Karya : Revan Febriansyah
Pernah kita berlari di tepi pasir, manari diatas ombak dengan nyanyian kicauan burung, mengejar bayang senja seolah waktu tak akan usai. Tawamu menari bersama ombak
dan aku…diam-diam jatuh cinta pada caramu mencintai dunia
Kau bukan hanya seseorang, kau adalah musim semi di antara kemarau panjangku
seperti mawar hitam yang tumbuh di tanah retak. Langka, ganjil, namun memikat hingga membuatku lupa luka
Aku mencintaimu dalam diam yang riuh, dalam tawa yang mengandung tangis, dan dalam peluk yang tahu bahwa segala yang erat, suatu hari akan longgar.
Hari itu kau menatapku dengan mata yang tak ingin pergi, tapi dunia tak selalu memihak pada yang saling memilih.
Kita tidak kalah, hanya selesai.
Kita tak musnah, hanya tak bisa lagi saling menggenggam.
Kini, aku biarkan kau melangkah tanpa aku,
dengan langkah ringan yang pernah kuiringi.
Dan meski hati ini retak seperti kaca jatuh pelan,
aku tahu, sorai bukan tentang kehilangan,
melainkan perayaan atas cinta yang pernah begitu utuh.
Jadi pergilah dengan senyum yang dulu kucintai,
biarlah kenangan kita menjadi lagu pengantar tidur langit, dan jika suatu hari dunia membawamu kembali, aku akan menunggu mu di tepi pasir yang sama, dengan hati yang tak lagi luka, tapi tetap ingat bagaimana rasanya bahagia.
