Kehidupan Nara berubah 180 derajat saat kabar kepergian kedua orangtuanya telah tiba. Pesawat Garuda penerbangan Jakarta-Surabaya dikabarkan hilang kontak dan dinyatakan seluruh penumpang pesawat tersebut tidak ada yang selamat. Saat itu harapan Nara mengenai kedua orang tuanya hancur seketika.
Kehidupan keluarga Nara yang terbilang sangat sederhana,membuat dia bingung harus hidup dengan menggunakan apa,terlebih lagi dia hidup dengan adiknya yang duduk di bangku SD. Panggil saja dia Nana bocah cilik yang mempunyai banyak mau. Seperti saat ini dia kembali meminta mainan terhadap Nara. tidak hanya itu, dia juga meminta kue ulang tahun. Mengingat hari kelahirannya sudah mendekat membuat dia sangat ingin hari kelahirannya di rayakan seperti anak-anak di luar sana.
“Ayolah kak, beliin Nana kue ulang tahun, yang gambar Hello Kitty itu. Mau yah? Ya? Ya?” katanya memohon seraya mengguncang lengan Nara.
“Kalau lain kali boleh nggak Dek?” tanya Nara dengan hati-hati.
Mendengar respons kakaknya seperti itu membuat Nana mengembuskan nafasnya secara kasar.
“Ulang tahun kan cuman sekali setahun kak. Masa ulang tahunnya bulan oktober terus dirayainnya bulan november atau desember? Kan ga seru” jawab Nana tak mau kalah.
“Kakak tau kok. Tetapi masalahnya uang Kakak ga cukup. Kakak harus beli kebutuhan sehari-hari,bayar uang sekolah, buat jajan kita juga,” Nara kembali menjelaskan berharap Nana dapat mengerti mengenai situasi sekarang. Namun, bukan Nana namanya kalau cepat nyerah,tapi kalian yang belum apa-apa sudah menyerah perihal berjuang.
“Gitu yah kak? Tetapi Nana pengen banget. Meskipun tanpa Ibu sama Papa, tetapi setidaknya Nana punya Kakak sama kue ulang tahun Hello Kitty,” jawab Nana dengan nada sedihnya.
Mendengar Nana membawa nama kedua orangtuanya, membuat Nara jadi tak tega melihat adiknya. Lama terdiam akhirnya Nara kembali membuka suara yang mana membuat semangat Nana kembali bangkit.
“Janji yah Kak, nanti kalau hari ulang tahunnya Nana udah tiba, Kakak harus bawain kue Hello Kitty terus nyanyi-nyanyi ‘selamat ulang tahun kami ucapkan’ nyanyi begitu yah kak?” Katanya bersemangat seraya menatap Nara.
“Janji,” jawab Nara tersenyum seraya membalas acungan kelingking Nana.
Biasanya selepas jam pelajaran Nara langsung kembali ke rumah,tapi kali ini tidak,Nara berniat mencari pekerjaan, pekerjaan apa pun yang penting dirinya mendapatkan uang halal.
Ini adalah tokoh keempat yang Nara kunjungi,berharap dirinya dapat di terima.
“Permisi Mbak. Apa masih terima loker?” tanya Nana pada Mbak-mbak penjaga restoran itu.
“Mohon maaf mbak, di sini sudah full.”
“Udah full yah mbak?”
“Iya Mbak udah full,” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
“Ya udah kalau begitu terima kasih,” kata Nara pamit pergi.
Sekarang sudah sangat sore,dan dirinya belum mendapatkan pekerjaan. Ke mana lagi dia harus mendapatkan pekerjaan. Sambil menghela nafas dia kembali berjalan menuju ke arah rumahnya. Besok sehabis sekolah, dia akan kembali mencari pekerjaan.
Tiga hari kemudian,akhirnya Nara berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu toko kue yang tak jauh dari sekolahnya. Meskipun mendapat gaji harian yang nominalnya tidak besar, tapi bagi Nara ini sudah cukup untuk memenuhi kehidupannya serta untuk kue ulang tahun Nana.
Berbicara tentang Nana, bocah cilik itu akan berulang tahun pada esok hari. Sore ini Nara kembali menghitung uang tabungannya beserta uang gaji hari pertamanya kerja di toko kue.
“Yang ini udah cukup buat beli kue ulang tahunnya Nana. Tetapi, masa ga ada kadonya yah?” Kata Nara berbicara sendiri,karena Nana sedang bermain di rumah tetangga.
“Oh iya,kan masih ada gaji besok,” katanya kembali tersenyum.
“Assalamualaikum Nana kembali,” terdengar ucapan salam dari pintu utama,membuat Nara bangkit dari kasurnya.
“Udah mainnya?” tanya Nara pada Nana yang memegang mainan alat masak nya.
“Udah nih,” jawabnya seraya menyodorkan mainannya.
“Sekarang mandi yah, habis itu makan malam. Oke?”
“Okedeh siap Bu Negara,” jawab Nana dengan gaya hormatnya.
Nara tersenyum melihat tingkah Nana yang begitu semangat,sudah beberapa hari Nara sangat jarang bersama Nana,karena Nara selalu sibuk mencari pekerjaan dan disaat mendapat pekerjaan dia selalu kembali di sore hari, sekarang waktunya tersita banyak akan pekerjaannya.
“Besok Kakak baliknya agak telat. Gak papa kan?” tanya Nara pada Nana yang tengah merapikan rambutnya.
“Kan selalu telat baliknya,” jawab Nana tanpa menoleh.
Jawaban singkat Nana berhasil menampar Nara.
“Maafin Kakak yah?”
“Gak papa kok. Kan Kak Nara juga kerja,” kini Nana kembali menghadap ke arah Nara.
“Anak pinter,” kata Nara seraya mengacak-acak rambut Nana.
“Kakak! Nana baru habis rapihin rambut tau!”
Hari ulang tahun Nana kini telah tiba, dan sore ini Nara kembali terlambat pulang ke rumah.
Di bawah langit senja yang berwarna jingga, Nara berjalan sembari memasuki toko kue satu persatu secara bergantian,hingga tokoh ketujuh Nara menemukan kue ulang tahun Hello Kitty seperti yang telah dikatakan oleh Nana. Di sebelah tangan kiri Nara, ada boneka hello Kitty dengan ukuran mini, boneka yang akan menjadi kado untuk Nana.
“Semoga aja Nana suka sama kue dan hadiahnya,” kata Nara tersenyum.
Nara kembali mempercepat langkahnya,ini sudah menunjukkan pukul setengah tujuh dan pastinya Nana sudah menunggunya di rumah,atau tidak masih bermain di rumah Mbak Siti tetangga Nara.
Saat memasuki kompleks rumahnya, hal yang pertama Nara lihat adalah kerumunan yang semakin banyak pengunjungnya,entah karena apa sehingga dapat menarik pandangan setiap orang yang lalu lalang.
Nana tak mau pusing perihal kerumunan itu, dia tetap tersenyum berharap di rumah sudah ada Nana yang sedang menunggu serta menyambutnya dan meniup lilin kue yang ada di tangannya.
Semakin dekat kerumunan membuat jantung Nara berpacu semakin cepat. Apa-apaan ini bukannya tadi dia hanya biasa saja? Nara berusaha terlihat baik-baik saja.
“Permisi Mas, di depan ada apa yah?” tanya Nara pada pedangan kaki lima.
“Oh itu Neng ada bocah korban tabrak lari.”
“Bocah? Maksudnya anak kecil Mas?” tanya Nara kembali memastikan.
“Iya Mbak,” jawabnya singkat.
Buru-buru Nara mempercepat langkahnya perasaannya menjadi tidak enak mendengar jawaban dari sang penjual tadi.
“Permisi,saya boleh liat?” Tanya Nara pada ibu-ibu yang sedang berada di kerumunan tersebut.
“Silahkan Mbak,” jawabnya mempersilakan.
Sekujur tubuh Nara mendadak jadi lemas, bahkan senyum yang sedari tadi terbit kini tergantikan dengan raut wajah yang sangat sedih.
“NANA!” Teriak Nara yang langsung menghampiri tubuh lemah Nana.
Yah,bocah korban tabrak lari adalah Nana,si bocah bawel yang punya banyak mau.
“Nana! Ayo bangun!” Seru Nara menepuk-nepuk pipi Nana.
Perlahan namun pasti, sayup-sayup Nana membuka matanya,meskipun pandangannya tak begitu sempurna tetapi suara Nara begitu menggema di pendengarannya.
“Kak Nara?” Panggil Nana dengan lemas.
“Iya ini Kakak. Ayo bangun,Kakak bawa kue ulang tahun buat Nana,” jawab Nara dengan sungguh-sungguh.
“Kue nya buat Kakak ajah.”
Nana menggeleng kuat mendengar itu,” Nana harus bangun,harus bangun buat tiup lilin. Nih kakak juga ada kado buat Nana,” kata Nara menyempatkan diri memperlihatkan bingkisannya pada Nana.
Nana tersenyum ke arah Nara,sembari mengambil telunjuk Nara lalu membawanya ke hadapannya,dengan sisa tenaganya dia meniup telunjuk Nara.
“Anggap aja Nana lagi tiup lilin,” kata Nana usai meniup telunjuk Nara.
“Nana ha-“
“Kalau Nana nyusul Mama sama Papa ga kenapa-kenapa kan?” tanya Nana memotong ucapan Nara.
“Gak bol-“
“Maafin Nana kak,Na-na ha-ru-s per-gi du-lu.”
Kala itu mata Nana kembali terpenjam,tak memberi tanda-tanda akan bangun kembali. Hari itu dunia Nara kembali terguncang, kembali mendapatkan titik lemah.
Nara menangis tersedu-sedu melihat kepergian Nana,kenapa hari ulang tahunnya bertepatan dengan hari kepergiannya?
“Selamat ulang tahun peri kecil,” bisik Nara di telinga Nana. Hari itu bocah cilik, si penggemar Hello Kitty terpaksa mundur dari kehidupan dunia,dan memilih untuk maju di alam yang berbeda.
