Oleh : Ulva Mega Puspita
Jam menunjukkan pukul 08.00 wita. Aku bergegas memasuki gerbang sekolah dan yaa tepat di depan pintu kelas bel berbunyi. “Huftt…” aku menghela nafas lega. Akhirnya aku tidak terlambat.
“Sekian materi hari ini,kita lanjut pada pertemuan berikutnya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Guruku menutup kelas hari ini.
“Terima kasih pak! waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, balas kami bersamaan.
Setiap pulang sekolah aku selalu mengayuh sepeda untuk menjual kue bikinan ibu.Terkadang aku berpikir kenapa aku tidak lahir di keluarga yang kaya. ,”coba aja bapak dan ibu orang kaya pasti aku gak harus keliling mengayuh sepeda untuk menjual kue dan ke kebun membantu bapak dan berperang dengan panas matahari”. ketusku.
Keesokan harinya aku diantar bapak dengan motor kebunnya. Semua mata tertuju padaku. Yaa.. mereka bertanya-tanya kenapa aku bisa sekolah di SMA elit ini sedangkan aku hanya anak petani.Maklum mayoritas siswanya anak orang kaya yang setiap hari diantar dan dijemput mobil mewah.Aku sekolah di sini lewat jalur beasiswa. Bahkan untuk mendapatkan beasiswa ini aku harus belajar mati-matian.
Setelah jam istirahat, aku duduk di taman sekolah sambil memikirkan nasibku dan tiba-tiba Dara mengejutkanku dan membubarkan lamunanku.
“Fira kok sendiri aja di sini?” tanya Dara dengan memegang pundakku.
“Ehh Dara,aku cuma mau menghirup udara segar” jawabku.
“Fir , aku mau nanya sama kamu, kenapa sih setiap jam istirahat kamu selalu duduk sendiri di sini?” tanya Dara.
“Haha.. biasa lagi mikirin nasib”, jawab Fira dengan nada bercanda. Dara hanya tersenyum mendengar perkataan Fira.
“Hmm Dar , kamu enak yah, orang tua kamu kaya raya,setiap hari kamu diantar ke sekolah pake mobil mewah.Sedangkan aku cuma diantar bapak pake motor kebun. Semua kebutuhan kamu juga terpenuhi. Lah aku …sekolah di sini juga cuma karena beasiswa”,ucapku dengan mengungkapkan rasa iri kepada Dara.
“Fir,kamu pikir semua yang lahir di keluarga kaya itu enak? ya memang semua kebutuhanku terpenuhi, tapi aku tidak bahagia.Orang tuaku tidak punya waktu untuk aku.Mereka hanya sibuk kerja,bahkan ketika di rumah aku seperti dipenjara hanya berteman dengan si mbok pembantu rumahku.Mereka juga selalu menuntut aku harus seperti ini seperti itu tanpa bertanya apa aku bahagia atau tidak”.Ucap Dara meneteskan air mata.
“Bahkan kamu jauh lebih enak walaupun dari keluarga sederhana tapi kamu bahagia orang tua kamu punya waktu untuk kamu. Kamu harus lebih bersyukur dan mencintai diri kamu sendiri. Lihat, banyak anak orang kaya yang tidak memiliki etika karena orang tua mereka tidak punya waktu untuk mendidik mereka”. lanjut Dara.
Aku hanya terdiam mendengar curahan hati Dara.Bel masuk berbunyi, aku dan Dara berjalan memasuki kelas.
Di dekat jendela kamar, aku terus memikirkan perkataan Dara sambil menatap bintang di langit. Ternyata lahir di keluarga kaya dan serba berkecukupan tidak seenak yang kubayangkan.Seharusnya aku lebih mencintai diriku dan keluargaku walaupun sederhana tapi penuh kehangatan.
Dan sekarang aku menjalani hari-hariku dengan tidak pernah mengeluh lagi. Aku selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Walaupun sederhana,tapi aku bahagia.
Namanya juga manusia, pasti tidak pernah puas dengan yang mereka punya dan selalu mengeluh tanpa melihat begitu banyak nikmat yang diberikan Tuhan dengan cara yang berbeda.
