Oleh: Anugrah Dwi Junianti

Prolog

Kanaya Adeliananta Basyurim itu nama panjangnya. Dia dikenal banyak oleh orang dan sangat ramah kepada semuanya. Naya punya sifat yang ceria, murah senyum, agak cerobohM juga pelupa. Naya punya dua teman baik yaitu Amel dan Caca. Mereka satu sekolah di SMAN CAKRAWALA.

Orang tua Naya sudah lama pisah, dan kini ia tinggal bersama ayahnya yang sudah menikah lagi, dan seorang kakak laki-laki bernama Abianka Basyurim yang sementara pendidikan di luar kota. Kini Naya hanya tinggal bersama nenek dan kakeknya.

Sisi lain dari Naya adalah ia anak yang sangat emosional, mempunyai masalah kesehatan mental yang kurang baik, tetapi entah bagaimana Naya bisa membuat semuanya terlihat baik-baik saja. Hanya sahabat-sahabat Naya yang tahu akan masa lalunya.

Suara bising begitu terdengar dalam di telinga Kanaya. Kanaya beranjak dari kasur lalu berjalan keluar dari kamarnya. Setelah Naya keluar, ia langsung melihat ke lantai bawah dan melihat seorang lelaki dan wanita yang sedang beradu mulut kencang sekali. Mama Kanaya yang sedang tidak terkontrol itu langsung melempar sebuah vas bunga kaca ke arah lantai dengan kencang hingga membuat adik kecil Kanaya terbangun. Kanaya yang melihat adiknya itu langsung berlari menutup telinga adik kecilnya, dan dengan cepat Kanaya beralih ke kamar kakak tertuanya dan langsung mengunci pintu kamar.

“Kakak! Kakak!” teriak Kanaya kencang karena ternyata Bian sama sekali tidak mendengar orang tua mereka sedang beradu mulut di bawah. Bian sudah terlelap dalam tidurnya karena memiliki kamar kedap suara. Dengan kesal Kanaya membangunkan Bian dari tidurnya. “Kakak pantesan aja kamu ga keluar. Ini nih adik kebangun, tolong dibiarin tidur di sini kak.” Bian yang terbangun melihat kedua adiknya di dini hari pun langsung bertanya, “Dek? Lagi?” Kanaya tidak menjawab hanya bisa mengangguk lemah di hadapan kakaknya.

Bian benar-benar tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang selalu saja berantem. Bian merasa kasian dengan kedua adiknya lebih lagi dengan Kanaya karena melihat umur Kanaya sudah semakin beranjak dewasa. Ia paham bahwa Kanaya pasti sangat terbebani dengan adanya pertengkaran yang terus terjadi di dalam rumah ini.

Tiba-tiba pintu terbuka pelan terlihat ada papa dan mama mereka berdua yang terlihat sudah tidak lagi bertengkar, tetapi ada yang terucap dari mulut mama Kanaya .”Kakak, adek, ayo keluar sebentar, biarin aja aa’ di situ”. Iya, aa’ adalah panggilan untuk adik kecil Kanaya. Mereka berdua yang mendengar itu langsung beranjak dari kasur lalu keluar dari kamar.

Kini mereka berempat sudah berada di ruang tamu yang berantakan, sangat berantakan. Kanaya tau dia bisa mencerna semua dengan cepat. Kanaya paham akan apa yang terjadi nantinya. Tanpa basa basi mamah Kanaya bertanya, “Kalian mau ikut mamah atau papah?”

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *