Oleh: Ulva Mega Puspita
Hampir setiap malam sebelum tidur, Zarah selalu duduk di dekat jendela kamarnya dan memutar lagu KU RINDU IBU yang dinyanyikan oleh Rizky Febian sambil memeluk foto ibunya yang memakai gamis berwarna coklat yang diambil saat lebaran 5 tahun lalu.
Zarah semakin larut dalam kerinduan. Dia terus menatap langit yang dihiasi bintang-bintang. Sesekali angin bertiup seakan ingin menawarkan bantuan.
“Rasanya aku ingin menitipkan rinduku ini agar angin membawanya ke mama di alam surga”, batinnya. Zarah tak kuasa membendung air matanya.
Sambil terus menatap langit Zarah melihat ada satu bintang yang bersinar begitu terang. “Apa itu mama?”
“Maa… gak terasa sudah bertahun-tahun mama pergi, tapi aku belum bisa ikhlas dan menerima semuanya.
Ma… Zarah tuh kangen banget sama mama. Kenapa mama pergi secepat itu?
Kenapa mama pergi di saat Zarah belum siap untuk kehilangan?” Zarah terus menangis.
“Ma… sekarang anakmu ini sudah tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu.
Aku selalu iri melihat teman-temanku yang masih bisa merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, sedangkan aku hanya bisa peluk foto mama.
Bahkan ketika teman-temanku bercerita tentang ibu mereka, aku hanya terdiam sambil berusaha menutupi kesedihanku. Temui Zarah Ma… walaupun cuma lewat mimpi”.
Keesokan harinya….
“Pagi pa!”
“Pagi sayang, sini sarapan bareng papa”.
Zarah menghampiri papanya yang dari tadi menunggunya di meja makan.
“Loh kok mata kamu bengkak gitu? kamu habis nangis yah?” tanya papa.
“Nggak kok pa, semalam Zarah susah tidur”, jawab Zarah.
“Zarah kamu jangan bohong sama papa, kamu pasti habis nangis kan?”
“Hmm… iya pa, semalam Zarah kangen banget sama mama. Tapi papa harus tahu kalau semalam Zarah mimpi ketemu sama mama.
Zarah lihat mama datang dan menghampiri aku dan berkata,
“Nak, mama gak mau kamu terlalu larut dalam kesedihan, kamu harus bisa melanjutkan hidup kamu tanpa mama.
Mama tahu kamu itu gadis yang kuat, mama gak mau lihat putri kecil mama meneteskan air mata.
Ingat masa depan sedang menanti kamu. Kamu mau kan melihat mama bahagia?”
Mama ngomong gitu sama Zarah pa” Lanjut Zarah menceritakan isi mimpinya.
“Nak, kamu harus bisa ikhlasin kepergian mama kamu. Mimpi kamu itu pertanda kalau mama gak bahagia lihat Zarah terus-terusan menangis setiap malam”.
“Iya pa, Zarah akan berusaha untuk berdamai dengan kenyataan”.
Zarah berusaha untuk kelihatan tegar di hadapan ayahnya namun hatinya begitu rapuh.
“Mendingan kalau Zarah rindu sama mama, Zarah ambil air wudhu lalu sholat. Doain mama”.
“Iya pa”, ucap Zarah dengan meneteskan air mata.
Yang berat itu bukan rindunya Dilan kepada Milea, tapi rindu kepada seseorang yang telah kembali ke pelukan Rabb-nya.
Penulis : Ulva Mega Puspita
Kelas: XII IPA
Asal Sekolah: SMAs Haji Agus Salim Katoi
Kabupaten Kolaka Utara
