Ibu, seseorang yang dikirim Tuhan untuk menjagaku. 30 November 2009, ia melahirkanku ke dunia. Nyawa ia pertaruhkan hanya untukku membuka mata melihat dunia ini. Aku bersyukur Ibu masih bisa kulihat sampai di usiaku yang sekarang.

Kata Ayah, Ibu orangnya sabar, dan itu fakta. Air susunya, pengorbanan, dan kesabarannya tidak bisa di ganti dengan apa pun, bahkan dengan harta, emas, dan berlian sekali pun tidak dapat membayar semua yang ia berikan. Ibu,di usiaku yang masih 12 tahun ini, aku belum bisa hidup tanpamu. Terkadang air matamu terjatuh karena perbuatanku. Seringkali dirimu juga kesal karena kecerobohanku.

Ibuku, orang yang paling sabar menghadapi moodku yang gampang berubah, sikap keras kepala dan cerobohku, orang yang selalu ada kala senang dan sedihku. Tentang Ibu, dia adalah sosok malaikat tanpa sayap, sosok matahari yang menyinari hariku, sosok rumah untukku pulang dan berteduh. Dia bukan sosok pelangi yang hanya datang saat hujan selesai, melainkan sosok senja. Jika bukan karena Ibu,aku tidak bisa lahir ke dunia fana ini.

Bagiku, Ibu adalah tokoh utama dalam hidupku. Dia melahirkan dan merawatku sampai sebesar ini tanpa meminta imbalan. Untuk ibu terkasih, terima kasih untuk perjuangan, kesabaran, dan pengorbananmu. Maafkan aku belum bisa menjadi anak yang engkau inginkan.

Ibuku, malaikatku yang tak bersayap.

Watansoppeng, 30 Agustus 2022

(Visited 156 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *