Oleh : Nur Aliyah
Hai, gue Jeza. Jeza Mahardika. Kali ini aku akan berbagi kisah dimana gua bertemu dengan seseorang yang bisa kasih semua hal yang ga pernah aku dapet walau kebahagiaan itu cuma sementara.
Hari itu atau lebih tepatnya 28 Mei 2019, adalah hari pertama gua masuk sekolah sebagai anak kelas 12, dan ya seperti biasa gua bakal selalu bareng Hanan dan Naren.
Jeza, Hanan dan Naren bisa dibilang masuk golongan siswa yang populer di kalangan wanita. Oleh karena itu mereka kadang bertindak seenaknya.
Saat istirahat pun tiba, aku bareng Naren dan Hanan menuju kantin. Namun pada saat itu kantin sedang ramai dan tempat duduk habis. Akan tetapi ada segerombolan wanita yang menawarkan tempat duduk, dan ya dugaan gua bener itu Aluna atau kerap disapa Luna.
Hanan yang tak tau malu pun menuju ke meja gadis itu, lalu disusul oleh Jeza dan Naren. Luna dan Hanan adalah sepasang kekasih. Itulah mengapa Luna dan teman- temannya bisa deket sama Jeza, Hanan dan Naren.
Dan ini resiko lo semeja sama orang bucin. Setiap saat lo akan disuguhi dengan perilaku mereka yang mungkin bisa buat lo muak seperti Jeza yang sepertinya sudah muak melihat Luna dan Hanan.
Jeza mengalihkan pandangan ke arah lain dan tanpa sengaja menatap seorang gadis cantik yang tepat berada persis di depan Naren.
“lo kenal gadis yang di depannya Naren?” tanya Jeza.
“Itu temen gue, anak pindahan”, Luna menjawab pertanyaan Jeza.
“Namanya siapa? selidik Jeza.
“Kanaya Mahira Khaira” ucap Luna.
Dan pada saat itu Jeza mengetahui bahwa nama gadis cantik itu ialah Kanaya. Kanaya Mahira Khaira. Seorang gadis kelas 11 yang menarik perhatian Jeza.
Dan waktu pun menunjukkan pukul 13:00 tandanya jam pembelajaran akan segera dimulai. Waktu jam pembelajaran sejarah, Jeza merasa bosan dan ingin keluar dari kelas.
“Lo bosen ga? mau cabut atau gimana?” tanya Jeza kepada Hanan.
“Gas ajalah” jawab Hanan.
Dan bagi kalian yang bingung kenapa Jeza ga ngajak Naren, karena Naren itu tipikal siswa nakal tapi mbois, jadi percuma dia ga bakal mau.
Saat ini Jeza dan Hanan sedang berjalan ke kantin. Di perjalanan menuju kantin, Jeza tanpa sengaja kontak mata dengan Kanaya. Jeza menarik simpul di bibirnya yang nyaris tidak terlihat namun Hanan mengetahuinya.
“Lo demen sama anak baru itu?” ucap Hanan.
“Gila aja lo”,Jeza menjawabnya dengan sedikit cemberut.
“Terus tadi lo ngapain nanyain dia ke gua?” balas Hanan.
“Kepo lo, urusin diri lo sendiri” jawab Jeza.
Jeza dan Hanan telah tiba di kantin. Seperti biasa mereka hanya akan membeli sebat lalu kembali ke kelas. Semenjak kejadian Jeza kontak mata dengan Kanaya, Jeza semakin penasaran dengan sosok Kanaya. Dan sepertinya dunia pun sedang berpihak kepada Jeza karena pada waktu pulang tanpa sengaja bertemu dengan Kanaya.
Tanpa membuang buang waktu Jeza mengajak gadis itu berbicara, atau lebih tepatnya untuk berkenalan. Jeza pun menghampiri gadis itu lalu mengulurkan tangan dan berkata
“gua Jeza. Jeza Mahardika”.
“Jeza temennya Luna ya? aku Kanaya Mahira Khaira, panggil aja Kanaya”,ucap Kanaya lirih.
“Iya, btw gua boleh manggil lo Naya?” ujar Jeza
“Boleh kok” jawab Naya sambil tersenyum ke arah Jeza.
“Lo ngapain sendiri disini?” Jeza bertanya lagi.
“Lagi nunggu jemputan” balas Naya.
“Gua anter ya?” tawar Jeza
“Ehmm ga usah, deket juga kok” tolak Naya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Jeza pergi meninggalkan Naya.
Naya merasa tidak enak karena telah menolak tawarannya dan Naya merasa Jeza marah kepadanya karena hal itu. Namun ternyata Jeza meninggalkan Naya sendiri karena Hanan dan Naren sedang berjalan menuju ke arahnya.
Sesampainya dirumah, Jeza merogoh sakunya dan mengeluarkan handphonenya, dan disitu terlihat ada satu pesan yang masuk dari nomor yang tidak dikenal. Jeza mengerutkan keningnya. Dia bingung mengapa orang itu meminta maaf kepadanya.Dan ternyata orang itu adalah Kanaya. Jeza kebingungan mengapa Kanaya meminta maaf kepadanya, lalu ia mengingat kembali kejadian saat dia dan Kanaya berbicara di parkiran, dan Jeza akhirnya mengetahui alasan mengapa Naya meminta maaf kepadanya.
Hari demi hari sejak kejadian di parkiran kemarin, Jeza dan Naya semakin dekat. Tiap hari mereka selalu berangkat bersama ke sekolah. Jeza bahkan rela menjemput Naya di tempat kursusnya. Jeza menyukai Naya dan merencanakan untuk mengungkapkan perasaannya pada keesokan harinya yaitu hari di mana Jeza dilahirkan ke dunia.
Keesokan harinya Jeza mengirimkan pesan singkat kepada Naya. Jeza menyuruhnya untuk ke taman dekat sekolah. Naya tampak kebingungan namun tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti permintaan Jeza. Dan tanpa sepengetahuan Naya, Jeza sudah menyiapkan segalanya. Jeza berencana akan menjadikan Naya miliknya seutuhnya.
Di sisi lain Naya sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Jeza dengan menggunakan taxi. Namun apalah daya tidak ada yang mengetahui takdir, hari itu taxi yang ditumpangi oleh Naya mengalami kecelakaan. Dan Naya segera dilarikan kerumah sakit dengan darah yang berceceran dimana-mana.
Parahnya Jeza belum mengetahuinya. Jeza tidak tau apa – apa. Jeza hanya menunggu Naya di taman dengan perasaan kecewa. Jeza pikir Naya hanya main – main dengannya. Sampai akhirnya, Jeza menerima sebuah panggilan dari Luna yang menangis tersedu-sedu. Jeza bertanya kepada Luna.
“Lo kenapa nangis? soal Hanan?” ujarnya.
“Bukan Hanan, tapi Kanaya” balas Luna
“Kanaya kenapa? gua nungguin dia dari tadi ga dateng-dateng” jawab Jeza
“Jeza, Kanaya..” Luna tidak melanjutkan kata-katanya.
“Lo apaan sih? ga jelas banget, Kanaya kenapa?” serang Jeza.
“Kanaya udah ga ada, Za” jawab Luna lirih.
Jawaban dari Luna membuat dunia Jeza berhenti. Jeza terdiam mencerna semuanya. Jeza tidak bisa mengatakan apa – apa selain berlari ke arah motornya sambil meneteskan air mata. Sesampainya di tujuan Jeza bergegas menuju ke ruangan Naya, dan ternyata di depan ruangan itu sudah banyak kerabat Naya termasuk Hanan dan Luna yang menitikkan air mata.
Jeza tidak mendatangi pemakaman Kanaya. Jeza masih belum bisa menerima semuanya. Jeza juga merasa dunia sangat tidak adil kepadanya. Di sisi lain pemakaman Kanaya telah selesai.
Hanan dan Naren mendatangi rumah Jeza.namun mereka mengetahui kalau Jeza tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Maka dari itu Hanan hanya menaruh kotak berwarna coklat itu di depan pintu rumah Jeza, dan mengirimkan pesan singkat kepada Jeza.
Setelah Jeza melihat pesan dari Hanan, dia bergegas turun untuk mengambil kotak itu. Jeza menitikkan air mata (lagi) setelah melihat kotak pemberian dari Naya. Dan Hanya ini satu satunya yang Jeza punya.
Teruntuk Kanaya Mahira Khaira, gadis cantik yang mampu membuatku merasakan nyaman, yang mampu membuatku merasakan indahnya jatuh cinta, namun sayang kamu harus pergi secepat ini. Dan semoga kita bisa bertemu dilain waktu. Walau karena kepergianmu membuat hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaanku namun malah menjadi hari keburukanku.
Jeza Mahardika
— Sabtu, 23 Oktober
