Oleh: Reisya Alfi
Dulu waktu kelas 5 SD aku pernah mimpi kalau ayah dan ibu aku cerai. Saat itu aku menganggap kalau mimpi itu ga akan pernah terjadi seperti apa yang bilang orang-orang. Pas kelas 6 SD mimpi itu beneran terjadi. Nah waktu itu tengah malam yang berusaha beranjak dan mengejar Matahari dengan perlahan.
Aku terbangun dari tidur. Aku mendengar suara orang yang sedang bertengkar. Aku takut tapi juga penasaran. Aku ga berani keluar dari kamar, hanya mengintip dari balik tirai dan melihat ibu sama ayah sedang bertengkar. Kakak dan adikku masih tertidur pulas. Aku melihat ayah mengambil koper dan memasukkan baju ke dalamnya. Aku langsung lari ke pangkuan ayah dan bertanya,” ayah mau ke mana? Kok bawa koper? Aku ga mau ayah pergi. Aku mau sama ayah. Ayah di sini aja,” ucap Aci sambil menangis.
“Gak nak. Ayah pergi sebentar doang kok. Ayah kerja mau cari duit buat makan anak-anak ayah. Ayah bentar doang ko perginya besok ayah balik lagi”. Ayahnya memeluk Aci sambil mengusap air matanya. Ia ga rela meninggalkan anaknya. Aci tau ayahnya mau pergi dan gak akan kembali. Ia berusaha membujuk ayahnya agar tetap tinggal bersamanya. Ayahnya terus melangkah meninggalkan rumah saat itu juga, di malam itu juga. Aci berteriak memanggil ayahnya.
Beberapa bulan setelah itu, ibu menikah untuk kedua kalinya. Aku kecewa sama ibuku. Kenapa dia cerai sama ayah trus nikah lagi sama kakek-kakek ucapnya”. Rahmi dan Zahra hanya diam menyimak.
3 bulan setelah ibunya menikah, semua kebahagiaan itu hilang begitu saja. Semuanya kacau, ibaratnya seperti permen karet yang hanya manis di awal. Ayah tiri Aci berubah menjadi seorang yang emosian, posesif dan kasar.
Aci pulang dan melihat keadaan rumah yang berantakan. Aci kaget. Ia berbisik di dalam hatinya, ” buset barusan apa yang terjadi ada perang dunia kah”. Terdengar suara ribut di balik tirai kamar ibunya.
“Kau ya, aku pulang dari tadi dari ladang ga kau kasi makan. Aku lapar. Ngerti ga sih. Orang cape dari ladang panas-panasan. Kerjaanku beda sama kerjaan kau. Kau kerja di kantor, aku di ladang. Kau kerjaanya duduk doang depan komputer, aku menggarap tanah, memupuk panas-panasan.
Kau selalu aja sibuk sama acara-acara kantor yang ga jelas itu sampe pulang malam”. Ia terus berdebat berdua hingga tidak menyadari Aci sudah pulang.
Aci mengambil pel dan mengepel lantai yang basah dengan bermusikan suara ayah dan ibunya yang sedang berdebat.
Malam harinya Aci terbangun karena ada suara pecahan kaca. Ia panik dan ia juga bingung apa yang harus dia lakukan. Ia menyimak dan berkata di dalam hati,” lagi dan lagi berulang kali, setiap hari selalu saja mendengar orang tuanya bertengkar.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.05 malam.
Ibu Aci masuk ke kamar Aci membangunkan Aci dan adiknya untuk mengajak Aci keluar dari rumahnya menuju ke rumah tantenya. Aci melihat wajah dan sekujur badan ibunya memar, ia tak tega melihat keadaan ibunya seperti itu. Tapi apalah daya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Malam ini Aci, ibu, dan adiknya menginap di rumah saudara ibu.
Setiap hari Aci melewati hari-harinya yang berat tapi dia tidak pernah memperlihatkan dan menceritakan kepada siapapun termasuk ibunya.
Aci berpikir tidak ada yang mau mendengarkan ceritanya, bahkan keluarganya. Aci selalu dibully oleh kakak dan adeknya. Ibunya tidak pernah membela Aci sedikitpun, jadi Aci hanya bisa memendam semua rasa yang ia rasakan baik itu senang atau sedih.
Aci juga pernah hampir mati di tangan ibu cuma karena masalah kecil. Haa?!! ucap Rahmi dan Zahra dengan serentak. Kok bisa?
Aci kembali bercerita. “Waktu itu aku sakit dan aku lupa masak (Nanak ) nasi, ibu sama ayah tiri aku pulang sedangkan nasi tidak ada sedikitpun. Ibu berteriak sambil membangunkan aku.
“Aci, kau kenapa ga masak nasi?! sambil menjambak rambut Aci. Aci kesakitan dan ibunya terus memarahinya. Aci menyela perkataan ibunya,” maaf Bu, Aci sakit Bu, Aci ga bisa masak nasi. Walaupun Aci sudah berkata dengan jujur, ibunya masi tetap menganggap kalo Aci seharian hanya bermain hp. Ibunya terus mengoceh dengan kata-katanya yang menyayat hati Aci. Ibu berjalan mengambil hp Aci yang terletak di atas meja. Aci ga mau hpnya disita karena semua tugas-tugasnya ada di sana. Aci meminta hp itu dengan baik kepada ibunya tapi ibunya tetap tidak mau memberikan hp itu. Ketika ibu Aci pergi ke kamar mandi, Aci mengambil hp itu. Maaf ya Bu, tapi semua tugas aku ada di sini. Ibu Aci yang menyadari hp itu hilang kembali merebutnya di tangan Aci. Sambil mengoceh dan menempelkan tangannya ke leher Aci hingga ia sulit bernapas ( cekik )
Aci menangis tersedu-sedu setelah ia menceritakan semuanya. Rahmi dan Zahra juga ikut menitihkan air mata, ia kembali memeluk erat Aci.
“Tapi Aci, kamu hebat bisa bertahan sampai detik ini dengan masalah yang seberat itu. Bahkan kita sebagai teman kamu tidak tau kalau kamu menghadapi masalah itu sendiri. Maaf ya Ci, kita ga ada di saat kamu butuh kita. Maaf kita ga bisa bantu kamu”.
Adzan Ashar pun berkumandang, mereka bertiga segera mengambil wudhu dan salat bersama. Selesai salat, Rahmi mengambil tali dan membawa tali itu pulang ke rumahnya agar tidak terjadi lagi hal yang tak diinginkan. Rahmi dan Zahra berjalan meninggalkan Aci. Aci kembali sendiri di rumah karena ibu, adek dan ayahnya pergi keluar kota.
*
Di sekolah Aci berbincang dan bermain menghabiskan waktu dengan temannya. Hari-hari dijalani dengan keceriaan bersama temannya. Aci sudah mulai lupa dengan rasa sakit di hatinya tapi tentu ia tidak akan pernah lupa dengan kejadian yang pernah terjadi di hidupnya.
