Sekolah Internasional di Jakarta, pukul 07.30. Suasana kelas pagi
begitu asri dan selalu menyenangkan. Setelah pembukaan kelas,
pengabsenan siswa. Lanjut ulangan mendadak.
Guru keturunan China, entah terlalu percaya kejujuran muridnya
atau memang tak peduli. Ia membiarkan murid mengerjakan jawaban,
tenang dan santai saja. Tanpa takut akan ketahuan menyontek kepada
teman di sebelahnya.
Saat itu aku tidak peduli dengan larangan dan kecaman tentang
menyontek. Aku lebih suka tanpa beban. Teman mengajakku saling
menyontek, agar lebih mudah menjawab soal, tidak masalah.
Teman mengajak menjahili anak lain sekedar pengisi kebosanan,
aku pun setuju. Guru meminta tolong, aku akan tersenyum dan sigap
mengulurkan bantuan.
Aku Aliana Kenko, blasteran Indonesia-Jepang. Saat ini umurku
sebelas tahun, kelas enam. Pemilik lesung pipit, berkulit kuning langsat,
berhidung mancung. Ada tai lalat kecil di ujung bibir, bermata
cemerlang. Ya, orang suka sekali memujiku. Menurut mereka wajahku
bersinar elok.
“Kamu itu membuat siapapun tidak mudah berpaling,” puji Leoni.
“Aliana Kenko, putri cantik dari Negeri Sakura,” puji Farabi.
“Bukan sepenuhnya begitu. Ayahku memang Jepang, tetapi ibuku
asli Indonesia,” sanggahku.
Setelah mengerjakan soal yang ternyata tetap saja menguras
otak. Begitu bel istirahat kami pun berebut keluar kelas. Kami hendak
bermain melepas penat. Ada yang bermain benteng, petak umpet,
sampai kartu uno. “Aliana, mau ikutan main truth or dear?” ajak Rian.
“Iya nih biar rame ikut, yuk!” tukas Malika.
“Ayolah!” balasku berjalan bersama mereka.
Kami berkumpul membuat lingkaran, sesaat saling pandang.
“Siapa ketuanya?” tanyaku.
“Akulah! Kan aku tadi yang ajak!” sahut Rian.
“Oke, mulai!” kata Malika tak sabar.
Botol diputar beberapa kali. Rian yang pertama menjawab
pertanyaan kami. “Rian, kamu suka siapa?” tanyaku dan Malika,
kompak.
“Kamu, kamu, iyaaa…. Malika yang aku suka!” sahut Rian tertawa,
menuding wajah Malika.
Mendengar pengakuan Rian yang diucapkan dengan canda
Malika malah tertawa. “Oke, aku terima,” sahutnya sambil menjulurkan
lidahnya, mengejek. Kami bertiga tertawa geli.
“Giliranmu, Malika. Ayo, jujur jawab. Siapa yang kamu suka?”
tanyaku dan Rian, kompak.
“Pasti Rian, ya kan?” desakku.
“Gak Rian kaleee….” Malika membantah.
“Siapa, ayo, siapa?” tanya Rian penasaran.
“Tukang martabak di kantin!”
“Wuahahaha!” Kami pun tertawa geli.
Bagaimana tidak geli. Membayangkan tampang dan kelakuan
wanita pria penjual martabak. Gayanya itu loh centil banget. Malah bikin
anak-anak suka menggodanya. Dia tidak marah. Maklum, jualanya jadi
laris-manis.
“Aliana kamu truth ya, jawab yang jujur.” Rian mengingatkanku.
“Ingat! Jangan sebar rahasia, pliiiiis!” pintaku wanti-wanti.
“Oke, siapa yang kamu suka, Aliana Kenko?” tanya Rian.
“Tuh kan kamu gak jelas!” Aku tidak terima denganpertanyaannya.
“Aduh, Aliana, ini kan hanya permainan. Kok jadi heboh sih?”
Malika tak sabar lagi.
“Iya. Harus dijawab kan sudah janji sejak awal.” Rian bersikukuh
“Oke. Tapi jangan kasih tahu siapapun, ya?” pintaku mengulang.
Rian menatapku sebentar. Kemudian memutar kembali botolnya,
melanjutkan permainan. “Siapa yang kamu suka?” teriaknya.
“Alex,” gumamku pelan sekali.
“Woaaaaa, ketahuaaaan!” seru Malika dan Rian serentak.
Kemudian keduanya berlari, menjauhiku. Aku tertegun. Tiba-tiba
terpikirkan sesuatu. Aku menoleh keluar jendela, benar saja Rian
berjalan mengarah lapangan. Pasti akan memberi tahu Alex yang suka
bermain di lapangan.
Tanpa pikir panjang lagi seketika aku berlari mengejar Rian.
Sekuat tenaga aku mengejarnya, kepingin membungkam mulutnya.
Jarakku dengan Rian sudah menipis. Aku melihat Rian sudah berada di
depan Alex.
“Alex tahu gak, ya? Aliana suka sama siapa?”
Alex yang sedang tertawa menoleh dan menatapnya.
“Suka siapa?” Tanya Alex yang membuatku semakin cemas
menguping.
“Jangan, jangan, jangan!” jeritku dalam hati.
“Kamu, Alex. Aliana suka sama kamu!” teriak Rian
lantang.”Katanya, Alex paling keren dan ganteeeng, teeeeng!”
Seperti ada palu besar menghantam dadaku. Tempatku berdiri
tidak terlalu jauh dari tangkapan mata Alex. Anak laki-laki itu menatapku
dengan sorot mata aneh. Kurasa Alex sama sekali tak menyukaiku.
Malu aku setengah mati!
Wajahku memanas, pipiku memerah. Rasanya aku ingin berubah
menjadi hantu yang bisa menghilang. Anak-anak pun banyak yang
mandangiku. Terutama anak perempuan. Alex primadona sekolah.
Blasteran Bali-Inggris. Wajahnya yang ganteng, anak konglomerat,
menjadikannya idola.
Aku membalikkan badan, lari menuju kamar mandi yang letaknya
terpencil. Di sekolah sangat jarang dipakai karena jauh dari manapun.
Malu, takut, cemas, tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana perasaanku
saat ini. Aku menangis sejadi-jadinya hingga puas. Lalu mencuci muka
dan bercermin, melihat mata yang masih memerah.
Aku melangkah keluar, membuka pintu, ingin kembali ke kelasIngin melupakan kejadian memalukan itu. Tiba-tiba segerombolan anak
perempuan mencegatku.
Mereka ramai-ramai mengeroyokku. Tanganku ditarik, diseret
sampai terantuk pintu. Lantas didorong kuat hingga terbanting di lantai.
Mereka, lima anak perempuan itu berkacak pinggang dengan angkuh
dan senyum mengejek.
“Sudah jelek, kulitnya gelap, jerawatan, gembel, hidup lagi? Bisa
bisanya suka sama Alex?” Maria, ketua mereka memaki-makiku.
“Gak tahu diri, tahu!” tambah Lalita seraya menjitak jidatku.
“Kamu itu gembel gak level sama Alex, tahu!” ejek Maria lagi.
Aku terdiam, tidak berkutik, menunduk, bingung. Apa yang harus
kulakukan, agar bisa keluar dari situasi begini? Menjerit, berteriak minta
tolong pun percuma.Tempat ini memang terpencil.
