Oleh: Inara Askanah Supriadi*

Di salah satu Kompleks perumahan sederhana Kabupaten Kolaka Utara, Aku, ayah, ibu, dan adikku bernama Azlan, di situlah kami tinggal bersama keluarga kecilku. Ayahku seorang pelaut dan ibuku seorang ASN di salah satu Instansi Pemerintahan di Kolaka Utara.

Suatu hari kami berkumpul bersama teman-temanku yang ada di kompleks perumahan, temanku banyak yang bilang bahwa pahlawan itu adalah mereka yang telah gugur di medan perang. Tapi bagiku, pahlawan sejatiku ada di dalam keluargaku, dia adalah ayahku sendiri. Ayahku adalah seorang pelaut, pejuang tangguh yang rela mengarungi samudra, menantang ombak, dan menahan rindu demi memastikan kebahagiaan serta kesejahteraan keluarganya di darat.

Menjadi seorang ayah sekaligus pelaut adalah tantangan besar yang menuntut kesabaran, keteguhan, dan ketulusan. Meski sering jauh dari keluarganya , ayahku tetap memiliki tanggung jawab untuk membimbing aku dan adikku dalam kebaikan. Dengan bekal doa, cinta, dan tanggung jawab, seorang ayah dapat terus menjadi inspirasi bagiku dan adikku Azlan.

Setiap kali ayahku pamit untuk pergi berlayar, hatiku terasa sesak, rumah kami terasa kehilangan tiang penyangganya. Bukan karena ayahku tidak ada, tapi karena suara tawa, kecerian, gurauan bersama ayah, ibu, aku dan adikku Azlan yang seakan memecah keheningan rumah hilang terbawa angin setelah keberangkatan ayahku.

Ayahku lebih banyak menghabiskan waktunya di tengah samudra. Ditengah derunya ombak, pekatnya malam ditengah laut yang sangat asing , ayahku terkadang menghabiskan waktunya berbulan-bulan, bahkan tahun, jauh dari ibu, aku dan adikku demi mencari nafkah.

Ayah hanya seorang pelaut biasa dengan kulit yang legam terbakar matahari dan tangan yang kasar karena memegang kemudi. Namun, bagi aku dan Azlan, ayah adalah

pahlawan yang tidak memakai jubah dan pedang. Dia hanya memakai sepatu bot karet yang tebal dan rompi pelampung yang sudah memudar warnanya. Dia tidak melawan penjahat super; tapi melawan ombak setinggi rumah di tengah malam buta saat kami semua tertidur lelap.

Perjuangan menahan rindu, berkomunikasi terbatas, dan hanya mengandalkan teknologi untuk tetap terhubung dengan ayahku terkadang jaringan pun kurang bagus untuk video call dengannya, sehingga kamipun sering gagal berkomunikasi dengan ayah.

Ketika masih kecil aku dan adikku Azlan tidak mengerti, kenapa ayah tidak bisa pulang setiap hari seperti ayah teman-temanku.

Malam itu Azlan menghampiriku , “Kak, apa Ayah sedang melawan monster laut sekarang?” tanya Azlan, sambil memegang erat ujung bajuku.

Aku tersenyum, meski di dalam hatiku, akupun merasa rindu yang sama. “Bukan melawan monster adik.” Ayah sedang melawan ombak besar ditengah laut demi kita.” Jawabku.

Seiring pertumbuhanku ayahku sering kali melewatkan momen penting aku yang dibutuhkan anak seusiaku bersama sang ayah, seperti ulang tahunku, ulang tahun Azlan, momen jika aku tampil diajang suatu perlombaan, baik di sekolah maupun di luar sekolah begitupun saat penerimaan raport dan hari raya. Tak seperti ayah pada umumnya, aku hanya bisa bertemu ayah paling cepat enam bulan sekali. Kalau ayah pulang kebersamaan kami serasa sangatlah singkat, biasanya hanya satu bulan.

Namun setelah umurku 10 tahun dan adikku berumur 5 tahun, kami kini mulai paham jika pekerjaan seorang pelaut memaksa ayah untuk tidak pulang setiap hari. Di setiap momen kepulangan ayah, aku sangat senang dan menyambutnya dengan penuh kegembiraan.

Aku biasanya dibawa ayah bermain mengelilingi kompleks perumahan, pergi ke pusat perbelanjaan, tempat-tempat rekreasi atau pantai. Di sisi lain menjelang ayah pergi untuk berlayar menjadi momen paling berat.

Walau hal itu sudah aku pahami tetap saja masih ada perasaan berat di hatiku untuk melepas kepergiannya . Sebab di waktu itulah ayah pergi bekerja berbulan-bulan, terkadang tak bisa memberi kabar. Hal itulah membuat aku marah dan mengunci kamar setiap kali ayah hendak pergi lagi berlayar. Ayah dan ibu pun mencoba menenangkan dan membujuk aku untuk keluar kamar supaya bisa berpamitan. Egoku masih tinggi sehingga aku tak mau keluar, bahkan menangis karena tak mau ayah pergi. “Sabar ya nak, Ayah mungkin tak lama

berlayar, ayah akan cepat pulang, belajar dengan baik ya nak,” ungkap Ayah.

Aku pun hanya mengangguk seraya berharap semoga ayah bisa pulang secepatnya dan benar-benar bisa terus dekat dengan keluarga.

Dan kebiasaan buruk itu lambat laun sudah mulai hilang. Aku sudah agak dewasa dan mencoba tegar untuk melihat ayah pergi berlayar kembali. Aku menyadari makna pahlawannya ketika aku beranjak dewasa. Aku melihat tangan ayah kasar, pecah-pecah, dan penuh dengan bekas luka kecil. Itu bukan luka perang, itu adalah tanda kerja keras.

Setiap rupiah yang dikirimkannya adalah bukti bahwa ayah rela menukar hari-harinya, dengan ulang tahunku, ulang tahun adikku, momen jika aku tampil diajang suatu perlombaan baik di sekolah maupun di luar sekolah begitupun saat penerimaan raport dan lain-lainnya. Dia melewatkan banyak momen manis di daratan, mengubur rasa rindu di bawah dek kapal, hanya agar kami bisa memiliki masa depan yang lebih cerah. Baginya, ombak bukan rintangan, melainkan jalan untuk membawa pulang harapan.

Bagiku, dia adalah pahlawan yang mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, melainkan dibuktikan dengan keteguhan hati untuk tidak pernah menyerah demi orang-orang yang dicintai, I Love ayahku engkau adalah pahlawan sejatiku.

*Penulis adalah Siswi SDN 4 Lasusua

(Visited 17 times, 17 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *