Oleh: Asywaq Fakhriah
Ayahku adalah sosok yang sangat kuat. Namun, di balik ketegarannya, ayah menyimpan trauma yang membuatnya tidak ingin berobat. Kami berkali-kali membujuknya agar memeriksakan kesehatannya, tetapi ayah selalu menolak. Saat itu aku tidak pernah berpikir bahwa penolakan itu akan menjadi awal dari perpisahan kami.
Sebelum ayah pergi, ternyata Allah telah menunjukkan begitu banyak tanda. Namun, aku tidak menyadarinya sama sekali. Suatu hari, ayah memutar video yang berisi lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayah tertidur sambil mendengarkannya dengan wajah yang begitu tenang. Saat itu aku menganggapnya sebagai kebiasaan biasa. Aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling membekas di hatiku.
Ketika kondisi ayah semakin memburuk, beliau akhirnya dibawa ke rumah sakit. Di sana, keadaan ayah sempat membaik sehingga kami semua kembali memiliki harapan. Saat itulah ayah berkata kepadaku dengan suara yang lembut, “Nak, sayangka dulu.” Namun, aku tidak sempat memenuhi permintaan itu karena aku tidak berhasil sampai di sisi ayah. Ayah hanya tersenyum dan tertawa kecil. Saat itu aku tidak menyangka bahwa itulah permintaan terakhir yang akan kudengar darinya.
Beberapa hari kemudian, ayah mengalami koma selama dua hari. Hingga akhirnya, pada hari Jumat, 26 Juni 2026, tepat pukul 06.40 pagi, ayah mengembuskan napas terakhirnya.
Aku masih ingat dengan sangat jelas detik-detik itu. Aku berdiri di sana dan melihat dengan mata kepalaku sendiri ayah mengembuskan napas terakhirnya. Dalam hitungan detik, semuanya berubah. Saat itulah aku merasa benar-benar kehilangan. Rasanya seperti duniaku runtuh seketika. Tangisku pecah, tetapi waktu tidak bisa dihentikan. Aku hanya bisa memandangi ayah yang kini telah tenang, sementara hatiku terasa kosong dan hancur. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir aku bisa melihat wajah ayah.
Hari itu menjadi hari yang tidak akan pernah bisa kulupakan. Tanggal itu juga memiliki makna tersendiri bagi keluargaku, karena angka 6 adalah angka favorit ibuku.
Setelah ayah benar-benar pergi, barulah aku menyadari semua tanda yang selama ini ada. Aku teringat ayat-ayat Al-Qur’an yang beliau dengarkan, perubahan sikapnya, senyum terakhirnya, dan permintaannya agar aku memeluknya. Semua kenangan itu kini terus berputar di pikiranku.
Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah tidak menuruti permintaan terakhir ayah. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku akan berlari memeluk ayah seerat-eratnya tanpa menunda sedikit pun. Namun, aku tahu waktu tidak akan pernah kembali.
Kini yang bisa kulakukan hanyalah mendoakan ayah setiap hari. Aku percaya kasih sayang seorang ayah tidak akan pernah hilang, meskipun beliau telah tiada. Ayah akan selalu hidup di dalam doa, kenangan, dan setiap langkah hidupku.
Ayah, maafkan aku. Maaf karena aku tidak sempat memenuhi permintaan terakhirmu. Aku merindukanmu setiap hari. Kehilanganmu mengajarkanku bahwa waktu bersama orang yang kita sayangi adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan. Semoga Allah mengampuni segala dosamu, melapangkan kuburmu, memberikan cahaya di alam kuburmu, dan menempatkanmu di surga Firdaus. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
