Oleh: Adit Anugrah Pratama
Malam itu sunyi. Lampu jalan memantulkan cahaya samar, dan langkah seorang anak muda terdengar pelan di trotoar yang dingin. Tubuhnya tampak buram, seolah bayangan yang tak pernah benar-benar nyata. Ia berjalan tanpa arah, seakan hanya ingin melupakan segala hal yang mengganjal di dadanya.
Ada sesuatu yang berat di hatinya, sesuatu yang bahkan tak mampu ia ceritakan pada siapa pun. Tentang rindu yang menggantung, tentang perasaan yang tak pernah tersampaikan, dan tentang luka yang perlahan-lahan ia sembunyikan di balik senyum palsu.
Di kepalanya, bayangan seseorang selalu hadir. Ia mencoba melupakan, namun semakin keras ia berusaha, semakin dalam pula kenangan itu mengikatnya. Setiap tawa yang dulu pernah ia dengar kini hanya menjadi gema, setiap janji yang dulu terucap kini hanyalah abu yang terbawa angin.
Malam semakin larut. Jalan yang ia tapaki terasa lebih panjang dari biasanya. Ia menunduk, menatap kakinya sendiri, sambil bertanya: “Kenapa semua harus begini? Kenapa rasa yang tulus harus berakhir tanpa jawaban?”
Namun, di balik semua itu, ia tahu satu hal. Bahwa seburam apa pun dirinya malam ini, hidup akan terus berjalan. Dan meski ia merasa hilang arah, suatu hari nanti ia akan menemukan jalan pulang—jalan yang membuatnya kembali merasa utuh.
“Kadang kita harus menerima kenyataan bahwa beberapa cerita tak ditakdirkan untuk selesai dengan indah, tapi dari situlah kita belajar berdiri lebih kuat.”
Watansoppeng, 3 Oktober 2025
