“Sudah percuma ngomong sama dia, batu!” seru Maria sambil
meludahi mukaku.
Mereka meninggalkanku yang segera sibuk membersihkan
mukaku kembali. Setelah peristiwa itu tidak terjadi apa-apa lagi. Orang-
orang sudah melupakan insiden di lapangan. Namun, dampaknya masih
terasa di hatiku. Jika tidak curhatan kepada ibunya Safwan, entahlah
apa yang akan terjadi.
“Mengajilah bersama Safwan di rumah kami, ya Aliana,” ajak Umi
Safwan.
“Iya, Nak. Belajar ngaji bareng Safwan,” dukung Umi.
“Siapa yang mengajarinya, Umi?” tanyaku.
“Tentu saja Umi Safwan,”sahut Umi yang diiyakan oleh
sahabatnya.
Sepuluh tahun berlalu. Kini keluargaku bertugas di London,
Inggris.
Kami menempati sebuah rumah minamalis dengan tiga kamar,
dua kamar mandi, satu dapur dan ruang makan. Ada ruang
perpustakaan dengan ratusan buku koleksiku yang terdiri dari novel,
komik, cerpen, pelajaran, hingga sejarah kuno.
Umurku kini 21 tahun, belum lama diwisuda sarjana ilmu
komputer. Malam ini aku sudah mengenakan pashmina hitam, kemeja
putih polos dan celana jins. Aku mematut diri, mencermati penampilan
atas sampai bawah. Apakah ini cocok untuk menghadiri undangan
makan makan bersama di restoran besar di London.
Dering gawaiku terdengar. Aku mengangkatnya.
“Assalamualaikum,” suara laki-laki di seberang sana.
“Ya,” jawabku malas.
“Eh, sering kubilang kalau  salam harus dibalas!”

“”Waalaikumussalam… Haish, lama banget!” sambungku cepat
sebelum dengar omelan yang sama.
“Iya, sebentar lagi sampai.”
Aku mematikan ponsel, menghempaskan tubuh ke ranjang dan
menutupi mata dengan lengan tangan. Aku ingin tidur sambil menunggu
jemputan datang.
Pintu kamar diketuk.”Nak, Nak, banguuun!”
“Hmmm….” Harus menyesuaikan diri, setengah sadar bergerak.
“Nak, itu Safwan masuk rumah sakit. Tengoklah sana, cepat!”
perintah Umi.
“Astaghfirullah….” Aku meloncat begitu mendengar Safwan
kecelakaan. Melotot menatap Umi yang meyakinkanku, tidak salah
dengar.
“Sudah pukul depalan malam,” desisku melirik jam tangan. “Sudah
telat datang ke undangan. Tak perlu datang sekalian!”
Kusambar tas dan keluar kamar sambil menyemprotkan penyegar
ke sekitar wajahku.
“Aku pergi dulu, ya Mi!” teriakku pamitan, sementara Umi sudah
berlalu.
“Hati-hati, ya Aliana. Rumah Sakit Berlian, ya Nak!” balas ibuku.
Sambil berjalan aku merogoh tas mencari ponsel. Segera
menghubungi Safwan. Tiga nada dering berlalu baru dijawab.
“Hallo, Aliana….”
“Lama diangkat, hiiih! Di mana kamu?” sergahku tanpa basa-basi.
“Berlian kamar 405.”
“Oke, diam ya, jangan ke mana-mana!”
“Santai saja. Aku tak apa-apa….”

Aku mematikan sambungan kembali menaruhnya di tas, berlari
sekuat tenaga menuju lokasi. Mujurlah, tak seberapa jauh dari rumahku.
Selang beberapa menit sudah sampai.
Aku menyusuri lorong panjang. Di kamar serba putih dengan
sebuah ranjang di tengah ruangan. Tampaklah laki-laki seumuranku
dengan kaki terbalut perban.
“Hei!” Suaraku keras membuyarkan fokusnya yang sedang asyik
nonton televisi.
“Eh, penghapus!” Wajahnya riang sekali.
Ia menyebut nama panggilan para perundung saat SD. Nama
keduaku Kenko. Mirip merek penghapus yang dijual di toko-toko.
Aku berdecak malas.”Gimana kondisimu sebenarnya?”
“Sakit banget, Aliana,” keluhnya.
“Rasakan! Dosa kamu banyak, tahu!”
“Jangan begitulah, Aliana. Masa orang keserempet motor malah
diejek? Didoakanlah biar cepet kuat lagi.”
“Iyalah, Abangku yang ganteng cepat sehat, ya?” godaku.
“Al Fatihah, amin ya Robbal alamin.”
Safwan teman sepermainanku sejak kanak-kanak. Ibu kami sering
periksa kandungan bersama. Mereka bersahabat akrab. Konon, kami
sudah dijodohkan sejak kecil. Namun, kami tidak mengambil pusing
tentang hal itu. Safwan pun satu sekolah denganku.
Dialah yang kerap kali menolongku ketika sedang digangu para
perundung. Hingga sekarang Safwan salah satu orang yang berarti
dalam hidupku. Aku menganggapnya sebagai saudara, bagian dari
keluargaku yang sering keliling mancanegara. Sesuai dengan tugas
ayahku sebagai Diplomat Jepang.

Anehnya, kami sering diperjumpakan di negara manapun ayahku
ditugaskan. Belakangan ibunya yang asli Minang sering mengajak kami
ikut ke taklim ibu-ibu di Kedubes Indonesia.
“Idih senyum-senyum sendiri, kerasukan apaan nih? Jin tomang,
genderuwo atau si Mbak Kuntil?” Safwan membuyarkan lamunanku.
“Yeeeh, ngawuuur!” Aku memukul pelan kakinya. Safwan meringis
kesakitan. “Eh, maaf,” kataku merasa bersalah.
“Bagaimana acaranya? Bisa dikejar sekarang.”
“Gak jadi sajalah!”
“Acaranya sampai jam sepuluh, Aliana.”
“Gaklah, aku sudah berantakan nih.”
“Ayolah, jangan bikin aku merasa bersalah,” ajaknya tak bisa
ditolak lagi. Aku terdiam. Safwan geleng-geleng kepala, megambil
kruknya di ujung ranjang. Ia berjalan lebih dulu keluar ruangan, aku
membuntutinya dari belakang.
Sebetulnyaya aku sendiri tidak tahu perasaanku kepadanya. Aku
terlalu takut untuk merajut hubungan dengan lelaki, bukan mahram.
Pernah kujelaskan juga kepadanya, aku hanya menganggapnya
sebagai saudara.
Kami naik taksi, tak ada yang bercakap-cakap. Dua puluh menit
telah sampai di lokasi. Resto telah disewa sepenuhnya, sangat luas,
terdapat kolam renang. Menuju lantai dua menggunakan lift. Agaknya
sudah memasuki agenda dansa-dansi.
“Kita ke balkon sajalah. Aku tak nyaman dengan hiruk-pikuk
begini,” kata Safwan.
Seketika entah mengapa ada perasaan tak enak merayapi hatiku.
Aku mulai menyesal. ”Duh, untuk apa kita datang? Tempat begini tak
cocok untuk kita, Muslim….”
“Iya juga, ya. Maafkan aku sudah memaksamu.”

(Visited 7 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Qonita Syahidah

Qonita Aulya Syahidah gadis pelajar di mahad askar kauny juga salah satu murid manini atau pipit senja menulis cerita adalah salah satu hobby untuk mengisi waktu sengang selama 24 jam dalam sehari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *