Oleh: Adit Anugrah Pratama
Suasana di Panakukang Square Mall terasa berbeda. Hari itu adalah momen talent show, di mana seluruh finalis menampilkan bakat terbaik mereka sebagai bagian dari penilaian. Sebagai juri, aku duduk dengan penuh tanggung jawab, menyaksikan satu per satu finalis menunjukkan kemampuan mereka—mulai dari tari tradisional, tarik suara, hingga penampilan seni lainnya. Meski hanya sehari sebelum malam puncak, semangat mereka tetap menyala dan penuh totalitas. Melihat mereka tampil, aku teringat bagaimana rasanya berdiri di posisi yang sama: gugup, tapi ingin memberikan yang terbaik. Talent show itu bukan sekadar unjuk bakat, melainkan bukti kesiapan mereka menuju Grand Final.
Malam itu aku semakin yakin, bahwa panggung bukan hanya tempat untuk bersinar, tetapi tempat untuk bertumbuh. Karena sejatinya, bakat akan membawa kita tampil, tetapi karakterlah yang membuat kita bertahan. Dan seperti kata emas yang selalu kupegang, “Kesempatan adalah anugrah terbesar”.
