aruna mau ke dokter, mungkin dirinya tidak seperti ini.

Lambat mendapatkan penanganan dan selalu mengandalkan obat-obatan sebagai alternatif untuk menyembuhkan dirinya, ternyata dia mengidap penyakit gagal ginjal. Bodohnya, dia baru ke dokter saat ginjalnya sudah rusak.

“Hari ini rawat inap, yah? Biar besok ga telat cuci darahnya. Selain itu, Suster juga bisa pantau,” kata Dokter Dian.

“Ta-pi saya sekolah, Dok?” jawab Aruna sambil melirik pada kedua orang tuanya.

“Besok biar Ibu yang buatin surat sakit,” kata Gita agar anaknya mengiyakan permintaan Dokter Dian.

“Jangan surat sakit, Ma…” tolak Aruna.

Aruna selalu menolak keras untuk dibuatkan surat sakit. Lebih baik dialihkan sebagai surat izin saja atau alfa saja. Dia tidak ingin orang-orang mengetahui dirinya sakit-sakitan.

Selama dirinya melakukan perawatan atau kondisinya drop dan tidak hadir ke sekolah, Aruna hanya mengirimkan surat izin atau tanpa keterangan. Alhasil, pihak sekolah tidak mengetahui bahwa Aruna sedang sakit parah.

Aruna menyembunyikan penyakitnya dari orang-orang. Bahkan, jika orang tuanya mendapat surat ke sekolah, Aruna melarang keras untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Dokter bisa kok buatin surat keterangan sakit, nanti dikasih ke pihak sekolah,” kata Dokter Dian.

“Jangan, Dok. Biar Mama aja sama Papa yang buat,” cegah Aruna.

Setelah sehari izin, Aruna kembali masuk sekolah. Seperti biasa, teman-teman sekelasnya selalu menatapnya dengan kesan tidak suka. Seolah-olah Aruna ini adalah kesialan bagi kelasnya.

“Aruna sudah hadir?” Tanya Ibu Julea datang memeriksa anak walinya.

“Saya, Bu!” kata Aruna dari belakang sambil mengangkat tangan kanannya.

“Kemarin izin ke mana? Betul kamu ke rumah nenek?” Tanya Ibu Julea dengan interogasi.

“Iya, Bu. Kemarin Nenek saya sakit dan saya harus pergi menjenguknya,” jawab Aruna berbohong.

“Ya sudah. Semoga neneknya cepat sembuh, yah?” kata Ibu Julea tersenyum ke arah Aruna.

Aruna membalas senyum itu.

“Alah palingan juga sengaja ga datang biar ga belajar fisika. Ya enggak, geng?” Teriak salah satu teman kelasnya saat Ibu Julea sudah keluar.

“Iya lah, secara kan beban kelas ga bisa fisika, ups!” bukan teman sekelas namanya jika tidak saling membalas.

Namun, lagi-lagi Aruna hanya membalasnya dengan senyuman.

Jika kalian pikir saat ini Aruna tambah ambis untuk melakukan hemodialysis, nyatanya kalian salah besar. Sudah dua minggu Aruna melewatkan jadwa hemodialisisnya. Semua waktu Aruna gunakan untuk belajar dan selalu hadir ke sekolah. Usahanya selama dua minggu ternyata membuahkan hasil. Buktinya, nilai ulangan harian Fisikanya 93, nilai tertinggi kedua di kelasnya.

Nilai Aruna yang tinggi tidak menjamin kondisinya tetap stabil. Ini adalah hari ketiga dirinya dirawat di rumah sakit. Sudah tiga hari dirinya berstatus izin dari sekolah. Jika besok Aruna tidak hadir, maka hari ini di akan dinyatakan alfa dan pastinya akan di-drop out dari sekolah.

Aruna memandangi tubuhnya yang terbaring lemah. Bagian tubuhnya sudah banyak lebam. Dia pikir tidak melakukan hemodialisis selama enam kali dirinya akan baik-baik saja seperti nilai Fisikanya. Nyatanya justru berbanding balik.

“Aruna ga usah ke sekolah yah, sayang?” Subuh-subuh ini Mama bangun melihat Aruna yang terlihat bangun lebih awal dari biasanya.

“Ga bisa, nanti Aruna alfa. Tau kan konsekuensinya kalau Aruna alfa?” Tanya Aruna sambil bangun dari brankar. Dirinya akan mandi terlebih dahulu agar tiba di sekolah terlihat lebih segar.

“Tapi kondisi kamu belum baik, sayang? Dokter Dian pasti belum izinkan,” kata Gita terus menasihati putrinya.

” Mama bikin surat sakit aja, yah?”

“Non Mam, please?” kata Aruna memohon. “Lagian Aruna selalu bawa obat. Jadi, kalau nanti sakitnya kambuh, Aruna makan obatnya. Gimana?”

Melihat putrinya yang begitu ambis,dengan pasrah Gita menganggukkan kepalanya.

Kelas XII IPA-5 hari ini cukup tenang, damai, dan tentram. Hari ini, mereka akan mengerjakan ulangan harian Matematika yang dibawakan oleh ibu Julea.

Sebelum memulai ulangan, Ibu Julea terlebih dahulu mengecek kehadiran siswanya.

“Aruna Purnama Sari!” sebut ibu Julea.

“Aruna,” Ibu Julea kembali memanggil nama Aruna saat tak mendapatkan sahutan.

“Aruna ga hadir lagi?” Tanya ibu Julea saat melihat bangku Aruna yang kosong.

“Iya Bu, Aruna belum hadir,” jawab siswi yang duduk di bangku paling depan.

“Betul betul yah itu Aruna, sudah dikasih peringatan bukannya sadar diri, malah ngelunjak,” kata ibu Julea geleng-geleng kepala. Tangannya akan bergerak mencoret nama Aruna. Tetapi, pulpennya berhenti di udara saat suara dari arah pintu menarik perhatiannya.

“Permisi, Ibu. Maaf saya terlambat,” kata Aruna dengan napas yang tersengal-sengal.

“Aruna, masuk!” Tegas Ibu Julea.

Sambil mengatur napasnya, Aruna berjalan memasuki kelasnya.

“Ke mana saja kamu selama tiga hari ini?” Tanya Ibu Julea murka.

“Maaf Bu,” kata Aruna sambil menundukkan kepalanya.

“Tolong jelaskan, Aruna!”

“Kalau saya jelaskan, apa kalian semua akan percaya? Saya rasa tidak,” kata Aruna sambil tersenyum.

“Bagaimana kita bisa percaya, kalau kamu saja tidak mengatakannya,” jawab Ibu Julea dengan kesal.

“Bisa kamu jelaskan, Aruna?” kata Ibu Julea saat melihat Aruna terdiam.

Aruna menarik napasnya pelan, lalu kembali menghembusnya.

“Selama tiga hari saya tidak masuk karena-“ Aruna menatap seisi kelasnya. Saat ingin melanjutkan ucapannya tubuh Aruna tiba-tiba lemas.

Sial, hari ini memang ada jadwal Aruna untuk melakukan hemodialisis.

“Karena apa, Aruna?” Tanya Ibu Julea tak sabaran.

“Karena Aruna, selama ini di—“

Bruk!

Tubuh Aruna ambruk begitu saja di depan Ibu Julea dan teman-temannya.

“Alah si beban lagi drama, geng!” kata salah satu siswa.

“Aruna!” Ibu Julea menepuk-nepuk pipi Aruna, berharap Aruna baik-baik saja.

“Lagi drama itu, Bu. Udah biarin ajah, Bu…” sahut salah satu siswa lagi.

Ibu Julea terus berusaha menyadarkan Aruna. Tetapi, Aruna tidak kunjung sadar. Hingga mata Ibu Julea menangkap banyak lebam di arah leher Aruna. Saat menyingkap seragam Aruna, bagian lengannya juga menampakkan banyak lebam.

“Fadil, cepat ke ruang guru, panggil mereka!”

“Ta-“

“Jangan banyak bicara, Fadil. Cepat!”

Usai insiden Aruna yang tiba-tiba pingsan, para guru langsung membawa Aruna ke rumah sakit usai menelepon orang tua Aruna. Semua teman-teman kelas Aruna menunggu penjelasan dari ibu Intan yang tinggal mengawasi mereka.

Ibu Intan memandang anak IPA-5 terlebih dahulu sebelum membuka suara.

“Aruna mengalami penyakit gagal ginjal,” ucap Ibu Intan.

Semua teman kelas Aruna membulatkan matanya mendengar ucapan singkat dari Ibu Intan. Mereka tidak menyangka bahwa Aruna yang menjadi korban bully mereka ternyata mengidap gagal ginjal.

“Aruna sudah lebih setahun mengalami gagal ginjal. Turunnya nilai Aruna serta minimnya kehadiran Aruna di sekolah, semua karena dirinya mengidap penyakit ginjal. Aruna harus rutin melakukan hemodialisis setiap minggu. Bahkan, dua minggu yang lalu, Aruna tidak hadir karena kondisinya drop. Hari ini, pihak rumah sakit belum memberi izin Aruna untuk sekolah. Tetapi, Aruna bersikeras untuk ke sekolah. Bila Aruna tidak hadir hari ini, dia akan dinyatakan alfa. Tau kan kalau Aruna sekali alfa?” Ibu Dian kembali menatap siswanya lekat-lekat. 

Satu per satu di antara mereka mulai menyesali perbuatannya selama ini terhadap Aruna.

“Aruna tidak pernah mengatakan kepada pihak sekolah bahwa dirinya sakit. Saat jadwal hemodialisisnya bertabrakan dengan jam sekolah, dia membuat surat izin dengan segala macam alasan. Bahkan, dirinya rela alfa. Kalian tahu kenapa Aruna melakukan semua itu?” Tanya Ibu Intan dan dibalas gelengan oleh para siswa.

“Karena Aruna tidak ingin kalian tahu tentang penyakitnya. Aruna tidak mau jika kalian khawatir terhadap dirinya. Aruna tidak ingin membebani kalian dengan penyakit yang dideritanya.”

Semua siswa IPA-5 menunduk lesu mendengar ucapan Ibu Intan yang panjang. Bahkan, ada yang terang-terangan menangis mendengar cerita Ibu Intan.

Mereka menyesal. Sangat menyesal atas perbuatannya selama ini terhadap Aruna. Mereka bahkan sudah setahun lebih mem-bully Aruna. Mereka selalu mengolok-olok Aruna, mencaci-maki Aruna, dan Aruna selalu membalasnya dengan senyuman. Ternyata, senyuman yang Aruna tampakkan hanyalah senyuman palsu. Di balik senyum palsunya, ada seribu luka yang Aruna tutupi. 

(Visited 182 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *