Halo, namaku Seraphina, atau panggil saja Sera. Tak ada apa-apa, aku hanya ingin berbagi cerita, tentang pahit manisnya kisah cinta yang kukira akan berakhir bahagia, tapi ternyata yang terjadi sebaliknya. Ini adalah kisah cinta kita. Aku, dan Arka.
Kilas balik pada kejadian yang membuat sepasang netra kita menyatu, saling melihat, dan mulai saling mengenal. Aku tidak akan pernah lupa, bagaimana pertemuan kita sore hari itu. Aku sedang menghabiskan waktu dengan membaca beberapa novel di perpustakaan, sedang kau menghabiskan waktu melihat-lihat beberapa komik aksi agar tidak bosan menunggu temanmu yang beberapa menit lalu mengatakan akan tiba sebentar lagi untuk menemanimu mengerjakan soal geografi, namun nyatanya ia masih membaringkan tubuh di kasur kesayangannya.
Seolah sengaja dipertemukan oleh semesta, kau yang terlebih dahulu menyapaku dengan sikap kakumu itu. Dan kalau diingat-ingat lagi, cukup lucu.
“hai, sera ya?” katamu,sambil menunjukkan sikap canggungmu itu. Aku heran mengapa kau bisa mengetahui namaku. Tetapi aku tetap membalas “hai, oh iya benar. Ini sera, kamu siapa?” konyol. Dua orang yang cukup canggung dan tidak terlalu handal dalam bersosialisasi disatukan ditempat yang sama. Kemudian kau mengulurkan tanganmu, “Arka, katamu.
Hari itu, di hari kita bertemu, seandainya aku tidak menjawab sapaanmu, apakah kita akan tetap dipaksa bertemu oleh semesta? atau, apakah kita sama sekali tidak akan pernah saling mengenal? Jujur saja, aku cukup menyesal menerima uluran tanganmu sembari berkata “salam kenal, Arka” . Aku tidak pernah membayangkan salam kenal yang kukatakan tadi bisa membawaku dalam rentetan peristiwa menyakitkan ini.
Kurasa cukup dengan kisah awal mula kami berkenalan, sekarang akan kuceritakan kenapa aku dari tadi menyebut kisahku menyedihkan.
Bermula pada saat kita bertemu kemudian berkenalan, tidak tahu kenapa kita menjadi dekat. Sangat dekat. Bahkan menempel. Kau menjadi wadah untuk menampung setiap kekesalan yang menumpuk di benakku. Aku menjadi tumpuan kau bersandar, menjadi support system dalam segala hal yang kau lakukan. Tanpa kita sadari, aku menemukan rumah dalam dirimu, kau menemukan tujuanmu untuk pulang.
Setiap jam, hari, minggu, bulan dan tahun kita lalui tanpa adanya sedikitpun perselisihan walaupun kita tidak cocok dalam banyak hal. Selera musik contohnya, aku menyukai genre country-pop, sedang kau menyukai genre ballad. Warna kesukaanku adalah merah muda dan ungu, sedangkan kau hitam dan abu abu. Kita sama sekali berbeda, tetapi tetap saja, kita semakin hari semakin dekat. Saling melemparkan lelucon aneh. Mungkin satu hal yang benar-benar membuat kita bisa nyambung adalah buku.
Meskipun, sekali lagi selera buku kita berbeda, aku menyukai genre fantasi sedangkan kau menyukai buku ilmiah yang mengutamakan logika. Namun, kita tidak pernah kehabisan topik, mau penting atau tidak, akan kita bahas semuanya, lucu. Sangat lucu masa-masa itu.
Sampai disini, kalian pasti heran dan mungkin menebak-nebak. Apabila kalian sangat cocok, tidak pernah kehabisan topik, dan sudah sangat dekat, mengapa tidak jadian saja? Percayalah, aku juga sering menanyakan hal yang sama berulang kali padanya, biasanya dia hanya diam, termenung. Sampai akhirnya mungkin dia sudah muak dengan segala pertanyaan-pertanyaanku yang menyebalkan, dia pun memberi alasan.
Alasannya sederhana. Takut. Cemas. Waspada. Latar belakang keluarga yang tidak harmonis membuatnya takut untuk memulai sebuah hubungan. Bagaimana bila kami saling menyakiti satu sama lain? Bagaimana jika suatu saat salah satu dari kami akan bosan, dan pergi meninggalkan yang lainnya? Bagaimana jika kita akan berakhir tidak bahagia? Bagaimana? Mengapa? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Semua kekhawatiran atas pertanyaan-pertanyaan tadi sudah lama dibendung olehnya dan akhirnya tumpah. Arka mengatakannya. Semua pertanyaan-pertanyaan seperti tadi sudah lama menghantuinya, dan aku terlalu bodoh karena telah menjadi orang yang hanya bisa menuntut.
Setelah menjawab, dia menangis. Saat itu, aku ingin membantah semua omongannya dan mengatakan semua akan baik baik saja, tapi kalau sudah seperti ini, aku bisa apa?
Setelah pertemuan itu, awalnya kukira aku bisa. Aku bisa mempertahankan hubungan kita yang abu abu. Aku bisa bersikap biasa saja setiap ada perempuan yang terang-terangan menunjukkan ketertarikannya padamu. Aku bisa menerima kenyataan bahwa kita hanyalah sebatas teman, dan bahwa aku tidak akan pernah bisa menyebutmu milikku. Nyatanya tidak. Sama sekali tidak.
Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi seminggu setelah kejadian itu kau menjauh. Dan aku merasakan ada tembok besar yang membatasi kita. Dinding penghalang yang tidak akan pernah bisa aku temukan ujungnya. Kau berkalut dengan duniamu sendiri dan tak membiarkanku masuk. Kita sudah berbeda, kau bukan Arka yang ku kenal. Kita sudah menjadi orang asing.
Perlahan-lahan kusadari, kita memang tidak bisa bersatu. Aku terus memikirkan peristiwa hari itu. Pikiranku berkata “kamu bisa, jalani saja seperti ini dulu” tapi sebaliknya, hatiku menjawab “mau dijalani sampai kapan?”
Pada akhirnya aku menyerah, dan melepasmu. Aku berhenti mengganggu mu, aku berhenti menunggumu di perpustakaan tempat kita biasanya sibuk membaca buku, aku berhenti membuatmu pusing dengan teori buku fantasi ku, aku benar-benar berhenti menemuimu.
Bak pasir yang disapu oleh ombak, kau pudar, dan lama lama menghilang. Sejak hari kelulusan kita kala itu, aku tak lagi pernah melihat kehadiranmu. Kau benar-benar menghilang, berdasarkan novel fantasi yang kubaca, kau seperti telah dikalahkan oleh semacam mantra dan hilang untuk selama-lamanya.
Aku pernah berkata, tanpa kita sadari, kau adalah rumahku, aku adalah tujuanmu untuk pulang. Tapi sekarang, tanpa kita sadari, kau hanyalah tempat singgahku, aku hanyalah tempatmu berteduh sejenak.
Hei Arka, Terimakasih. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Terima kasih atas segala perhatianmu, atas segala pengorbanan yang kau berikan padaku. Terima kasih atas pelajaran dan pengalaman berharga yang kau berikan padaku. Terima kasih karena telah membuatku melihat warna-warna yang kau tahu tidak akan pernah kulihat dengan orang lain. Terima kasih karena telah mengajarkanku bahasa yang tidak akan pernah bisa kupakai dengan orang lain. Terima kasih untuk semuanya.
Arka, maaf. Maaf aku tidak bisa membuatmu merasa aman, nyaman, dan maaf aku juga tidak bisa berjanji bahwa kau akan bahagia selamanya denganku. Maaf aku tidak bisa memberi jaminan bahwa kau tidak akan pernah merasakan pedihnya cinta dan ditinggalkan. Maaf aku tidak bisa memberimu jaminan yang kau mau.
Dipikir-pikir lagi, jika aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan pernah menyesal menyambut uluran tanganmu kala itu. Aku tidak akan pernah menyesal membalas semua obrolanmu dengan ramah saat itu.Jika diberi kesempatan merubah sesuatu, aku tidak akan merubah apa pun.
Aku bersyukur bertemu denganmu, kuharap kau juga begitu. Arka, apa kau tahu? aku bisa menuliskan semua ini karenamu. Kau adalah calon penulis yang hebat. Aku jatuh cinta padamu, dan pada tulisanmu yang juga memotivasi ku untuk menulis seperti sekarang. Pengalaman bersamamu membuat aku tidak akan dan tidak mau melupakannya.
Arka, aku masih sering melihat langit. Termenung, seperti memikirkan sesuatu. Ya, ini adalah salah satu kebiasaanmu yang sekarang menjadi kebiasaanku.
Sampai sekarang, masih banyak hal yang belum aku ketahui tentangmu, seperti perasaanmu padaku. Tapi aku berharap kau menemukan apa yang kau butuhkan. Kau mengajarkanku tentang arti perpisahan. Bahwa perpisahan memang menyakitkan, namun menahan ego dan mampu merelakan adalah bagian dari pendewasaan.
Patah memang menyakitkan, tapi bukankah lara ada untuk dirasa? jadi kumohon, nikmatilah dan sesekali tunjukkan senyummu yang indah kepada dunia. Juga, jalani hidupmu dengan bahagia, meski kita tak lagi bersama.
