Oleh : Jusnia Paseba

“Menyerah bukan solusi terbaik untuk kamu yang ingin terus maju”

~The Avengers

1. Sebuah Keluarga

Malam ini The Avengers kembali mengibarkan bendera perang. Ini bukan pertama kalinya mereka lakukan,tapi adalah kesekian kalinya mereka lakukan, The Avengers jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Penuntut Balas  yang memiliki makna ‘Siapapun berani tuntut kita,kita akan balas, biar mereka rasakan bagaimana rasanya di tuntut ini dan itu.

“KITA GA BUAT LOH KAYAK GINI! KALAU BUKAN LOH YANG GANGGUIN KITA!” Kata ketua The Avengers lalu meninggalkan area perang itu.

Usai mengibarkan bendera perangnya alias menumbangkan geng lawannya mereka kembali membelah jalan ibu kota. Kendaraan yang sudah tidak padat membuat mereka lancar jaya untuk kembali menuju ke basecamp nya.

Ini bukanlah hanya sebuah geng tapi ini adalah sebuah keluarga yang mana di bangun untuk mempererat tali persaudaraan mereka, menolong orang yang membutuhkan,dan menumbangkan orang-orang yang terlalu banyak aturannya.

Mereka tidak akan mengganggu geng lain jika bukan mereka yang dulu mengusiknya. Salah satu dari mereka mempunyai satu prinsip ‘Sekali loh usik kita,maka selamanya kita ga buat loh tenang’ prinsip itu selalu dia tegaskan kepada geng lawan yang berani-beraninya mengganggu kehidupan mereka.

“THE AVENGERS,”  teriakan leader  nya saat mereka memasuki basecamp nya.

Mendengar itu sontak para anggotanya menjawab, “Respect us  then we will protect you,” jawab mereka serempak sambil mengepalkan tangannya ke udara,gaya dan slogan yang sudah menjadi ciri khas The Avengers.

“Ini bukan akhir dari semuanya,jangan pernah berfikir bahwa pertarungan malam ini membuat mereka menyerah,” kata orang itu memperingati. Dia adalah Naufal Aydin Abraham ketua geng The Avengers sekaligus pendiri geng The Avengers. Naufal  dengan sikap keras kepalanya dan tidak ingin ada orang mencampuri hak nya. ‘apa pun yang bersangkutan sama gue itu berarti hak gue,dan loh,jangan pernah campuri.’

“Mereka tetaplah mereka yang selalu ingin hancurin geng kita,” sahut salah anggota geng, dia adalah Rafly inti dari The Avengers. Rafly Dewantara dengan segala sikap dinginnya tidak suka bertele-tele dan sekalinya jatuh dia tetap jatuh dan tidak tahu bagaimana cara bangkit. ‘gue jatuh karena loh maka gue juga harus bangkit karena loh,tapi kalau loh pergi itu tandanya gue bakalan tetap jatuh dan tenggelam bersama dengan luka yang loh tinggalin.’

“Intinya loh semua tetap hati-hati,karena mereka selalu siap siaga ngibarin bendera perang,” kata Fakhrul pada anggotanya, “gue mau balik dulu,loh semua habis ini harus balik. Besok senin jangan ada yang bolos upacara,gue ga mau dengar nama loh pada di sebut sama anak OSIS, karena loh pada terlambat,” pesan Naufal lalu masuk kedalam mobilnya.

The Avengers terdiri dari empat puluh lima anggota,lima anggota inti yang diisi oleh Naufal sebagai ketua dan empat diantaranya ada Fathur,Bintang,Rafly dan juga Baron. Jika tempur mereka selalu menggunakan motor untuk mengibarkan bendera perang, namun selain itu mereka selalu menggunakan mobil sangat jarang menggunakan motor karena mereka sangat jarang tempur,hanya ada tempur dadakan seperti mereka disekap persimpangan jalan misalnya. 

Tidak semua dari mereka menggunakan kendaraan roda empat ada juga yang menggunakan motor tapi,hampir semua dari mereka menggunakan mobil kalau kata Baron ‘berbeda dari yang lain itu menyenangkan kawan, tapi jangan sok beda kalau loh ga mampu.’

Kata ‘balik’ dari Naufa  itu bukan kembali ke rumahnya,melainkan ke bangunan gedung putih yang hampir tiga tahun selalu menjadi tempat kewajibannya.

“Sekarang sudah jam berapa, Naufal?” Kata perempuan itu dengan stetoskop sudah melingkar manis di lehernya.

“Kurang lima menit jam 12 belas,” jawab Naufal sembari melirik pergelangan tangannya.

“Kenapa kamu ga langsung balik ke rumah,” kata perempuan itu dengan nada Khawatir.

“Mama sendiri kenapa ga balik? Jam kerja Mama udah selesai kan?” Bukannya menjawab Naufal  justru balik bertanya.

Wanita yang menyandang status sebagai dokter itu,dia adalah Faizah ibunda Naufal.

Mendengar pertanyaan anak sulung nya Faizah menarik sudut bibirnya,”Mama habis jenguk Puput.”

Nama itu, nama itu lah menjadi alasan Naufal selalu ke rumah sakit selama tiga tahun belakangan.

“Keadaan Puput gimana Ma?” Hari ini Naufal absen dalam menjenguk adiknya dikarenakan harus mengurus geng nya dulu.

Mendengar itu Faizah hanya menggeleng, sudah sebulan keadaan Puput tak kunjung membaik,dan sudah sebulan pula gadis itu menutup rapat-rapat matanya,dia terlalu betah dengan koma nya sampai lupa bagaimana untuk bangkit.

Puput satu-satunya adik Naufal yang sekarang menderita penyakit kanker sudah tiga tahun Puput mengidap penyakit kanker dan sudah tiga tahun pula dia menjadikan rumah sakit ini sebagai rumah nya.

Naufal meringis pelan mengingat adiknya di usia yang terbilang sangat mudah dia harus kandas untuk mengejar cita-cita nya.

“Kalau ada waktu besok balik sekolah Naufal kesini lagi,” kata pria itu bangkit dari duduknya.

“Sebelum jam satu Mama harus balik ke rumah. Tubuh Mama butuh istirahat,” sambung Naufal kembali lalu melangkah menuju lift.

Faizah memandangi kepergian anaknya, saat ini hanya ada Naufal yang menemaninya,peri kecilnya sedang berjuang untuk kembali mendapatkan kehidupan dunia.

Dengan langkah pelan Naufal  memasuki rumahnya. Rumah ini sudah sunyi sejak tiga tahun yang lalu.

Sudah tidak ada Puput yang selalu banyak bawel, sudah tidak ada Mama yang balik tepat waktu karena sekarang Mama terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk menjaga Puput, dan sudah tidak sosok Ayah yang selalu mengajarinya bagaimana arti tanggung jawab yang sebenarnya.

Naufal sudah kehilangan sosok Ayah sejak tiga tahun yang lalu. Saat Puput sudah berjuang mati-matian untuk melawan penyakitnya, Naufal kira Ayah nya selalu ada untuk Puput namu ternyata pria justru itu main perempuan di belakang keluarganya. Kepergian ayahnya–abraham dari rumah membuat kondisi Puput bertambah buruk dan hal itu membuat Naufal sangat membenci pria itu.

Dan ternyata waktu berputar begitu cepat, firasat nya baru tadi malam mereka berkumpul di basecamp sekarang mereka kembali berkumpul di area parkir sekolah.

“Pak ketua akhirnya datang juga,” kata Baron yang sedang duduk di kap mobil Fathur. Baron atau Bahrian Alfarizi inti dari The Avengers, Baron dengan segala sikap kekocakannya. ‘hidup itu ga usah serius-serius amat, ada kala nya kita main-main dengan dunia tipu-tipu.

“Ya iyalah, emang loh yang kerja nya molor mulu,” sahut Fathur dari arah belakang. Fathurrahman Bramantyo inti The Avengers, Fathur dengan sikap kejam nya sama seperti Fakhrul.  ‘gue bakalan ajak loh main main dulu biar loh tau gimana artinya hujan tanpa tetesan air’.

“Gini-gini gue gak pernah telat upacara yah.”

“Kalau upacara emang loh ga pernah telat,tapi apa kabar sama absen kelas loh?” Mereka memang kadang-kadang bolos belajar, dan memilih makan di kantin, kecuali Bintang Pradipta laki-laki itu absennya bersih dan jangan ragukan dengan otaknya. Bintang sering dijuluki dengan sebutan ‘kesayangan guru.’

“Udah cukup Bintang ajah yang absennya bersih,gue ga usah, nanti Bu guru terpikat kalau absen gue bersih,” kata Baron bodoh amat.

“Bos jadi upacara ga nih?” Tanya Baron pada Naufal,berharap Naufal menggeleng agar mereka tidak ikut upacara.

“Jadi. Jangan ada yang bolos ke kantin pojokan, atau loh semua ga bakalan pernah ikut bolos jam pelajaran,” kata Naufal tegas. 

Bagi Naufal upacara bendera sangat berharga karena itu adalah bentuk peringatan bahwa ternyata kita telah merdeka. Itulah sebabnya dia tidak mau jika teman geng nya bolos. Kalau bolos pelajaran yah itu beda lagi karena beberapa anggota geng nya suka bolos, terkecuali dengan Fakhrul,Rafly dan Bintang.

“Diberitahukan kepada seluruh siswa dan siswi SMA Netra Tangkas untuk sekiranya segera merapatkan dirinya ke barisan kelas masing-masing”

Monitor bel sekolah seolah-olah menyuruh mereka untuk segera meninggalkan parkiran itu.

Lima inti The Avengers itu segera mencari barisan kelasnya Baron yang berada di barisan kelas XI Bahasa 2 lalu keempatnya berada di barisan kelas XI IPA 3 atau dikenal dengan kelas gudang cogan,bagaimana tidak kelas yang berisi 22 siswa itu dihuni oleh 12 anggota The Avengers dan anggota inti juga berada di dalam kelas itu, ada juga 5 siswa laki laki yang ketampanannya di rata-rata, maka beruntunglah lima perempuan itu yang menghuni IPA 3.

“Tuhan mengapa aku berbeda,” kata Baron saat temannya hendak belok berbaris ke kelasnya.

“Beda apa?” jawab Naufal  heran.

“Beda kelas Fal.”

“Yeh itu mah loh sendiri yang bego. Udah tau kita milih masuk IPA, loh kenapa milih masuk Bahasa?” Tanya Fathur sembari geleng-geleng.

“Berbeda itu menyenangkan kawand,” katanya lalu beranjak ke arah kelasnya.

“Aneh banget teman loh,tadi dia bilang kenapa dia berbeda dari yang lain, giliran di jawab malah bilang ‘berbeda dari yang lain itu menyenangkan kawan,” kata Bintang heran melihat tingkah Baron.

“Teman loh Tur, bukan teman gue,” kata Rafly lalu menyusul Naufal ke barisan.

“Sa ae luh maimunah,” jawab Fathur kesal.

Di bawah terik matahari yang begitu panas, semua siswa-siswi SMA Netra Tangkas mengucapkan janji siswa dengan lantang. Menit ini mengucapkan tapi kita tidak tahu menit berikutnya bagaimana.

Tepat janji siswa usai ucapkan, salah satu siswa ambruk di barisan.

“WOI PINGSAN WOI!” suara itu sangat familiar di telinga anak anak The Avengers,dan arah suara itu juga sangat tidak asing. XI Bahasa 2.

Semua anak anak membuat kerumunan melingkari sang korban. The Avengers berdecak sebal melihatnya, bukannya membawa ke UKS mereka malah mengobatinya di barisan.

“Awas,minggir,” kata Naufal masuk ke arah lingkaran.

Tanpa aba-aba  Naufal dengan cepat mengangkat tubuh lemah gadis itu.

“Pungut atributnya Ron,terus antar ke UKS,” kata Naufal pada Baron sebelum dia pergi membawa tubuh lemah gadis itu.

Sebenarnya Naufal  tidak kenal siapa perempuan itu, dan dia juga sepertinya tidak pernah ketemu. Namun Naufal sangat geram dengan teman-teman sekolahnya yang tidak segera membawa perempuan itu ke UKS.

Perlakukan Naufal barusan sontak membuat mereka melongo, kenapa bisa seorang Naufal bisa sebaik ini, dan lebih parahnya lagi mereka tidak pernah melihat Naufal dekat dengan gadis itu.

“Woi PMR! Buruan loh obatin,” teriak Naufal ke arah anggota PMR.

“Siap kak,” jawabnya dengan kepala menunduk.

Saat melihat anggota PMR mulai membantu perempuan itu sadar, Naufal dengan segera meninggalkan UKS dan kembali menuju ke barisannya.

“Tadi itu beneran loh Fal?” Itu adalah pertanyaan Fathur yang menyerang Naufal.

“Emang loh pikir itu Baron?”

“Yah enggak sih, tapi demi apa?”

“Sila kedua.”

“Tang,sila kedua bunyinya apa?” Kata Fathur menyenggol siku Bintang.

“Pulang loh sono ke SD. Pancasila ajah ga tau,” bukan Bintang yang jawab melainkan Rafly seraya menoyor kepalanya.

“KDRT mulu loh.”

Obrolan mereka ditutup dengan suara pemimpin upacara yang membubarkan barisan.

“WOI!WOI! Gila gila,tadi beneran pak ketua tuh yang bantuin teman kelas gue?” Sahut Baron bergabung di tengah-tengah mereka.

“Ga usah teriak juga nyet! Kuping udah sakit nih dengar kepala sekolah ngoceh mulu,” sahut Fathur seraya menggosok kedua kupingnya.

“Ye maaf. Tapi, ada gerangan apa sih kawand,” kata Baron sambil merangkul Fahkrul.

“Gerangan apaan sih Ron?”

“Cihuy perdana nih loh nolongin siswi di Smanet,” SMANET merupakan singkatan dari sekolahnya ‘SMA Netra Tangkas”

“Ga usah mikir aneh-aneh deh loh. Emang loh teman kelasnya pingsan bukannya diangkat malah diliat-liatin.”

“Yah maaf, nama nya juga kaget,” niat mengganggu malah kena semprotan.

“Udah deh loh ke kelas loh sono,” usir Naufal  pada Baron. 

“Galak amat loh pak ketu. Eh brother gue ke kelas gue dulu yah! Kalau mau bolos jangan lupa ajakin woy,” kata Baron sedikit berteriak lalu pergi meninggalkan mereka.

Melihat itu temannya hanya menggeleng, otak Baron memang rada gesrek.

Di sinilah mereka di dalam kelas yang berpenghuni 22 nyawa. Bel masuk sudah bunyi sejak 5 menit yang lalu, namun bel pelajaran dimulai belum bunyi itu tandanya mereka masih bisa menggunakan waktu itu untuk baca buku.

(Bersambung)

(Visited 28 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *