Oleh: Adit Anugrah Pratama

Langit sore itu berwarna abu-abu, sama seperti perasaan mereka berdua.
Tidak ada lagi kata yang bisa menjelaskan bagaimana semuanya berubah begitu cepat dari tawa menjadi hening, dari genggaman erat menjadi jarak yang perlahan tumbuh di antara jari-jari.

Mereka masih saling menggenggam tangan, tapi arah pandang sudah berbeda.
Ia menatap ke depan, sementara ia menatap ke belakang keduanya sama-sama takut melepaskan, tapi juga sadar bahwa bertahan hanya membuat luka semakin dalam.

“Kalau waktu bisa diulang…” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.
“…aku ingin berhenti di hari ketika kamu masih tersenyum padaku tanpa alasan.”

Ia tak menjawab. Ia hanya menunduk, menggenggam lebih erat untuk sesaat, seolah ingin menahan semua kenangan yang mulai berjatuhan di antara sela-sela jari mereka.
Namun genggaman itu akhirnya melemah perlahan, hingga akhirnya benar-benar terlepas.

Tidak ada perpisahan yang mudah.
Tapi kadang, cinta harus mengalah pada kenyataan: bahwa dua hati yang pernah bersatu juga bisa tumbuh ke arah yang berbeda.

Ia melangkah pergi, membawa setengah hatinya yang masih tertinggal di tangan orang yang kini berdiri diam di belakangnya.
Dan ketika jarak mereka semakin jauh, hanya satu hal yang tersisa — rasa yang tak sempat diucapkan.

“Beberapa genggaman bukan untuk selamanya tapi untuk mengajarkan bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki, melainkan berani melepaskan dengan tenang.”

Watansoppeng, 7 Oltober 2025

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *