Oleh: Adit Anugrah Pratama

Langkah ini bukanlah langkah pertama dalam perjalananku, melainkan langkah kedua yang sarat makna. Pada langkah pertama, aku pernah berdiri membawa nama Kabupaten Soppeng, daerah yang menjadi awal mimpiku tumbuh. Kini, pada langkah kedua, aku kembali melangkah dengan tanggung jawab yang lebih besar mewakili Provinsi Sulawesi Selatan, provinsi yang kucintai dan kubanggakan sepenuh hati.

Perjalanan ini tak pernah kutempuh sendiri. Ada keluarga yang setia menguatkan lewat doa, teman-teman yang selalu hadir dengan semangat, serta seluruh masyarakat Sulawesi Selatan yang memberikan dukungan tanpa lelah. Terima kasihku mungkin tak akan pernah cukup, namun sungguh, setiap pesan, doa, dan harapan menjadi tenaga yang menguatkanku di setiap langkah.

Hari pertama karantina menjadi awal dari cerita indah ini. Kami memulainya dengan sesi photoshoot mengenakan busana wastra, simbol kekayaan budaya yang kami bawa dari daerah masing-masing. Di hari itu pula kami belajar table miner atau lebih dikenal dengan cara makan, cara duduk, serta etika membawa diri pelajaran sederhana namun sangat penting bagi seorang duta. Kami juga menyampaikan speech, memperkenalkan daerah kami, dan saat itulah aku kembali mengucapkan nama Sulawesi Selatan dengan penuh kebanggaan.

Hari kedua karantina tak kalah berkesan. Kami mengikuti parade nasional kostum, dan aku mengangkat kostum TAU TAU dari Tanah Toraja. Busana itu bukan sekadar pakaian, melainkan representasi dari kekayaan budaya Toraja yang dikenal sangat megah, kuat, dan penuh makna. Melangkah dengan kostum itu membuatku merasa sedang membawa cerita leluhur dan identitas budaya Sulawesi Selatan ke hadapan banyak mata.

Di sela-sela seluruh proses karantina, aku mendapatkan kawan-kawan barudatang dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda, namun disatukan oleh mimpi dan semangat yang sama. Tawa, lelah, dan perjuangan kami terjalin menjadi kenangan yang akan selalu kusimpan.

Malam grand final pun tiba. Bertempat di Mall Kuningan tepatnya di Glitz Insclusive Jakarta, sorotan lampu dan tepuk tangan memenuhi ruangan. Banyak tamu hadir menyaksikan malam puncak itu. Meski pada malam tersebut aku belum bisa meraih posisi winner, hatiku tetap penuh rasa syukur dan bangga. Aku berhasil meraih Runner-Up Lima dan Best Favorite Duta Lingkungan Indonesia adalah sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa usaha, doa, dan ketulusan tak pernah sia-sia.

Perjalanan ini belum berakhir saat panggung ditinggalkan. Setelah lomba usai, namaku hadir di berbagai pemberitaan di kabupaten dan kota asalku. Melihat itu semua, aku merasa sangat bangga bukan karena sorotan, melainkan karena aku tahu, langkah kecilku telah membawa kebanggaan bagi daerah yang kucintai.

Dari Kabupaten Soppeng hingga Provinsi Sulawesi Selatan, dari langkah pertama hingga langkah kedua aku akan terus melangkah. Membawa budaya, harapan, dan rasa cinta untuk Sulawesi Selatan, ke mana pun jalan ini membawaku.

Untuk anak muda di luar sana, jangan takut bermimpi besar meski berasal dari daerah kecil. Jangan ragu melangkah meski belum sempurna. Setiap proses, setiap jatuh dan bangkit, adalah bagian dari cerita hebat yang sedang kalian tulis. Percayalah, selama kalian berani mencoba, menjaga integritas, dan mencintai asal daerah kalian, suatu hari langkah kalian pun akan sampai pada panggung yang membanggakan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang kalian cintai.

Watansoppeng,16 Desember 2025

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *