Oleh: Adit Anugrah Pratama
Di sebuah ruang sederhana dengan dinding putih bersih, seorang anak muda duduk dengan tegak di kursi abu-abu. Balutan jas hitam membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya. Di sampingnya, berdiri dua piala emas, bukti nyata dari perjalanan yang penuh perjuangan. Di dadanya melingkar selempang berwarna cerah: Duta Pendidikan Sulawesi Selatan Barat 2025.
Sejenak ia memandang kosong ke depan. Namun di balik sorot matanya, ada banyak cerita yang sedang ia rangkai. Baginya, pendidikan bukan sekadar ruang kelas dengan papan tulis dan buku catatan. Pendidikan adalah jembatan menuju masa depan. Ia percaya, dari pendidikanlah lahir generasi yang berani bermimpi, berani berusaha, dan berani mengubah dunia.
“Bagaimana nasib pendidikan di Sulselbar nanti?” pikirnya dalam hati. Pertanyaan itu tak pernah berhenti berputar di benaknya. Sebagai seorang duta, ia tahu bahwa gelar itu bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah. Ia ingin setiap anak di pelosok, dari desa terpencil hingga kota besar mendapat kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan meraih mimpi mereka.
Harapannya sederhana tapi besar: sekolah yang ramah bagi semua anak, guru yang dihargai bukan hanya karena profesinya tetapi karena dedikasi dan pengabdiannya, serta lingkungan belajar yang tidak sekadar mengajarkan angka dan huruf, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter.
Ia membayangkan masa depan di mana anak-anak tidak lagi putus sekolah karena jarak atau biaya. Ia ingin melihat perpustakaan desa penuh dengan buku, laboratorium sekolah terisi peralatan memadai, dan kelas yang dipenuhi tawa siswa yang semangat belajar.
Tapi ia tahu, semua itu tidak bisa terwujud hanya dengan kata-kata. Harus ada aksi, langkah kecil yang konsisten, dan kerja bersama. Sebagai Duta Pendidikan, ia bertekad untuk menjadi suara bagi yang belum terdengar, menjadi cahaya bagi mereka yang hampir menyerah, dan menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah hak, bukan hadiah.
Hari itu, sebelum meninggalkan ruang foto, ia tersenyum kecil sambil memandang selempang yang melingkar di dadanya. Bukan rasa sombong yang ia rasakan, melainkan tekad yang makin kuat. Ia sadar, jalan ini panjang, penuh rintangan, tapi juga penuh harapan.
Dan di dalam hatinya, ia berjanji:
“Aku akan menjaga api ini tetap menyala. Karena masa depan bangsa ada di tangan generasi yang berpendidikan. Dan aku ingin menjadi bagian dari cahaya itu.”
* Penulis adalah Ru-5 Duta Pendidikan Sulselbar 2025
