By Besse Zaskia Utami
Gilang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia anak yang baik, tapi cuek. Gilang tinggal bersama papa, mama, dan kedua kakaknya. Akan tetapi, kedua kakaknya tidak pernah menganggap dan mempedulikannya. Mereka merasa iri kepada Gilang yang semua kemauannya selalu dituruti oleh mama papanya.
Di kota itu, Gilang tidak berteman dengan siapa siapa. Karena dalam pikiran Gilang, dia tidak membutuhkan seorang sahabat atau teman lagi. Hal itu disebabkan karena Gilang pernah merasakan hal yang sangat menyakitkan,. Ia kehilangan seorang sahabat yang ia sangat sayangi, sahabat yang ada dikala senang ataupun sedih. Hal itu membuat Gilang trauma untuk mempercayai siapa siapa lagi karena masa lalu yang sangat susah dilupakan dan itu membuat Gilang menjadi anak yang suka menyendiri, cuek pada hal apapun, dan bodoh amat.
Suatu hari,keluarganya pindah ke kota lain, karena alasan pekerjaan. Namun alasan utama ayahnya menerima pekerjaan itu agar Gilang bisa melupakan masa lalunya, dan mulai membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Sore itu cuaca terlihat mendung. Gilang dan keluarganya lagi duduk di halaman rumah sambil mencicipi ubi goreng dan teh hangat yang dibuat oleh mama Gilang.
“Gilang, papa berharap kamu bisa melupakan semua masa lalu itu” ucap papa kepada Gilang membuka obrolan.
“Sama, mama juga berharap kamu bisa melupakan itu semua” kata mama menambahkan.
“Iya, ma.. pa.. Gilang juga ingin menutup lembaran lama. Gilang berharap mampu membuka lembaran baru di hidup Gilang, tetapi Gilang perlu waktu” katanya penuh harap.
“Mendingan, kamu berteman saja sama anak-anak yang ada disini, mama yakin mereka baik dan asyik semua kok!” Kata mama dengan senyum.
“Gimana ya ma?” ucap Gilang sambal menerawang ke langit-langit rumah.
“Coba aja dulu, siapa tahu dengan kamu memiliki teman, kamu bisa lupa masalah kamu dan bisa seceria dulu lagi”, kata mama sambil memegang Pundak Gilang.
” Ya, udah deh ma, Gilang akan coba” jawab gilang.
Di hari itu Gilang sudah mulai ceria kembali dan memiliki banyak teman, walaupun masih belum bisa melupakan masa lalunya 100%.
Suatu hari di kantin sekolah, Gilang duduk seorang diri sambil meneguk secangkir es teh. Tak berapa lama Rama teman kelas Gilang datang menghampiri.
“Hai Gilang, boleh gabung ?” sapa Rama.
“Iya, silahkan Ram” jawabnya sambil mempersilahkan Rama duduk di kursi sebelahnya.
“Bu, es tehnya satu ya, nggak usah manis, soalnya gua udah manis” pesan Rama ke ibu kantin dengan sedikit gombalan.
“siiiip mas Ram.” Jawab bu kantin sambil tersenyum mendengar kalimat Rama.
“Lang, gua perhatikan lu sering kali ngelamun dan mojok sendiri”kata Rama membuka obrolan
“Gilang, apa lu pernah mengalami hal tersulit dalam hidup lu?” tanya Rama.
“Hmmmmm….Iya, pernah. Gua pernah mengalami hal tersulit dalam hidup” jawab gilang
” Hal apa?” Tanyanya
“gua pernah kehilangan seseorang yang sangat gua sayangi” jawab Gilang sembari menghela nafas mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
“Tapi apa lu udah lupain masa lalu itu?”tanyanya lagi
“Ya, gua udah bisa menutup lembaran lama dalam hidup gua dan membuka lembaran baru” jawab Gilang.
“Bagus deh kalau gitu. Saya akan selalu ada disamping kamu untuk membantu melupakan kenangan pahitmu kawan. Keep strong ” katanya sambil menepuk Pundak Gilang.
Waktu pun berlalu begitu cepat. Gilang yang dahulu adalah anak yang cuek dan pendiam, kini berubah menjadi anak yang supel, ceria, dan terlihat semangat menjalani hari-harinya yang penuh dengan harapan dan masa depan yang cerah. Gilang berhasil menutup rapat-rapat kenangan masa lalu yang selalu menghantui dirinya. Hidupnya yang dulu kelam dibasahi oleh rintihan air hujan kini bermetamorfosis menjadi pelangi.
