Squel SASTRA
Jika endingnya akan berpisah,maka dia memilih untuk tidak pernah hadir di dunia. Buat apa bertahun-tahun bersama jika ujung-ujungnya akan berakhir? Apakah karena ini orang-orang selalu mengukir kenangan di setiap pertemuan? Agar mereka dapat memutar memori terindah yang pernah mereka alami.
Farhan mengusap batu nisan yang bertuliskan nama kembarannya. Firhan gugur dipelukannya,gugur demi menyelamatkan dirinya. Dibandingkan dia dengan Firhan. Firhan lah yang paling sempurna. Sudah setahun Firhan wafat. Besok hari harusnya hari kelulusan Farhan dan Firhan. Tapi,karena Firhan pergi duluan jadilah Farhan hanya merayakannya sendiri.
Selama kepergian Firhan,Farhan mati-matian untuk belajar,rajin membaca dan merubah dirinya dari malas menjadi ambis. Jika kalian berpikir SASTRA akan terbangkalai karena ketuanya sibuk belajar itu salah besar. Farhan masih selalu bermain ke basecamp di waktu kosongnya. Saat malam hari ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 dia segera kembali ke rumah.
“Ga nyangka yah . Loh udah setahun ajah ninggalin gue. Lo ga ada niatan buat balik gitu? Gue sepi tau di kamar sendiri mulu,” kata Farhan mengatakan keluh kesahnya selama Firhan pergi meninggalkannya.
“Gue udah ga keluyuran lagi Han. Gue selalu pulang tepat waktu. Balik sekolah juga gue langsung ke rumah. Gue udah ga pernah bolos Han. Dulu,semenjak ada loh gue selalu pulang malam ke rumah,tengah malam banget malah,loh tau ga sih gue nyesel. Nyesel karena terlalu banyak habisin waktu sama teman gue ketimbang bareng loh kembaran gue sendiri,” Farhan menunduk sebisa mungkin menahan rasa sakit yang dia alami.
“Andai waktu bisa diulang, gue mau ulang Han. Gue bakalan lebih sering di rumah bareng loh. Tapi nyatanya itu semua cuman pikiran bodoh gue Han.Gue pengin loh balik lagi Han, main bareng gue, belajar bareng gue,” Farhan tau berbicara dengan batu nisan memang hal bodoh karena sekeras apapun dia berbicara dia juga tidak akan mendapatkan jawaban. Tapi, jika Farhan curhat begini,dia seolah-olah tengah berbicara dengan Firhan.
“Buku-buku loh di rumah udah gue baca,bahkan buku loh yang Fiksi itu udah gue baca semua Han. Buku yang buat loh senyam-senyum di kamar,gue juga udah baca Han. Ternyata baca buku seseru itu yah, pantas aja loh suka banget,” Farhan terkekeh pelan.
“Besok hari kelulusan Han. Hari yang paling dinanti-nanti dimasa abu-abu. Besok juga penerimaan Raport, gue ga tau apa kah nilai udah bagus. Tapi,gue selalu berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kemarin.Gue bakalan jalanin amanat yang pernah loh titip ke gue Han, setidaknya lewat jalur ini gue bisa buat loh bahagia,” kata Farhan kembali mengusap batu nisan itu.
“Gue balik yah? Loh harus tetap bahagia,karena gue selalu berusaha untuk bahagia,” kata Farhan tersenyum lalu beranjak pergi.
Sekarang sudah sore, Farhan akan segera kembali ke rumah. Dia yakin kedua orang tuanya sudah berada di rumah. Semenjak Firhan pergi, mereka sangat jarang lembur,selalu kembali sebelum Magrib,mereka takut kejadian kemarin akan terulang kembali.
“Assalamualaikum,” ucap Farhan ketika memasuki rumah.
Terlihat kedua orang tua nya tengah bersantai. Mama yang nonton Tv dan Papa yang sedang membaca koran.
“Waalaikumsalam.Dari mana?” Tanya Mama menoleh ke arahnya.
Farhan segera menghampiri kedua orangtuanya,lalu mencium tangannya sebagaimana rutinitas yang dia selalu kerjakan sebelum pergi dan baru kembali.
“Dari…. Rumah Abi Ma,” jawabnya berbohong.
Jika dia mengatakan bahwa dia dari pemakaman Firhan,yang ada nanti Mamanya kembali sedih. Hal yang menyangkut Firhan akan membuat luka Mama kembali tergores.
“Ngapain sore-sore ke rumah Abi?” Tanya Mama lagi.
Farhan dengan segera mendudukkan tubuhnya di samping Mama,”Main doang. Sekaligus tanya-tanya nanti lanjut di mana,” lagi dan lagi Farhan kembali berbohong.
“Farhan sendiri gimana? Mau lanjut di mana?” Kata Papa sambil menutup korannya.
“Keluar negeri boleh kan Pa?” Tanya Farhan hati-hati. Sebenarnya meninggalkan negara kelahirannya sungguh berat. Tapi sedari kecil dia dan Firhan sudah merencanakan jika suatu saat nanti mereka akan kuliah di luar negri. Dan sekarang Farhan kembali menjalaninya dengan sendiri.
“Hemm… Andai aja Abang kamu masih ada. Kalian pasti akan sama-sama keluar negri,” kata Mama menghela nafas.
Farhan mengatupkan kedua bibirnya, sepertinya dia sedang salah bicara. Niat hati ingin menghindari malah terjebak.
“Rencananya mau daftar di mana?” Tanya Papa tak menghiraukan Mama yang sepertinya akan kembali bersedih.
“Siam university Pa,” jawab Farhan tanpa ragu-ragu.
“Thailand?” Tanya Papa kembali yang di angguki oleh Farhan.
Menghela nafasnya,Papa menepuk kedua pundak Farhan seraya berkata,”kejar apa yang kamu mau. Papa tunggu hasilnya.”
Farhan lagi-lagi mengangguk mendengar ucapan Papa. Sepertinya dia sudah mendapatkan lampu hijau. Dia kembali menoleh kepada wanita di sampingnya yang tengah melamun.
Dengan hati-hati Farhan menyentuh pundaknya,”Ma. Boleh kan?” Tanya Farhan dengan hati-hati. Saat Mama menatapnya, dia menundukkan kepalanya,takut akan respon Mama selanjutnya.
“Kejar apa yang kamu inginkan selagi kamu mampu. Tapi ingat rumah kamu ada di sini,jangan lupa kembali,” kata Mama menatap Farhan dengan lekat-lekat.
Mendengar respon Mama yang ternyata baik,Farhan dengan segera merengkuh Mama, mengucapkan terimakasih kepada Mama.
*******
Sesuai pengumuman yang disampaikan pihak sekolah bahwa hari ini adalah hari penentuan lulus serta naik tidaknya siswa.
Pagi-pagi sekali Farhan ke sekolah. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di sekolah, sebelum semuanya kembali terpisahkan oleh jarak.
“Woi bro apa kabar loh?” kata Radit beradu jatos dengan Farhan.
“Baiklah. Loh sendiri gimana?” Kata Farhan bertanya balik. Semenjak selesai UN mereka jarang bertemu dikarenakan mereka-mereka ini mengisi waktu luangnya dengan liburan.
“Baik dong. Kalau gue ga baik ga mungkin gue berdiri di sini,” jawab Radit diselingi candaannya.
“Kok gue jadi gemetar yah penerimaan raportnya. Kalau gue ga lulus gimana dong? Bisa malu emak sama bapak gue,” kata Radit kembali bersuara.
“Bakalan lulus lah. Tapi, kalau masuk 10 besar ga yakin sih gue,” sahut Vito dari arah belakang.
“Itu mah salahnya di Radit. Udah tau mau ujian, malah ngadem doang di basecamp,” kata Abi.
“Suntuk banget tau di rumah belajar doang kerjanya.”
“Nah kalau gitu jangan berharap lebih sama nilai loh,soalnya belajar ajah loh suntuk gimana sama nilainya,” sahut Farhan seraya mengambil ranselnya yang tadi dia simpan.
“Noh dengar tuh,” teriak Vito ke arah Radit.
“Cabut. Bentar lagi pengumuman,” kata Farhan melirik jam di pergelangan tangannya.
Banyak yang tegang saat MC mulai membacakan peringkat. Tegang karena takut nilainya menurun atau bahkan lebih parahnya tidak lulus.
Di tengah-tengah kedua orangtuanya Farhan hanya mampu berdehem berusaha menghilangkan rasa gugupnya yang tiba-tiba menyerang.
“Apa-apaan masa pengumuman gini gue jadi gugup. Duel bareng ketua geng ajah nggak,” batin Farhan.
MC sudah menyebutkan nama-nama siswa yang tergolong kedalam 10 besar, terhitung sudah di peringkat 3 namun nama Farhan tak kunjung muncul.
Farhan hanya mampu menghela nafas saat MC kembali menyebut nama yang menduduki peringkat 2. Mungkin namanya tidak masuk ke 10 besar.
Menundukkan kepalanya,seraya mengucapkan Maaf. Maaf karena belum bisa membanggakan kedua orangtuanya berserta Abang kembarannya yang telah pergi.
“Baiklah peringkat pertama di raih oleh….FARHAN FRADITYA!” Suara lantang MC menggema di gedung sekolah.
Farhan yang tadinya tidak punya semangat kini mendongak menatap Mama dan Papa secara bergantian, berharap ini bukan mimpi, jika ini mimpi tolong jangan ajarkan dia untuk bangun.
“Ma? Pa?”
“Congratulations! Kamu berhasil,” seru Mama.
Papa menatap haru kepada puteranya. Puteranya yang dulu nakal kini berhasil mengubah dirinya menjadi yang terbaik.
“Selamat anak Papa,” kata Papa memeluk Farhan.
Tanpa terasa air mata Farhan menetes. Dia berhasil,yah berhasil membanggakan kedua orangtuanya. Jika biasanya Firhan yang selalu membuat kedua orangtuanya bahagia, sekarang dirinya lah,dan itu semua karena Firhan yang menitipkannya amanat.
Farhan melangkahkan kakinya ke atas panggung mengambil penghargaan yang dia dapat,serta menyampaikan sepatah kata kepada temannya.
“Saya anak kecil yang suka berantem,yang selalu buat guru BK pusing hadapin tingkah saya,” kata Farhan setelah mengucapkan salam pembuka.
“Mungkin kalian semua ga nyangka sama pencapaian saya saat ini,sama kok saya juga ga nyangka. Tapi seiring berjalannya waktu catatan BK nama saya mulai kosong, penilaian tugas saya mulai terisi, membuat saya yakin kalau ternyata saya bisa dan itu semua berkat perubahan diri saya dari malas jadi rajin. Dari yang bodoh amat jadi uring-uringan kalau saya ga bisa mecahin masalah soalnya,” kata Farhan mengucapkan curahan hatinya.
“Tahun kemarin, Abang saya-Firhan yang selalu ada di tempat ini,selalu bicara ucapin terima kasih kepada semua dewan guru dan ucapin Terima kasih sama Mama dan Papa. Tapi,kali ini bukan Abang saya lagi yang ada di sini.”
“Seharusnya sekarang Abang saya yang berdiri di sini,bukan saya. Tapi Abang saya terlalu pergi cepat ninggalin saya,nitipin banyak hal sama saya yang harus saya capai. Dan berdiri di sini mungkin salah satu titipan dia yang saya berhasil capai,” Farhan menjeda ucapannya menghirup oksigen banyak-banyak.
“Teruntuk manusia kutu buku, yang selalu suruh saya cepat balik ke rumah. Terima kasih karena sudah mengajarkan saya banyak hal yang belum saya tahu. Kepergian kamu berhasil menampar saya betapa pentingnya kebersamaan. Saya selalu berharap kamu bisa bahagia di alam kamu sendiri and Thank you for everything.”
Karena penyesalan selalu berada di akhir kisah,yang ada di awal kisah namanya prolog.
