Oleh: Adit Anugrah Pratama

Di sudut sebuah kafe bernama Brewmore, seorang remaja duduk diam di atas sofa biru. Matanya menatap kosong ke arah dinding, seakan mencari jawaban yang tak pernah datang.

Tempat itu ramai oleh tawa dan obrolan orang-orang, tapi baginya semuanya hanya terdengar samar. Yang ia rasakan hanyalah hampa. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak bisa ia ceritakan bahkan pada dirinya sendiri.

Ia ingat, dulu setiap tawa selalu terasa ringan. Dulu, setiap cerita selalu penuh warna. Tapi kini, seolah semua berubah. Entah karena kehilangan, entah karena rindu yang tak pernah tersampaikan.

Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu hanya sekadar formalitas—tak pernah benar-benar sampai ke hati. Di tengah keramaian, ia merasa sendirian. Duduk di sana, ia sadar bahwa kadang galau bukan hanya soal cinta, tapi juga soal diri sendiri yang bingung mencari arah.

Namun di balik segala kegelisahan itu, ada secercah keyakinan kecil. Bahwa meski sekarang terasa berat, meski dunia seakan tidak berpihak, suatu hari nanti ia akan bangkit.

“Hidup tidak selalu tentang siapa yang tetap tinggal, tapi tentang bagaimana kita berdiri tegak meski ditinggalkan.”

Watansoppeng, 3 Oktober 2025

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *