Ini bukan tentang metamorfosis seekor kupu kupu. Bukan juga soal proses terciptanya sebuah batu. Tetapi ini adalah waktu yang berjalan menurut sebuah lagu. Ia mengambil alih perasaan dan pikiranku. Sedih, senang, tangis, tawa, duka tergantung dalam melodi indah yang kudengarkan.
Seiring irama membawaku kepada mimpi yang indah. Alam khayal memanjakanku dengan ilusi fiksi yang ia punya. Gradasi warna-warna galaksi yang bercampur membuatku tak ingin meninggalkannya. Aku berbaring di atas rumput nan hijau, memandang awan putih di langit lepas. Sejenak mata kupejamkan, baru kali ini ketenangan kudapatkan. Lalu aku berkata “Jika memang ini sebuah mimpi, maka biarkan aku tidur untuk selamanya”.
“Tik.. Tik.. Tik.. ” Air hujan jatuh menimpa badanku yang tengah nyaman berselancar di dunia fiksi. Kukira ini hanya rintik biasa hasil evaporasi dari air laut. Tapi ternyata ia membawa petir yang mengiringinya. Petir itu bergemuruh di atas derasnya air yang jatuh. Ia seakan marah atas perkataanku, sembari membalas, “Lantas, mengapa kau tak bangun untuk mewujudkannya? Aku mengerutkan dahi tanda tak paham. “Mengapa sulit bagimu memahami sebuah kalimat? namun kau sangat mudah mengartikan lagu”. Petir itu kembali berkata diiringi gemuruh yang riuh.
Aku tak berteduh. Kubiarkan air membasahi tubuhku yang rapuh. Seberapa bisa ia membuatku tersadar akan logika yang kupunya. Padahal saat itu aku memegang sebuah payung di tanganku. Aku bangun dari zona nyaman, lalu mengembangkan payung itu. Aku meneduhkan diri di bawahnya, dan menangis sejadi-jadinya. Aku tak bisa keluar dari ilusi ini.
Nyaman itu adalah jebakan! Aku tak ingin terus-terusan larut dalam kesenangan. Aku ingin bangun, dan mewujudkan mimpi yang kurancang sendiri. Kurasa ini pertanda Tuhan, bahwa kehidupan adalah tentang masa depan.
