Oleh: Suci Angraini
Di kelas IPA 1 sedang tak belajar atau bisa disebut jam kosong. Ada yang bernyanyi dan joget-joget tak jelas, ada yang membaca buku, ada yang bermain handphone, ada yang bergosip, dan juga ada yang tertidur.
Sesaat kemudian ada guru laki-laki yang masuk dengan murid perempuan di belakangnya.
“Assalamualaikum,” Guru itu memberi salam saat sudah memasuki kelas IPA 1.
“Wa’alaikumsalam pak,” jawab murid serempak yang ada di dalam kelas tersebut.
Kelas IPA 1 yang tadinya rusuh, sekarang sudah hening dan yang tadinya bernyanyi dan joget-joget tak jelas sudah kembali ke tempat duduk masing-masing.
“Hari ini kita kedatangan murid baru. Mari masuk nak dan perkenalkan dirimu,” ucap guru itu kepada murid baru di belakangnya. Baiklah, guru itu adalah guru sejarah, dan guru itu bernama Martin dan biasa di panggil pak Mart.
“Perkenalkan nama gw Canaya Berliana, panggil aja Naya,” ucap murid baru itu memperkenalkan diri dengan wajah datarnya.
“Wouh namanya estetik.”
“Manisnya ya ampun, walaupun nggak senyum sih.”
“Bening amat.”
“Walaupun gw cewe, gw akui dia itu manis.”
“Wah ..wah jodoh gua ini.”
“Mukanya kok mirip sama si Senja yah.”
“Mangsa gua nambah nih.”
“Nomor WhatsAppnya berapa cantik?”
“Nga salah lagi gua, ini mah selebgram terkenal itu.”
Begitulah ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut siswa maupun siswi kelas IPA 1.
“Sudah-sudah, kalian ini berisik sekali,” tegur Pak Mart.
“Yaelah pak, mana bisa kita diam kalau ngeliat cewe cantik pak, apalagi cewe cantiknya udah di depan mata,” ucap salah satu siswa yang bernama Xander.
“Nah betul tuh pak,” ucap siswa yang bernama Anjas menyahuti.
“Ck, bisa diam nggak sih!” bentak siswi yang sedari tadi diam memainkan handphonenya.
“Murid Baru doang kok diributin, kayak nggak pernah liat cewe cantik aja lu pada!” bentak siswi itu lagi.
Pak Mart tidak berani menyahuti karena pak Mart tau apa yang akan terjadi jika ada yang menyela ucapan gadis itu, begitu pun dengan siswa dan siswi di kelas IPA 1.
“Lu murid baru, duduk deket gua!” ucap siswi itu masih dengan nada membentak.
“Oke” ucap Naya singkat.
“Fuck, gitu kek dari tadi,” umpat siswi itu.
Tak ada yang berani mengeluarkan suara. Mereka merasa murid baru itu beruntung karena bisa mendapatkan tempat duduk di samping siswi bad girl itu, karena tak pernah ada yang berani mendudukinya dengan alasan tak ada yang berani dan siswi bad girl itu selalu tak suka jika ada yang duduk di sampingnya.
“Naya” ucapnya seraya mengulurkan tangannya kepada siswi bad girl.
“Gua Abela Senja, lu bisa panggil gua apa aja,” ucap Senja. Yah siswi bad girl itu bernama Abela Senja atau kerap disapa Senja.
“Haii Naya, nama aku Clarissa Tamara panggil aja Ica, aku sahabatnya Senja,” ucapnya mengulurkan tangan.
“Bacot,” saut Senja tanpa berperasaan.
“Ihhh kok kamu gitu sih., rengek Ica
“Naya,” ucap Naya menerima uluran tangan Ica dengan senyum tipis.
Penampilan Canaya berbeda jauh dari penampilan Senja. Yah bisa dibilang penampilan Naya seperti good girl, berbeda dari Senja yang berpenampilan bad girl.
Sepertinya ada satu kesamaan di antara Senja dan murid baru itu. Senja dan Naya bisa di bilang memiliki sifat yang sama-sama dingin.
“Jaja ke kantin yok,” ajak Ica.
“Jaja siapa Ca?” tanya Naya.
“Jaja itu Senja, Ica suka panggil Senja dengan panggilan Jaja, dan cuman Ica yang bisa panggil Senja itu Jaja, yang lain mah nggak berani,” ucap Ica menyombongkan diri.
“Ouh gitu yah,” ucap Naya.
“Jaja ayo ke kantin, Ica laper”, rengek Ica kepada Senja.
“Haih pergi sendiri bisa nggak sih Ca?” bentak Senja.
Mata Ica berkaca-kaca mendengar bentakan dari Senja. Naya yang melihat Ica hampir menangis berusaha menenangkan Ica agar tak menangis.
“Huh ya udah ayo,” ucap Senja mengalah. Senja tak bisa berlama-lama marah kepada Ica.
“Yes ayo cepetan!” seru Ica girang.
“Gua boleh ikut?” tanya Naya dengan wajah datarnya.
“Hmm,” jawab Senja dengan wajah tak kalah datar.
“Yeay Naya ikut.” Ica sangat kegirangan karena mendapatkan teman baru.
Ica, Naya, dan Senja berjalan menuju kantin. Ica tak henti-hentinya berbicara, sedangkan Senja dan Naya hanya mendengarkan walaupun mereka tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Ica.
Saat hendak memasuki kantin, tiba-tiba ada siswa yang berlari kencan dan tak sengaja menabrak Naya hingga membuat Naya terpental ke belakang. Naya meringis kesakitan.
Senja menatap tajam orang yang menabrak Naya, sedangkan yang ditatap pun hanya nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Ih kok Dodo gitu sih, gara-gara Dodo Naya jadi jatuh kan, jahat banget sih,” omel Ica.
Ica memang suka memanggil sahabatnya dengan nama panggilan yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Ica tidak peduli nama panggilan darinya itu di sukai oleh sahabatnya atau tidak, yang penting Ica suka nama itu.
“Bantuin dia!” perintah Senja dengan wajah tanpa ekspresi andalannya.
“Iya-iya,” ucap Aldo. Yah, siswa yang tak sengaja menabrak Naya itu bernama Aldo Kenandra. Aldo adalah anak dari kepala sekolah sekaligus anak dari pemilik sekolah SMA Trisatya. SMA Trisatya adalah sekolah yang sedang Aldo, Ica, Naya, dan Senja, tempati bersekolah.
Aldo menghampiri Naya yang masih terduduk di lantai, sesampainya Aldo di hadapan Naya, Aldo langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Naya berdiri, Naya tak menerima uluran tangan dari Aldo.
Naya menipis kasar tangan Aldo.
“Nggak butuh!” Ucapnya Naya lalu berdiri.
Aldo diam mematung. Baru kali ini seorang Aldo Kenandra ditolak mentah-mentah oleh seorang cewe.
“Minggir!” Ucap Naya tanpa ekspresi.
Karena Aldo tidak merespon Naya pun sengaja menabrak bahu Aldo dengan kencang, dan berlalu begitu saja.
“Naya tungguu!” Teriak Ica dengan suara cemprengnya.
“Ihhh Naya kok tinggalin kita, Jaja ayo kita susul Naya.” ucapnya sebal
“Hmm,” dehem Senja.
Aldo melirik punggung Naya dan kedua sahabatnya yang mulai menjauh dari pandangannya.
“Menarik,” gumam Aldo dengan senyum yang aneh.
