Di hari libur yang lalu, aku dan Nisa pergi berlibur ke pantai. Kami memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang di pantai yang jaraknya berkisar 100 meter.
Setelah bermain selama 2 jam, tepatnya pukul 16.00, kami memutuskan untuk pulang karena perut telah meminta untuk diisi dan langit hari ini sepertinya akan turun hujan.
Dan benar saja. Saat di perjalanan, hujan turun dengan sangat derasnya. Terlihat ada sebuah gubuk tua di tepi jalan. Kami berhenti untuk berteduh. Aku duduk termenung memikirkan uang sekolah yang belum dibayar oleh ibu.
“Aku harus bagaimana?” tanyaku dalam hati.
Tidak lama, hujan pun reda. Kami melanjutkan perjalanan. Saat di perjalanan, secara tidak sengaja aku melihat sebuah tas yang tergeletak di jalan. Aku mengambil tas itu, dan betapa kagetnya aku karena di dalamnya berisi uang yang sangat banyak dan berkas-berkas penting juga.
“Eh Ra, ini tas siapa ya ? Kita ambil aja, gimana? Isinya banyak banget loh, lumayan buat bayar uang sekolah kamu,” kata Nisa.
“Gak boleh gitu dong Nis, itu bukan hak kita. Kalau kita ambil, itu artinya kita mencuri Nis…”,ucapku sembari melarang Nisa mengambil tas tersebut.
“Tapi Ra, kalau kami tidak bayar uang sekolahmu kali ini, mungkin kamu akan dikeluarkan dari sekolah”. Kata Nisa meyakinkan.
“Tidak Nis. Sampai kapan pun aku tidak akan mau mengambilnya. Lebih baik aku dikeluarkan dari pada aku mengambil yang bukan hakku”, kataku dengan tegas.
“Ya udah… oke, kita simpan aja dulu. Siapa tahu pemiliknya nyari”. Kata Nisa.
” Ok. Sekarang kita pulang, nanti ibu nyariin. Besok kita ke sini lagi sambil cari tahu siapa pemilik tas ini”, usulku.
Keesokan harinya, aku dan Nisa kembali ke tempat tersebut. Benar saja, pemilik tas itu datang. Awalnya kami tidak percaya, jangan sampai dia penipu yang ingin isi tas ini. Tapi setelah melihat KTPnya dan ternyata memang benar dia pemiliknya. Kami pun mengembalikan tas ibu itu.
“Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga tasku. Sebagai tanda terima kasih ibu, ada rezeki sedikit, tolong diterima ya nak “.
“Maaf bu, bukanya kami ngak sopan, tapi kami ikhlas kok bantuin ibu”, jawabku.
“Mohon diterima yah nak, ibu juga ikhlas, dan ibu mau berterima kasih sama kalian. Ibu gak tahu gimana jadinya kalau tas ini sampai ditemukan oleh orang salah,” jawab ibu itu sedikit memaksa.
“Udah Ra, terima aja, mungkin ibu ini dikirim Tuhan untuk menolong kamu. Jadi kamu bisa bayar uang sekolah kan, dan ini juga bisa meringankan beban ibumu,” bisik Nisa meyakinkanku.
“Di terima yah nak, ini rezeki kalian,” kata ibu itu dengan tulus.
Awalnya aku tetap menolak tapi melihat ibu itu sangat tulus memberikannya, aku pun menerimanya.
Di saat perjalanan pulang, aku tak kuasa menahan air mataku. Akhirnya aku bisa membayar uang sekolahku dan meringankan beban ibuku.
Jangan pernah kita mengambil yang bukan milik kita, baik itu ditemukan di jalan atau di mana saja. Selalu tanamkan sifat kejujuran dalam diri kita. Kejujuran itu mahal dan hanya orang hebat yang mampu melakukannya.
