Oleh: Andi Raka

Di sebuah kota sederhana, kisah Yuda dan Nur dimulai pada tahun 2012. Saat itu, mereka masih sangat muda. Dua hati yang belum tahu ke mana arah akan membawa, tapi entah kenapa selalu saling menemukan jalan pulang.

Yuda jatuh cinta pada hal-hal kecil dari Nur. Cara dia tertawa tanpa beban, cara dia menyemangati di saat dunia terasa berat, dan bagaimana dia selalu percaya bahwa masa depan akan baik-baik saja selama mereka bersama.

Perjalanan 14 tahun bukan hal yang mudah. Mereka tumbuh bersama, bertengkar, berpisah sebentar, lalu kembali lagi. Ada masa di mana keadaan hampir memisahkan, ketika jarak, kesibukan, dan masalah hidup datang silih berganti. Tapi setiap kali hampir menyerah, mereka selalu memilih untuk bertahan.

“Kalau bukan kamu, aku tidak mau siapa-siapa,” ucap Yuda suatu malam di tahun-tahun sulit itu.

Nur menjawab dengan senyum, “Kita perjuangkan sampai akhir.”

Waktu berjalan. Tahun demi tahun berlalu. Hingga akhirnya, di tahun 2026, janji itu benar-benar ditepati. Yuda dan Nur berdiri di pelaminan, mengenakan senyum paling bahagia yang pernah mereka miliki. Tangis haru keluarga mengiringi. Semua orang tahu, ini bukan sekadar pernikahan, ini adalah akhir dari penantian panjang dan awal dari kehidupan yang mereka impikan bersama.

Hari itu, dunia terasa sempurna.

Namun takdir memiliki cara yang tak selalu bisa dimengerti.

Dua minggu setelah hari bahagia itu, Nur tiba-tiba jatuh sakit. Tidak ada yang menyangka semuanya akan berubah secepat itu. Rumah yang baru saja dipenuhi tawa, kini dipenuhi doa.

Di samping tempat tidurnya, Yuda menggenggam tangan Nur erat, seakan takut waktu akan benar-benar mengambilnya.

“Aku di sini… jangan pergi dulu,” bisiknya dengan suara yang bergetar.

Nur tersenyum lemah, tetap dengan kehangatan yang sama seperti pertama kali mereka bertemu.

“Kita sudah sampai… kamu harus kuat ya,” katanya pelan.

Dan hari itu pun tiba.

Nur, perempuan yang telah bersama Yuda selama 14 tahun, yang telah menjadi rumah, alasan bertahan, dan mimpi yang diperjuangkan, dipanggil lebih dulu oleh Allah SWT.

Dunia Yuda seakan runtuh. Tapi di tengah luka yang dalam, ia menyadari satu hal, cinta mereka tidak berakhir di pelaminan, juga tidak berakhir di perpisahan.

Cinta itu tetap hidup.

Dalam kenangan, dalam doa, dalam setiap langkah yang ia lanjutkan sendirian.

Setiap kali ia merindukan Nur, Yuda menengadah.

Karena kini ia tahu, orang yang paling ia cintai tidak benar-benar pergi. Ia hanya menunggu di tempat yang lebih indah.

Dan suatu hari nanti, mereka akan dipertemukan kembali.

Bukan sebagai dua remaja yang saling jatuh cinta,
tapi sebagai dua jiwa yang telah menyelesaikan perjalanan panjangnya…
dan akhirnya bersatu untuk selamanya.

(Visited 42 times, 42 visits today)
Avatar photo

By Andi Raka

Namaku Andi Raka. Lahir di Bulukumba, 30 Oktober 2009.Aku dikenal sebagai pelajar yang aktif berprestasi di bidang seni dan kepemudaan. Selain berkarya dalam dunia puisi dan literasi, Aku juga aktif dalam organisasi. Menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Divisi Public Relation Kata Pelajar Indonesia Batch 4, serta pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua OSIM MTs Guppi Mattirowalie pada tahun 2023. Bagi Aku, organisasi bukan sekadar jabatan, tetapi ruang belajar tentang tanggung jawab, komunikasi, dan kepemimpinan. Di bidang sastra, perjalananku dipenuhi pencapaian. Meraih Juara II Lomba Baca Puisi di Kampus Al-Gazali Bulukumba (2022), Juara I Cipta dan Baca Puisi MTsN 6 Bulukumba (2024), Juara I Lomba Puisi Pramuka SMK Negeri 2 Bulukumba (2025), Juara I Puisi SMK Techno Terapan Makassar (2025), serta Juara I Lomba Puisi Halo Penyair Batch 8. Tidak hanya di bidang sastra, ia juga meraih Juara Umum dan Medali Emas pada Kompetisi Olimpiade Sains Indonesia jenjang SMA/SMK/Sederajat bidang Pengetahuan Umum tahun 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *