Oleh : Nayla Syabina Syalsyabila

BAGIAN 2
TERNYATA BUKAN AKU

Di saat hari kelulusan, kau pergi menemuiku dan berkata bahwa kau akan pergi dan berjanji untuk tidak akan meninggalkanku.

“Na…Saya mau bicara.”

“Iya kak, ada apa?”

“Saya akan SMA di luar kota, apa tidak masalah?”

“Pergilah jika memang kakak mau, jangan hiraukan saya. Saya akan baik-baik saja./”

“Kamu tenang saja, saya tidak akan meninggalkanmu, kamu akan selalu menjadi tujuan utama ketika saya kembali nanti.”

“Iya kak.”

Ia melangkah menjauh dariku dengan senyum peneduh miliknya sembari melambaikan kedua tangannya seakan memintaku untuk menunggunya kembali.

Memang benar, perihal perkataan tentang jangan terlalu percaya dengan ucapan seorang pria, bahkan setelah ia bersumpah sekalipun ia akan tetap ingkar akan hal itu. Dia juga melakukan hal yang serupa, ketika ia berjanji untuk tidak akan menggantiku dengan yang lain ia malah melakukan hal sebaliknya. Ia membiarkan orang lain datang merusak segala bentuk warna dalam hatinya yang sudah kuukir susah payah. Ia bahkan mengganti tahtaku dan membiarkan wanita itu mengambil alih dunianya. Ia pergi tanpa pamit, tidak bersuara, dan tanpa penjelasan kata.

Tak masalah bagiku jika kau hanya sekedar pergi sebentar, tak masalah jika kita sudah tak lagi bertukar cerita, sungguh tak apa. Namun, apa yang kau lakukan? Membiarkanku sendirian dengan sejuta kenangan? Atau membunuhku secara perlahan dengan taktik tak masuk akal? Awalnya aku masih tetap menyukaimu walau kita berada di ujung garis pemisah. Namun, setelah kudapati kau bertemu wanita itu, aku mulai membencimu. Aku benci keadaan ini, aku tak suka kau yang seperti ini, yang tiba-tiba menghilang dan memiliki wanita lain. Di mana janjimu? Apakah semua hanya omong kosong saja? Ataukah diri ini yang terlalu mudah percaya dengan kata rayumu?

Jujur setelah mengetahui semuanya, duniaku kembali kelabu. Tidak ada warna biru atau pun merah jambu. Kala itu tidak ada lagi orang baru. Aku benar-benar menutup diriku dari orang- orang yang berusaha untuk mendekat. Sulit bagiku untuk melupakanmu. Sudah kupijakkan kedua kaki ini sampai ke tanah Jawa bahkan Kalimantan. Namun, tetap saja aku tidak bisa menghilangkanmu. Bahkan aku sempat berpikir untuk mengukir sayatan di kedua lenganku. Di saat sedang menangis selalu saja aku menjambak dan memukuli diriku sendiri, yang akan menimbulkan lebam di kulitku. Hampir setiap malam kuhabiskan dengan berpikir “,Aapakah 2 tahun adalah waktu yang sebentar? Apakah 2 tahun bisa hilang hanya karena kenal 2 minggu?

Kala itu wanita yang telah merebut hal istimewa dari hidupku datang menemuiku. Sebut saja Zeeya.

“Eh lo Senna ya?!!”

“Iya, maaf siapa ya?”

“Kenalin gue Zeeya, pacarnya Juan.”

“Oh iya.”

“Gue yakin lo pasti paham maksud gue dateng kesini. Ga usah ganggu Juan lagi. Dia udah punya gue. Paham!”

“Maaf ya, saya tidak pernah mengganggu Juan. Juan saja yang selalu datang”.

“Terserahlah apa pun itu. Pokoknya, mulai sekarang jauhi Juan! Awas aja kalau gue tau lo masih ngedeketin Juan.”

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *