Oleh : Suci Angraini
Aldino dan kawan-kawannya menghampiri meja yang ditempati twins V, dan langsung mengambil tempat di samping Venia. Vania yang melihatnya juga mengambil tempat di samping kiri Venia, sementara Vania pindah duduk ke samping kiri Aldino, jadi otomatis Aldino berada di tengah adik kembarnya itu, Sedangkan kawan-kawan Aldino duduk berhadapan dengan mereka.
“Bang Al, jadi kan Vani sama Veni pesen minuman sama Bu kantin, tapi Vani sama Veni belum bayar, dan berhubung Abang ada disini, jadi bayarin ya,”kata Vania ke Aldino.
Kawan-kawan Aldino hanya menyimak apa yang dilakukan ke 3 orang di depan mereka.
“Ya udah, nanti gue yang bayar,”kata Aldino lalu beranjak membayar pesanan adik-adiknya.
Melihat kakaknya pergi membayar pesanannya,Vani dan Veni pun mengeluarkan handphonenya dari saku seragamnya dan memainkannya tanpa menghiraukan kawan-kawan kakaknya yang memperhatikan mereka.
“Vani, Veni?, Kok nama mereka mau mirip ya?”beo Devan.
Arkan yang mendengar Devan membeo pun langsung menyahutinya.
“Bukan nama mereka aja yang mau mirip, tapi coba lu pada liat, penampilan, tinggi badan, dan body mereka juga nggak ada bedanya loh,”kata Arkan.
Mereka yang mendengar Arkan berkata begitu mengangguk membenarkan Arkan.
Tiba-tiba ada yang menarik rambut Vani dan Veni dari belakang hingga membuat Vani dan Veni terjungkal. Kawan-kawan Aldino yang menyaksikan itu langsung kaget.
“Awh sakit,” kata Veni dan Vani bersamaan saat mereka terkapar di lantai kantin.
Mata Veni dan Vani terpejam sebentar dan membukanya kembali. Mata Vani dan Veni yang tadinya berwarna hitam pekat langsung berubah menjadi merah.
Mereka berdua berdiri dan langsung berbalik ingin tau siapa yang berani menarik rambut mereka dengan kasar hingga membuat mereka terjatuh.
“Lo siapa hah? berani banget narik rambut gue,” bentak Vani dan Veni serempak.
