Oleh : Arga Ayu Kumala
Terkadang kita menganggap salah nasihat yang diberikan misalnya saat dimarahi kalau kita lalai dalam melaksanakan tugas. Padahal kita hanya dinasihati supaya lebih bagus lagi dalam bertindak atau lebih bijak lagi dalam menerapkan suatu gagasan atau ide. Seharusnya kita bangga karena bapak dan ibu guru peduli dengan kita.
Coba kalau bapak dan ibu guru tidak peduli, mungkin mereka hanya akan membiarkan begitu saja apa yang kita lakukan sehingga kita tidak bisa tahu di mana letak kekurangan dan kesalahan dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pelajar. Kita terkadang tidak bisa menerima kalau dimarahi bapak dan ibu guru. Namun, kita harus sadar bahwa selama berada di lingkungan sekolah, kita adalah tanggung jawab bapak dan ibu guru, beda lagi kalau sudah di luar lingkungan sekolah.
Bapak dan ibu guru pasti mengharapkan anak didiknya kelak menjadi anak-anak yang sukses, yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. Begitu pun harapan orang tua kita. Meskipun saya sendiri juga baru dalam tahap belajar untuk bisa meraih dan menggapai mimpi itu.
Nasihat itu demi kebaikan kita juga, supaya bisa menjadi pelajar yang disiplin. Walaupun kita ditegur bapak dan ibu guru, mungkin ada peraturan yang kita langgar di sekolah, misalnya masih jam pelajaran kita malah di luar dan sebagainya. Tidak mungkin kan kalau kita tidak melanggar peraturan sekolah kita ditegur.
Menurut aku, nasihat dan teguran itu berbeda. Kalau nasihat, merupakan arahan dan bimbingan untuk lebih baik lagi, kalau teguran supaya kita tidak melakukan atau mengulangi kesalahan lagi. Mari teman-teman jangan kita salah artikan ketika ada orang yang menasihati kita. Semua itu adalah untuk kebaikan bersama.
Tidak ada kok nasihat yang tidak baik. Kalau ada, bukan nasihat itu namanya tapi pembodohan. Masak sih nasihat kok tidak baik.
Mari kita saling ingat mengingatkan dalam kebaikan.
Jangan lelah selalu berbuat baik, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Watansoppeng, 6 November 2022
