Oleh : Neza Marcelina*

Malam itu, seorang siswi SMA duduk sambil menatap kosong ke arah depan. Ia membuang pandangannya menembus batas cakrawala, tapi tidak menemukan sketsa apa-apa di sana. Sangat hening dan sejuk Namun, tidak dengan kepalanya.

Dalam kepalanya ia memikirkan banyak hal. Lantas ia berdecak kesal. Ia benci dengan kehidupannya yang sangat hampa. Ia kesal dengan siklus kehidupannya yang miskin makna.
Ia menginginkan lebih walaupun hanya sekedar bersenang-senang bersama teman menikmati pelangi warna-warni.

Nampaknya gadis sederhana yang beranjak remaja itu tidak pernah berhenti memproduksi kebingungan. Ia terus bingung dan mulai bertanya dalam hati, apakah aku memiliki seorang teman?

Mengingat itu lagi-lagi ia berdecak kesal. Baginya, ia tidak memiliki seorang teman yang bisa berbagi cerita. Ia dikenal π˜ͺ𝘯𝘡𝘳𝘰𝘷𝘦𝘳𝘡 dan sangat malas berbasa-basi. Mungkin karena itu dia tidak mendapatkan teman. Padahal di kelas ia termasuk murid yang pintar.

Saat di kelas ia merasa memiliki teman tetapi itu hanya di dalam kelas, beda cerita kalau di luar kelas. Ia merasa hanya dimanfaatkan, bukan dihargai. Bukannya ia tidak bisa mencari teman, tetapi suatu hari ia pernah berusaha bergaul dengan seseorang. Memulai percakapan dengan fresh. Namun, ia mendapatkan respon yang kurang.

Sejak itulah, ia malas untuk memulai percakapan duluan sampai saat ini. Ia merasa gagal bersosialisasi, hingga bisa jadi membawanya kepada kondisi stress.

Kini ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mendapatkan seorang teman. Ia hanya bisa berdoa semoga ia bisa menemukan seorang teman yang 𝘴𝘦𝘧𝘳𝘦𝘬𝘢𝘦𝘯𝘴π˜ͺ dengannya. Entah, ia tidak tahu kapan itu terjadi. Hening dan sejuk, tetapi lain di kepalaku.

*Siswi SMAN 1 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman

(Visited 22 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *