Bab 2

Mengapa Menulis?

Pepatah:

Mengapa menulis?

Apa bagusnya menulis?

Ada pepatah yang mengatakan:”Kalau hanya berkata-kata, lisan, semuanya akan hilang.”

“Kata-kata akan terbang melayang tak berbekas.”

“Tulisan, sebuah karya berbentuk buku akan dikenang selamanya.”

Ilustrasi:

Gambar lucu, anak kecil mengamati seekor macan yang mati meninggalkan kulitnya.

Wejangan:

Seorang bapak berkata kepada putrinya yang sakit-sakitan: “Jika kamu tidak bisa menjadi Ulama, Profesor, Dokter, Saudagar. Maka, menulislah.”

Putrinya bertanya:”Mengapa harus menulis, Bapak?”

“Menulis bisa mengubah keadaanmu. Karyamu akan menyebar ke masyarakat luas. Namamu akan dikenang. Jadilah seorang penulis!”

Ilustrasi:

Gadis kecil sedang dirawat di rumah sakit, mendengar wejangan ayahnya.

Panggilan Jiwa:

Sesungguhnya menulis bukan sekadar untuk mencari uang semata.

Menulis merupakan panggilan jiwa.

Artinya, kita tidak bisa tenang jika tidak menulis.

Tarikan jiwa, panggilan jiwa itu seolah-oleh terus melambai.

Agar kita segera menulis.

Ilustrasi:

Seorang gadis kecil berlari, dikejar-kejar oleh peri yang menarik-narik sepotong

hati berwarna merah.

Menulis Terapi Jiwa:

Menulis bisa juga sebagai terapi jiwa.

Seorang anak cacat genetik, kelainan darah bawaan;Thallasemia. Pernah didiagnosa dokter bahwa dia tidak akan lama bertahan. Alias umurnya tidak lama lagi.

Anak ini merasa marah, kecewa, sedih sekali dengan kondisinya. Dia kemudian melampiaskan perasaannya dalam tulisan; puisi dan cerita pendek. Buku hariannya selalu penuh dengan tulisan-tulisannya.

Setelah remaja, ia mengirimkan puisinya ke radio-radio. Puisinya dibacakan di acara Pelangi Budaya. Puisinya dan nama penanya menyebar di berbagai radio swasta.

Namun, dia tidak puas puisinya hanya dibacakan di radio.

Kemudian dia mengirimkan puisi-puisinya ke sebuah majalah. Karyanya dimuat dan itu sungguh mendongkrak kepercayaan dirinya. Dia terpacu untuk terus menulis. Bukan hanya puisi, tapi juga cerita pendek.

Dia mengirimkan puisi dan cerpennya ke berbagai media; koran dan majalah. Dia tak pernah peduli lagi dengan penyakitnya yang menahun.

Dia terus menulis, menulis dan menulis!

Hingga satu ketika dia baru menyadari. Bahwa namanya mulai dikenal, nama penanya populer di kalangan masyarakat pembaca Indonesia.

Anak itu, dia yang pernah tiga kali masuk ruang isolasi. Disebabkan komplikasi penyakitnya, dinyatakan para dokter umurnya tidak akan lama lagi. Saat ini telah menulis ratusan buku.

Dengan buku karyanya dia bisa mengubah keadaan. Dia berkeliling dunia dan merasa sehat, kuat.

Mau tahu siapakah anak itu, dan sekarang telah menjadi seorang nenek?

Ya, dia tak lain dan tak bukan adalah penulis buku ini.

Hallo, inilah penulis itu; Pipiet Senja.

Ilustrasi:

Sosok penulis sedang mengajari anak-anak di Wisma Nusantara, KBRI

Malaysia.

Habibie Pun Menulis:

Teman-teman pasti tahu B.J. Habibie, bukan?

Profesor. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, tokoh ilmuwan, negarawan Republik Indonesia. Pernah menjabat sebagai Wakil Presiden.

Kemudian menggantikan Soeharto, sebagai Presiden RI pada tahun 1998 selama 512 hari. Jabatan tersingkat Presiden Indonesia.

Ketika ditinggal oleh Ainun, istrinya yang sangat dikasihinya. Habibie merasa sangat kehilangan. Jiwanya sempat terguncang. Ia bahkan bagaikan seorang linglung. Hingga satu ketika ia lupa mengenakan kaos kaki yang belang-belonteng, alias tidak sama.

Melihat kondisinya yang memprihatinkan itu, dokter yang merawatnya menyarankan agar Habibie menulis.

“Prof, menulislah. Karena menulis bisa menjadi terapi jiwa kita,” demikian kira-kira saran sang dokter.

Habibie menuruti sarannya.

Mulailah Habibie menulis kisah perjalanan hidupnya.

Menulis, menulis dan menulis!

Maka, jadilah sebuah buku yang sangat menginspirasi itu: Habibie & Ainun.

Bukunya sangat lars-manis, kemudian diangkat ke layar lebar, difilmkan.

Quote: “Kata-kata, lisan bisa terbang melayang dan lenyap. Tulisan, sebuah karya berbentuk buku akan dikenang selamanya.”

Ilustrasi:

Kover buku karya Habibie berjudul; Habibie & Ainun.

Tip & Trik:

  • Sisihkan waktumu setiap hari untuk menulis.
  • Kamu bisa menulis di buku harian dengan tulisan tangan.
  • Bisa juga menulis langsung di komputer atau laptop.
  • Biasakan menulis dengan hati senang.
  • Kondisikan tempatmu menulis dengan nyaman.
  • Jauhkan telepon genggam saat menulis.
  • Tidak ada gadget, tidak ada game.
  • Menulis sambil mendengarkan musik lembut, lagu kesukaanmu.
  • Menulis bukan teori, seminar, melainkan; praktekkan!

Ilustrasi:

Gambar lucu anak laki-laki sedang superduper sibuk mengetik dengan komputer milik orangtuanya. Sambil mendengar musik, tangan kanan mengetik, tangan kiri mencomoti cemilan. Kesannya: heboh sendiri.

Tugas:

  • Tuliskan tentang kesulitanmu mendapatkan buku yang kamu inginkan.
  • Apakah ayah-ibu mendukungmu untuk mendapatkan buku-buku tersebut?
  • Bagaimana cara mengatasinya?
  • Jika sudah selesai menuliskannya, perlihatkan kepada ibu dan ayahmu.
  • Mintalah mereka untuk menandatangani lembar latihan di sebelah ini.
  • Selamat menulis, Teman!

Ilustrasi:

Gambar lucu anak perempuan sedang mengumpulkan kata-kata dari samudera kata. Dimasukkan ke keranjang besar yang diseret-seretnya, menyusuri pantai.

@@@

(Visited 7 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Pipiet Senja

Pipiet Senja, sastrawati Nasional, menulis sejak 1975. Berbagai genre, terutama tentang perempuan. Ribuan cerpen dan ratusan novel telah ditulis, tetapi yang baru diterbitkan sebagai buku 203. Aktif Mentor Literasi untuk para santri Askar Kauny. Mentor kelas menulis TKI; Hongkong, Malaysia, Singapore, Mesir, Mekkah dlsbnya. Aktivitas Manini 65 tahun dengan lima cucu ini selain menulis, wara-wiri ke rumah sakit sebagai penyintas Thallasemia. Suka diminta Orasi dan baca puisi, sebab ia pun Aktivis 212. Pesannya:"Menulislah yang baik-baik saja, jangan menyesatkan, sebab kelak tulisan kita akan dimintai tanggung jawab. Salam Literasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *