Oleh : Jusnia Paseba

 Inti The Avengers

Bahrian Alfarizi

Woi woi! Lo pada ga bolos?

Bintang mendengus kesal melihat notif grub nya yang berisi ajakan kawannya. 

Bintang atau Bintang Azfaregar Inti dari The Avengers,Bintang dengan otak nya encernya yang selalu bisa menguasai pelajaran bidang studi apapun itu, lelaki yang mendapatkan predikat kesayangan guru. ‘Pintar itu tidak harus jadi juara kelas karena sukses seseorang tergantung pada kemampuannya sendiri.’

Fathurrahman Bramantyo

Gak ada bolos hari untuk hari ini.

Bahrian Alfarizi

Dih kesambet apa loh?

Naufal Aydin Abraham

Guru kesayangan Fathur masuk.

Bintang Azfaregar

Ibu Adin masuk, biasalah guru idola Fathur.

Fathurrahman Bramantyo

Ya Allah gusti fans gue pada memanggil,ada gerangan apa sih kawand. Gue terjangin yah loh Bin kalau ganggu Bu guru kesayangan gue!

Bahrian Alfarizi

Bu Adin siapa sih?

Rafly Dewantara

Guru matematika.

Bahrian Alfarizi

Lah guru matematika gue namanya pak Abdul.

Fathurrahman Bramantyo

Loh lupa Ron? Kita beda jurusan yah jelas lah guru kita beda.

Rafly Dewantara

Anak Bahasa diam! Guru matematika kita mau lewat nih!

Fathurrahman Bramantyo

Sleberrr…!

Bintang Azfaregar

Handphone loh buruan masukin laci,gue sama Bu Adin otw kelas. 

Melihat itu sontak ketiga temannya langsung memasukkan hp nya ke dalam laci,cari aman dari pada kena omelan. Beruntunglah Bintang dapat panggilan mengambil buku paket di meja Bu Adin jadinya ada yang memberi info jika Bu guru sedang menuju ke kelas.

Di lain tempat Baron sedang pusing memikirkan siapa sih Bu Adin itu? Sepertinya cantik sampai Rafly saja ikut nimbrung membahasa guru itu. Tak mau ambil pusing Baron bertanya kepada wanita di depannya.

“Cici! Woi!” Kata Baron seraya menusuk pundak perempuan itu dengan pulpen.

“Apa sih Ron? Ngapain lagi? Tip-X? Nih gue kasi loh,” semprot gadis itu yang bernametag Citra Lucianty.

“Astaga, Cici peka banget sih loh! Tapi ini gue mau nanya bukan mau pinjam tip-X.

Mendengar itu sontak Cici membalikkan badannya menghadap badannya ke Baron.

“Apa? Mau nanya apa?”

“Loh kenal Bu Adin? Guru matematika anak IPA.”

“Oh Bu Adin? Ibu cantik itu kan?”

“Bu cantik? Loh kenal?” Tanya Baron dengan tingkat kepo nya.

“Yah kenal lah. Buset cantik banget gila.”

“Serius loh? Kapan masuk nya?”

“Yeh mana gue tau dia kapan masuk. Tapi gue dengar dia angkatan kemarin yang habis wisuda. Gimana ga cantik dapat gelar sarjana ajah belum setahun.”

“Jadi maksud loh dia masih mudah banget gitu? Masih kayak Mahasiswa?”

“Yah masih mudah lah, orang gue udah bilang kalau dia belum setahun dapat gelar sarjana. Ada gerangan apa sih loh nanyain Bu Adin?”

“Ga ada gerangan apa-apa sih. Kalau loh kekantor panggil gue yah.”

“Ngapain?”

” Ga usah kepo. Ntar loh jerawatan.

“Baron!!!”

Baron tidak menggubris teriakan Cici, dia justru memikirkan sesuatu yang menyangkut di otak kecilnya.

“Pantesan ajah sih playboy Fatur ga bolos,orang guru nya masih mudah gitu,” kata Baron seraya geleng-geleng. Tapi bdw dia juga sangat kepo ingin melihat wajah guru itu.

 *******

Kelas yang tadinya diam kini berubah menjadi rusuh itu semua karena bel sekolah yang menandakan bahwa pelajaran telah usai dan siswa diizinkan untuk istirahat.

“Sih Baron belum datang?” Tanya Bintang pada ketiga temannya.

“Belum tuh, kita samperin ajah,” sahut Fathur dari belakang.

Salah satu kebiasaan mereka saat kelas telah usai yaitu— siapa yang keluar duluan dia yang menjemput,dan berhubung hari ini kelas mereka yang duluan keluar jadilah mereka menjemput Baron.

“Cihuy, cewek balik dong,” itu adalah suara gombalan maut yang dikeluarkan oleh Fathur.

“Gue sumpal juga loh Tur, ingat ada Bu Adin yang mau loh perjuangin,” kata Bintang tak suka melihat tingkah Fathur.

“Dih gila kali loh! Gak lah! Mending Tialisa ajah gue kejar.”

“Ingat brother dia mantan kamu,” sahut Rafly dari belakang.

“CLBK lah, susah amat. Dia juga masih suka sama gue,cuman gengsi ajah.”

“Hati-hati Tur, loh kena karma kita ga bantuin,” kata Naufal ikut nimbrung.

“Lagian loh pacaran tapi pacar loh ga pernah loh anggap, siapa yang ga minder coba,” kata Bintang dari belakang.

“Nih dengarin Bintang nih, udah senior dia mah,” kata Rafly seraya menepuk bahu Fathur.

“Ah kampret luh pada. Mending gue liat teman kelasnya si Baron,” bagi Fathur mantan tetaplah mantan tidak ada yang indah dari kata mantan.

“Gila, teman kelasnya Baron pada bening euy.”

“Jangan dekat-dekat anak bahasa bahaya,” kata Bintang seolah-olah mengerti.

“Kenapa emang?” 

“Pelet nya kuat coy!”

“Kayak peletnya Cici ke loh,” sahut Naufal mengedikkan bahunya.

“Tau ajah loh pak ketu.”

“Tapi gila sih yang duduk di sampingnya Baron cakep oi, pantes ae tuh bocah ga  bolos,” Fathur tetap mempertahankan posisinya mengintip di balik pintu.

“Cantikan pacar gue juga,” jawab Bintang tanpa berdosa.

“BUCIN!!” Kata mereka bertiga menyorakinya.

“Astagfirullah, bisa mati muda gue.”

“Janganlah, kalau loh mati kertas ujian fisika gue menangis,” itu suara Fathur si tukang contek.

Obrolan mereka terhenti ketika seorang guru telah keluar dari dalam kelas.

“Selamat siang ibu, jangan lupa minum yang pahit-pahit soalnya ibu udah terlalu manis,” kata Fathur pada guru yang baru saja keluar.

“Bilang apa kamu?”

“Eh nggak Bu. Ibu hari ini cantik.”

“Makasih, saya tidak terima pujian.”

“Elah seram amat tuh guru. Untung bukan guru gue.”

“Loh sih ngomong nya pake gombal segala,” kata Bintang seraya menjitak kepala Fathur.

“Sa ae luh.”

“Hello epribadeh! Cie loh pada nungguin gue yah,cie cie rindu.”

“Jijik woi,jijik,” sahut Fathur cepat,sontak membuat tawa Baron pecah.

“Elah gitu amat loh.”

“Eh yang di samping bangku loh siapa namanya?” Tanya Fathur pada Baron.

“Oh itu namanya Farah kenapa emang?”

“Gila! Cantik woi serius,gue jadiin list pacar gue sabi kali yah?”

“Mata loh sabi! Ga ada! Awas ajah yah loh ganggu Farah, langkahi mayat gue dulu,” kata Baron tak terima bila teman kelasnya menjadi list Fathur.

“Dih, emang loh siapanya?”

“Teman kelasnya lah, loh sendiri siapanya?”

“Yah gue—“

“Jadi kantin ga?” Itu suara dingin Naufal.

“Eh jadi dong pak ketu, ayo buru,” dari pada kena amukan mending cari aman.

“Tapi tunggu dulu,” kata Baron memberhentikan langkahnya.

“Baron apa lagi sih?” Kesal Rafly.

“Emm.. pak ketu loh ada titipan nih,” kata Baron pelan.

“Titipan? Gue ga pernah pesan.”

“Hadeh, Baron pake dipercaya udah ah buruan kantin,” kata Fathur mendesak.

Lima inti The Avengers kembali berjalan ke arah kantin dengan Naufal yang berada di depan mereka.

Banyak tatapan takjub terhadap mereka, apalagi ketua mereka yang sekarang bajunya sudah tidak serapi saat upacara tadi.

Kantin pojokan menjadi tempat langganan mereka tidak asing lagi bagi siswa yang lainnya karena pojokan itu bisa dikatakan tempat tongkrongan mereka.

Di sana sudah banyak anggota lainnya yang bisa dipastikan mereka-mereka ini bolos dari jam pelajarannya.

“Mahmud mana woi!” Teriak Baron saat memasuki kantin.

“Masih kelas dia mah,” sahut Fatir-junior mereka.

“Demi apa sih Mahmud ikut kelas?” Tanya Bintang heran, pasalnya temannya ini sangat anti sekali namanya belajar.

“Habis kebentur kali.”

“Mang, air mineral satu,” teriak Naufal saat sudah duduk di bangku kantin.

“Loh ga bolos bos?” Tanya Fatir pada Naufal.

“Kalau Naufal bolos, gue dari tadi udah di sini kampret!” Bukan Naufal yang jawab melainkan Baron yang jawab.

“Bang, tadi pagi gue ketemu sama anak anak Shipper,” kata Reyhan yang duduk di pojokan.

“Loh diapain?” Tanya Naufal berbalik ke arah Reyhan.

“Ga diapa-apain sih bang, soalnya mereka ga liat gue. Tapi gue dengar-dengar mereka bakalan balas dendam sama kita.”

“Loh semua tetap hati-hati,” ucap Naufal dengan penuh penekanan.

(Visited 8 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Jusnia Paseba

Jusnia Paseba tinggal di Kolaka Utara. Anak terakhir dari empat bersaudara ini memang cemerlang sejak kecil. Jusnia terkenal sebagai juara umum sejak di taman kanak-kanak, SD hingga SMP. Tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi juara pertama lomba dai cilik dan juara pertama cerdas cermat Al-Qur'an. Jusnia mulai suka menulis sejak duduk di bangku SD. Dia sangat terinspirasi setiap kali membaca profil para penulis di halaman belakang buku paket sekolah. Mencoba mengembangkan kemampuannya menulis, Jusnia pernah ikut lomba menulis cerpen nasional dan berhasil meraih posisi top 50 cerpen terbaik dan kemudian dibukukan. Novelnya yang berjudul "Pesan Terakhir untuk Sang Fajar" sudah launching pada bulan Agustus 2021. Selain menulis, Jusnia pun hobi membaca cerita, baik yang bertema fantasi maupun yang bertema fiksi remaja. Moto hidupnya, "Jangan pernah ingin merasakan manis jika tidak ingin melewati pahitnya. Tidak ada sesuatu yang bisa instan, sekalipun itu mi instan."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *