Oleh: Zhalsabila Ramadhani
Langkah kaki perempuan itu menjauh membelakangi lelaki tersebut.
Malam hari itu, perempuan tersebut menangis sambil berlari menjauhi lelaki itu. Dia tidak peduli dengan lelaki yang sedari tadi memanggil namanya.
“Nauraaa…” teriak lelaki itu
Tapi Naura tetap saja berjalan semakin menjauh tanpa menengok sedikit pun.
“Naura Syafiana Dirgantara!” teriak lelaki itu sekali lagi.
Naura yang tadinya berlari bertenti untuk beberapa detik, walau jarak yang sudah cukup jauh, tapi Naura masih mendengar suara teriakan nyaringnya.
Dalam tepi taman perumahan tersebut, hanya ada dua orang di sana. Lampu jalan remang kekuningan menghiasi sedihnya suasana malam itu. Jalanan perumahan tersebut benar-benar sepi.
Sejenak, Naura menghapus air matanya yang sedari tadi menetes, kemudian membalikkan tubuhnya menatap ke lelaki tersebut.
Terakhir lelaki itu memandang Naura dengan raut wajah yang menyesal. Berat memang rasanya, tapi dia tidak bisa membalikkan keadaan seperti dulu.
“Maafkan aku Naura, apakah tidak ada kesempatan kedua untukku?” teriak lelaki itu.
Lalu sekejap Naura mengusap air matanya dan pergi tanpa permisi dengan sedikit berlari. Ia meninggalkan lelaki yang masih diam terpaku tanpa senyuman.
Watansoppeng, 23 Oktober 2021
