Oleh : Nayla Syabina Syalsyabila

“Senna, maaf kamu kesakitan ya? Maafin aku yaa” Bagas melepaskan tanganku dan mengusap air mata yang jatuh membasahi pipiku.

“Cukup Bagas, stop, kita sudah terlalu sering menyakiti diri sendiri. Kamu ga capek? Aku capek banget Gas. Udah” Aku semakin terisak.

“Na, maafin aku Na, aku ga bermaksud buat nyakitin kamu.”

“Udah Gas, udah cukup untuk kita, lebih baik berhenti saja ya?” Aku pun pergi meninggalkan Bagas

“Na, aku ga mau Na.”

Seluruh kekecewaanku terhadap Bagas sangat sulit untuk dihilangkan. Orang yang selama ini kuanggap akan memulihkan pedihku, nyatanya malah menuang banyak sekali air raksa di lukaku. Mulai hari itu, aku dan Bagas sepakat untuk berhenti dan menyerah pada hubungan ini, walau sebenarnya Bagas masih sangat enggan.

Kupikir dengan memblokir seluruh media sosial yang ia punya, dengan menolaknya mentah-mentah dan dengan tidak lagi melihatnya di sekolah maupun di lingkungan luar akan membuatku baik-baik saja. Namun, aku salah, ia semakin menjadi-jadi untuk mengembalikan posisi kami seperti awal dulu. Ia selalu mencari cara agar dapat bersamaku lagi. Ia selalu berbuat seenaknya untuk mendapatkan aku sekali lagi.

Aku kembali terluka. Kembali harus mati-matian berjuang demi dapat keluar dari zona merah ini. Kembali harus bahagia walaupun sebenarnya itu sangat sulit untuk dilakukan. Kembali mencoba untuk menghibur diri sendiri sebagai upaya bertahan hidup ke depannya.

Lucunya, selang beberapa bulan setelah benar-benar lost contact, tiba-tiba ada sebuah nomor telpon yang mengabariku bahwa ayahnya Bagas telah berpulang.

“Halo, Senna?”

“Halo, iya. Maaf siapa ya?”

“Saya Widdy, sepupunya Bagas.”

“Oh iya kak, ada apa kak?”

“Bisa kamu ke rumah Na? Bantuin Bagas di rumah”

“Kenapa dia kak?”

“Ayahnya baru saja berpulang, tidak ada keluarga yang menemani karena ibu beserta kakak-kakaknya ikut mengantarkan ayah ke rumah sakit kemarin.”

“Innalillahi wainnailaihi rojiun, Senna turut berduka cita ya kak, baik Senna segera ke sana kak”

Selama telpon berlangsung, aku merasa kebingungan karena bagaimana bisa kak Widdy mengenalku? Sejauh ini kurasa hanya aku yang tau tentang kak Widdy karena Bagas pernah bercerita tentangnya beberapa kali. Aku belum pernah berbicara atau bahkan bertemu dengan kak Widdy sekali pun. Karena Bagas pun juga tak pernah memperkenalkanku pada keluarganya. Dari siapa kak Widdy mendapatkan nomor telponku? Mengapa aku yang ia hubungi untuk menemani Bagas di rumahnya?

Sore itu, ketika aku sampai di halaman rumahnya, kudapati sudah sangat banyak warga berkumpul memenuhi seluruh sudut-sudut rumahnya. Ku lihat sudah sangat banyak ucapan bela sungkawa serta juga terlihat ditancapkannya sebuah bendera kuning di pagar depan rumahnya. Juga terlihat sangat jelas bahwa di dalam rumah itu, ada Bagas yang tengah terdiam sambil meneteskan air mata dan menundukkan kepalanya.

“Assalamualaikum”. Semua orang memandang ke arahku.

“Waalaikumsalam” jawab mereka serentak.

Perlahan aku masuk ke dalam rumah yang sudah terasa sangat dingin suasananya. Terasa sangat mencekam karena terdengar isak tangis dari anggota keluarga yang satu persatu mulai berdatangan. Ditambah lagi dengan keberadaan tempat tidur yang dibalut oleh kain putih dengan beberapa tumpukan kain panjang di tengah-tengah ruangan luas yang mulai diisi oleh para warga. Aku lihat Bagas yang tengah dipeluk oleh kak Widdy yang sedang menenangkannya dari sela-sela keramaian kala itu.

“Sini Na” ucap kak Widdy perlahan.

Aku mengangguk dan segera berjalan menuju ke tempat kak Widdy dan Bagas terdiam.

“Kakak titip Bagas ya Na”.

“Iya kak.”

Kak Widdy pergi keluar meninggalkan aku dan Bagas di ruangan itu. Ingin sekali rasanya aku memeluknya hanya sekedar untuk menenangkan jiwanya. Ingin rasanya kudekap hangat dirinya hanya agar ia merasa jauh lebih tenang. Namun, aku tak bisa karena tak ingin membuat suasana di antara kami semakin canggung.

Terlihat sangat jelas bahwa sekujur tubuh Bagas bergetar. Ia hanya bisa menundukan kepalanya sambil mengenggam kedua tangannya. Air matanya tak henti mengalir dari sejak aku tiba tadi. Matanya telah membengkak dan memerah pun tampak sangat jelas.

Everything will be okey gas” Aku sedikit berbisik kepada Bagas

“Iya Na” ucapnya perlahan

Aku hanya bisa menenangkan Bagas dengan sedikit menepuk punggungnya seolah berkata semuanya benar-benar akan baik-baik saja. Hari pun semakin larut, aku memutuskan untuk berpamitan. Disaat berjabatan dengan Bagas ia menarik tanganku dan langsung memelukku. Didalam pelukanku ia menangis sejadi-jadinya.

“Terima kasih telah datang untuk menenangkan. Setelah aku pulih nanti, kita baikan ya?” Bagas melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya yang diiringi oleh sedikit senyuman, lalu pergi meninggalkanku.

(Visited 27 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *