Oleh: Aprilla Harlina
Lelah. Itulah yang kurasakan saat ini. Setelah dihadapkan dengan berbagai tugas rumah sakit dan berbagai macam tingkah laku pasien, rasanya aku ingin segera pulang dan merebahkan diri di atas kasur. Namun begitu, aku masih harus mengerjakan beberapa asket. Aku mendengus napas berat membayangkannya.
“Semangat, Sus. Lancar-lancar terus kerjaannya.”
Aku diam, namun memberikan senyum kecil kepada seseorang yang mengucapkan kalimat itu. Ada sedikit rasa kesal karena yang kubutuhkan bukanlah semangat, tetapi sepotong kasur dengan selimut dan bantal guling, kemudian merebahkan diri dan berkemul. Ahh, sepertinya sangat nikmat sekali. Toh, aku sudah merasa… sangat… lelah… seka—
“Sus, besok ada jadwal kontrol di cabang rumah sakit kita yang di Malaysia. Kamu pergi ke sana ya sekarang, karena pasiennya ingin dilayani oleh kamu.”
Lagi dan lagi aku mesti menjawab.
“Baik, Dok. Saya akan pergi ke sana sekarang.”
“Baiklah. Setelah itu kamu lanjut selesaikan asket ya, Sus. Setelah selesai, kamu bisa ambil cuti untuk istirahat di rumah,” ucap dokter sambil berlalu pergi.
Ahh, andai aku bisa seperti dokter itu, tinggal menyuruh bawahannya untuk mengerjakan tugas. Tapi tidak, dokter itu juga teramat sibuk. Selepas berbicara denganku, ia langsung sibuk telepon sambil berjalan, sambil melayani dengan ramah orang-orang yang bertanya kepadanya, dan sambil mencatat apa yang ia dengar dari seberang telepon. Oh, ternyata bukan aku saja yang lelah. Semestinya aku bersyukur atas keadaanku hari ini, di mana orang-orang mendambakan untuk memperoleh pekerjaan yang sulit didapat di era sekarang ini.
Aku memesan tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan sore ini. Toh, aku harus datang sebelum pasienku tiba esok hari. Setelah memesan tiket pesawat, aku segera pulang dan menyortir barang-barang yang akan kubawa selama di sana. Seperti biasa, dua koper: satu untuk perlengkapan, satu lagi untuk peralatan medis. Stres memang, tapi ketika aku mengingat cuti seusai pekerjaan ini, aku jadi semangat lagi.
Kepulanganku ke Indonesia kuhiasi dengan senyuman. Asket yang ditugaskan telah kuselesaikan dengan baik sambil melayani pasien kontrol dan memanfaatkan waktu luang. Ditambah aku sudah menikmati sedikit perjalanan selama di sana, pikiranku menjadi lebih rileks. Aku telah membayangkan akan tidur di atas kasur seharian penuh. Ahh, nikmat yang mana lagi bisa kudustakan?
“Baik, Sus. Asketnya sudah selesai dengan baik. Sekarang ambillah cuti. Atau jika ingin, bisa menjadwalkan cuti tahunan…”
“Tidak, Dok. Saya ambil cuti sekarang, tidak apa-apa.” Aku menampilkan senyum yang begitu lebar kepada dokter. Sepertinya dokter merasakan apa yang kurasakan sehingga ia juga tersenyum lebar, lalu pergi lagi sambil menelepon dan mencatat, mengevaluasi.
Dengan segera aku pulang ke rumah. Aku menikmati setiap langkah ketika sampai di depan rumah. Aku membuka pintu lalu menutupnya lagi. Berjalan ke arah kamar dan tersenyum bahagia ke arah sesuatu seperti melihat kekasih yang telah lama hilang. Oh, kasur yang nyaman. Sudah lama aku tidak merasakan hangatnya kasurku ini. Wopp! Aku melompat ke atas kasur dan mulai berkemul dengan selimutku yang hangat.
Sesaat setelah aku merasakan hangatnya kasurku, aku yakin aku masih sadar sepenuhnya. Sebab setelah itu, aku mendengar suara seperti berdesing dari luar. Karena penasaran, aku pergi untuk melihat apa yang terjadi. Ada cahaya yang bersinar dari balik meja belajarku. Aku pikir itu hanya lampu dari desain rumahku yang memang terdapat lampu di dinding bawahnya, tapi cahaya itu terlalu besar. Aku takut. Aku ingin mundur dan kembali ke kamar, tetapi entah kenapa kakiku seperti memaksa berjalan ke arahnya. Dengan perlahan, aku menarik meja belajarku itu, kemudian membiarkan cahaya itu menyilaukan mataku.
Seketika pandanganku silau. Posisi tanganku masih di wajah, bak menghalangi terjangan badai, saat ada seorang anak kecil melihatku dengan terheran-heran.
“Kakak kenapa?” tanyanya.
Aku diam sambil memperbaiki posisiku dan langsung menatap sekitar. Kurasa tadi aku ada di rumah, lalu kenapa sekarang aku berada di tengah lapangan?
“Kakak perawat ya?” ucap anak kecil tadi sambil menyentuh bajuku. Benar juga, tadi aku belum sempat mengganti baju dan langsung melompat ke kasur. Tapi pertanyaan dalam hatiku sekarang: ini di mana?
Rasanya aku mengenali lapangan ini dan… anak kecil ini. Kucoba telusuri ingatanku. Aku melihat sekeliling dan tertuju pada sebuah kedai. Kedai itu memiliki terpal yang terlihat masih baru. Eh, bukan terpalnya maksudku. Penulisan tahun pada terpal itu terlihat masih baru dan… hah?
“Kakak tersesat ya? Biar aku bantu antar. Rumah kakak di mana?” anak kecil tadi seketika membuyarkan pikiranku. Benar saja, ini adalah…
“Kamu, Hari, kan?” tanyaku.
Ia tersontak kaget dan bilang, “Kok kakak tahu nama aku?”
Pikiranku ternyata benar sebab aku yakin ini tidak asing bagiku. Pemandangan yang kulihat bukanlah omong kosong atau sekadar khayalan dari bacaanku selama ini. Seketika aku menarik tangan anak kecil itu untuk menjauh dari kerumunan. Setelah dirasa tidak ada orang-orang, aku berhenti dan memulai berbicara.
“Aku akan mengenalkan diri,” ucapku terengah-engah.
“Ihh, kakak ngapain sih tarik-tarik aku? Dan ngapain kita di sini, di gang sempit?” ucapnya.
Aku menunduk dan bersiap seperti ingin memberi kejutan.
“Aku Hari, Hari masa depan!!” ucapku penuh kemenangan.
Anak kecil itu merasa heran lalu sesaat kemudian memegang tanganku dan bersorak kegirangan.
“Ini aku masa depan? Aku beneran jadi perawat? Horee!!” Kami berlonjak kegirangan seperti tidak memiliki tata krama.
“Kamu nggak takut?” tanyaku memastikan.
“Ngapain juga aku takut, toh aku lagi ngomong sama aku masa depan, dan jadi kakak perawat!” ia mengucap itu dengan mata yang berbinar-binar.
“Hahaha, iya, selamat ya. Kamu hebat,” ucapku kepada anak kecil ini.
“Pasti seru kan, Kak? Ketemu banyak orang, apalagi melihat pasien yang sembuh. Pasti aku senang kan, Kak?” tanyanya lagi.
“Pastinya dong. Kan kita hebat,” aku berucap sambil memamerkan lenganku yang sedikit berisi bak bintang pegulat hebat.
“Waaah, kalau begitu aku nggak usah belajar lagi, karena aku di masa depan kan udah jadi perawat.”
Aku terdiam mendengar ucapan itu lalu kembali ke posisi seriusku.
“Nggak boleh gitu. Justru karena kamu rajin belajar makanya kamu bisa jadi perawat.”
“Tapi aku kan udah jadi perawat, dan aku udah tahu.”
“Nggak, nggak gitu. Kalau kamu nggak belajar sekarang, nanti aku malah dipecat,” ucapku sedikit ketus.
“Oh iya juga ya. Eh, tapi kalau aku tahu sekarang, jangan-jangan nanti kamu bakal diangkat jadi dokter,” ucapnya menebak-nebak.
“Ya, tidak mungkinlah. Perawat ya perawat, dokter ya dokter, beda tingkatan pendidikannya,” ucapku menjelaskan sebisaku.
Ia bingung, namun setelah itu mengangguk-angguk. Sepertinya di usia ini aku memang masih sangat polos. Aku yakin, jika aku ditanya berapa hasil dari 2×2 pasti akan kujawab 6. Tapi, aku sedikit bersyukur karena aku bisa merasakan bangga kepada diriku sendiri. Toh, setelah aku wisuda dan bekerja, tidak ada orang yang mau mendengarkan ceritaku.
“Oh iya, tadi kamu habis darimana? Kok baju kamu bagus banget?”
“Oh, tadi aku habis jalan-jalan sama Mama Papa. Ihh, kamu kan aku besar, masa nggak ingat aku ngapain sekarang?” ucapnya runtut.
“Jalan-jalan ya? Bagus deh.” Nada bicaraku menurun, kehilangan minat.
“Oh iya, kalau Mama Papa di masa depan gimana? Apa masih sering ajak aku jalan-jalan?”
Aku diam.
“…atau kamu yang ngajak mereka jalan-jalan? Benar juga, nanti aku bakal cerita ke mereka kalau aku ketemu aku yang udah jadi perawat…”
“Jangan!” ucapku. Ia langsung terdiam tidak melanjutkan kalimatnya, lalu berkata lagi.
“Emangnya kenapa? Kok nggak boleh?” ucapnya sambil melihat ke arah wajahku.
Aku masih terdiam, memikirkan bagaimana cara menjelaskan hal itu padanya.
“Nanti kalau kamu kasih tahu, namanya bukan kejutan lagi. Seolah-olah kamu udah tahu dan cita-cita kamu nggak penting untuk diperjuangkan,” ucapku dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Ia memundurkan badannya, dan melihatku dengan tatapan aneh. Aku melihat ke dalam matanya dan merasakan sedikit takut.
“Oh, iya benar. Aku mau kembali ke masa depan. Eh, di mana tadi ya?” Aku yakin situasiku sangat jengkel saat itu. Kemudian aku menoleh ke belakang, terlihat ia masih menatapku. Sorot matanya terlihat antara penasaran dan kecewa menatapku. Aku segera berlari menuju lapangan tadi. Saat aku berlari, entah kenapa rasanya gang itu seperti amat panjang, tidak seperti saat aku mengajaknya berlari menjauh dari keramaian.
“Kak,” ia memegang tanganku. Aku sedikit mundur dan mengibaskan tanganku karena sedikit takut.
“Kakak cari cahaya itu kan? Kakak nggak bakal menemukannya sebelum kakak selesai jawab pertanyaan aku.”
Aku menjadi semakin takut. Ingin berlari, tapi seolah-olah aku hanya berlari di tempat ditambah lagi ia yang masih memegang tanganku. Baiklah, aku pasrah. Sepertinya aku mesti berhadapan dengan pertanyaannya.
“Apakah kau paham apa itu privasi?” ucapku dengan suara yang sedikit tegas.
“Tapi kan kakak adalah aku, privasi kakak berarti privasiku juga.”
Pikirku, aku di usia ini tidak begitu bodoh, tapi kenapa…
“Kenapa kakak seolah-olah takut pas aku nanya tentang Mama dan Papa? Apa aku berbuat kesalahan sama Mama dan Papa?” tanyanya.
Aku diam memikirkan bagaimana kalimat terbaik yang mesti kusampaikan. Tidak mungkin jika kukatakan bahwa Mama dan Papa bercerai, dan sudah memiliki keluarga masing-masing. Jujur aku yang sekarang kecewa terhadap Mama dan Papa. Tapi setelah kupikir lagi, aku bisa menggapai cita-citaku menjadi perawat justru karena ingin pembuktian untuk Mama dan Papa. Bahwa aku bisa dan layak untuk hidup bahagia walaupun tanpa dukungan dari mereka. Aku masih diam untuk memikirkan bagaimana menjelaskan kepada anak kecil yang masih amat polos ini.
“Kak?” ucapnya kembali dengan mata yang masih menyorot tajam, namun mata itu kali ini menyiratkan harapan.
Aku mendengus napas perlahan-lahan. Menyunggingkan senyum kecil seperti saat aku membohongi diri kepada para pasien dan juga dokter yang percaya kepadaku bahwa aku dipandang layak dalam memenuhi tugas.
“Nggak gitu kok. Mama dan Papa baik-baik saja. Cuma ada sedikit masalah kecil, tapi semuanya udah selesai. Kamu tenang aja. Kenapa juga kamu kepo sama urusan orang dewasa,” ucapku meyakinkan sambil menjitak kepala kecil itu hingga ia mundur perlahan.
“Habisnya tadi kakak lari kayak ada masalah serius!!” ucapnya marah karena kepalanya yang habis kujitak. Aku tersenyum lega karena telah berhasil meyakinkan diriku. Cahaya itu mulai muncul, dan ini saatnya aku kembali. Aku melangkah ke arah cahaya itu dengan perasaan yang lega dan gagah berani.
“Aku pasti bakal jadi lebih hebat buat aku sendiri!” ucap anak kecil itu.
Aku berbalik dan mengatakan, “Tentu, harus itu. Jangan lupa belajar lebih rajin lagi biar aku bisa jadi dokter ya!” ucapku dengan setengah teriak, karena aku yakin jarakku sudah sangat jauh. Aku melihat diriku yang masih kecil, yang memegang boneka beruang cokelat. Mata polos nan berbinar yang kumiliki dahulu itu terlihat sedikit berharap dan tersenyum senang melepas kepergianku kembali ke masa depan.
Aku terbangun dengan sedikit terkejut, ternyata yang kualami tadi hanya mimpi. Haiih, aku kira itu benar-benar terjadi. Tapi aku merasa ingin membuat dialog tambahan:
Aku kecil: “Apakah aku bakal benar-benar menggapai cita-citaku jadi seorang perawat?”
Aku besar: “Ya. Tapi asal kamu tahu, bakal ada hal-hal yang membuat kamu mundur. Tapi jangan sampai hal itu membuat kamu nyerah.”
Aku kecil: “Maksudnya, Kak?”
Aku sedikit tersenyum kecil penuh kesombongan, lalu berjalan ke arah cahaya.
Aku besar: “Pokoknya, apa pun mimpi kamu bakal aku lindungi. Selalu. Meskipun begitu, kamu harus siap bahwa ada harga yang harus kamu bayar.”
Wajah aku kecil terlihat seperti ingin bertanya namun urung karena aku telah pergi jauh dengan cahaya itu. Aku merasa sangat keren karena telah menyampaikan perkataan yang selama ini ingin aku ceritakan kepada seseorang. Dan, aku telah menyampaikannya kepada seseorang yang tepat.
Haiih, seharusnya aku berpikir untuk menulis perasaan itu selama ini. Toh, tidak akan ada yang menghakimi. Kali ini aku merasa lega dan melanjutkan tidurku yang tertunda. Aku tersenyum terhadap foto keluarga yang berada di atas meja. Seperti senyuman lepas yang kumiliki saat berada di foto itu, aku menutup mata untuk tidur, kemudian kembali bergumul dengan selimutku yang hangat.
