Friska Ayu Ningtias yang lebih dikenal dengan nama Friska, seorang pelajar menengah atas kelas 10. Di sinilah titik awal cerita tentang kepedihanku dan mentalku yang mulai terkikis.

Part 1

Pada suatu hari, seorang gadis sederhana yang menuntut ilmu di salah satu SMA bergengsi di kota Seoul. Sebagian besar siswa di sekolah tersebut adalah dari kalangan elit, berbeda dengan dia yang berasal dari keluarga sederhana yang mampu masuk di tempat itu karena beasiswa. Karena kepintaran dan pesona yang dimiliki Friska sehingga banyak yang tertarik terhadapnya. Oleh karena itu, banyak siswi yang iri kepadanya.

Dia adalah gambaran ciptaan Tuhan yang sempurna. Mata yang indah dan jernih, bibir yang merah merekah, kulit yang putih bersih, wajah yang cantik serta postur tubuh yang sangat ideal. Bukan hanya wajahnya yang cantik, tetapi tingkah laku dan tutur katanya juga sangat menawan. Banyak kaum laki-laki yang jatuh hati.

Ketika Friska sedang berjalan dengan wajah tertunduk lesu di depan gadis-gadis terpopuler di sekolah ini, tiba-tiba Luna yang merupakan anak pemilik sekolah tersebut menghampirinya dan memukul meja dengan sangat keras.
“Friska, berhenti! teriak Luna dengan suaranya yang mengelegar. Friska seketika berhenti dan berdiri mematung.
“Iya kak Luna, kenapa?” jawab Friska.
“Hei, kamu jangan kecentilan yah! Kamu bisa ada di sini karena beasiswa itu. Jadi kamu jangan sok cantik di sekolah ini!” ujar Luna.
“Iya kak, saya paham”, jawab Friska dengan muka yg lesu.
“Kamu tahu kan, saya ini anak pemilik sekolah, jadi kamu jangan kecentilan dan sok kecakepan di sekolah ini ,”ujar Luna dengan menunjuk Friska dengan tatapan yang merendahkan.

Friska hanya mengangguk lesu. Tiada hari tanpa penghinaan yang didapatkan hanya karena perbedaan status sosial.

Setelah bel pulang berbunyi, semua siswa merapikan alat tulisnya termasuk Friska. Seketika raut wajahnya dipenuhi dengan senyum yang merekah. Senyum yang menyimpan sejuta luka. Dia hanya ingin terlihat baik-baik saja di mata keluarganya.

“Friska kamu sudah pulang nak”, tanya ibu Friska.
“Iya bu!” jawab Friska.
“Bagaimana sekolahnya? Semuanya baik-baik saja kan ?” tanya ibu pada Friska.
“Iya ibu! Tenang aja bu, semuanya baik-baik saja. Teman-teman Friska juga baik semua sama Friska , ucap Friska berbohong.
‘Maafkan Friska bu karena harus bohongin ibu. Friska tidak mau ibu sedih kalau tahu Friska di bully di sekolah’ ucap Friska dalam hati.
“Oow iya. Baguslah kalo semuanya baik-baik saja nak. Sekarang kamu makan ya. Hari ini ibu masak enak untuk kamu. Makan yang banyak ya”, ucap ibu Friska .
“Iya bu. Oh iya bu, ayah di mana bu?” Tanya Friska.
“Belum pulang. Ini kan masih jam 2 siang. Sekitar jam 4 sore ayah sudah di rumah. Ya udah, ibu keluar dulu yah,” ucap ibu Friska sambil membuka pintu dan melangkah keluar kamar Friska.

Malam pun tiba. Setelah makan malam, Friska masuk ke kamar untuk mengerjakan tugas Kimia yang telah diberikan oleh guru kimia di sekolah.

“Aduhhh, capek juga. Tidak apa-apa demi ibu dan ayah aku pasti bisa” ucapnya menyemangati dirinya sendiri yang kelelahan.

Tinggggg,suara hp Friska berdering.
“Siapa yang chat malam- malam?”ucap Friska sambil membuka hpnya
“Ooo pak kimia! ngapain dia chat aku malam-malam begini. Apa mungkin dia ingin tugasnya di kirim sekarang?” sambil mengetuk-ngetuk keningnya .

“Friska ,kamu lagi ngapain” isi chat pak kimia biasa di panggil Pak Alvaro.

“Aaa iya pak. Saya lagi ngerjain tugas yang bapak kasih tadi siang”. balas Friska.
“Ooo ya, udah kalau gitu, semangat kerja tugasnya !!!” chat pak Alvaro
“iya pak”
“Aahh apaan sih. Aneh banget. Tidak biasanya pak Alvaro kayak gitu. Aahh …bodo amat. Lebih baik aku tidur aja. Kan udah selesai juga tugasnya,”ucapnya sambil berjalan ke tempat tidur. Dia tidak pernah lupa untuk berdoa sebelum tidur.

Semoga besok semuanya baik-baik saja. Mudahkan segalanya ya Allah. Aku hanya ingin membuat orang tuaku bangga.Jadi bantu Friska ya Allah untuk selalu sabar. Aamiin…..

(Visited 96 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *