Oleh Adhini Khumairah Latifa

Jika kita masih bersama, mungkin kita itu sudah berjalan selama tiga bulan. Selama kebersamaan itu, satu dan lain hal kita selesai tanpa adanya kata mulai. Bukankah kemarin engkau berkata bahwa kita memang hanyalah teman. Ya, seorang teman yang menjaga perasaan satu sama lain, tapi di sisi lain aku bersyukur karena tidak melanjutkannya.

Aku tahu engkau mendekatiku hanyalah untuk permainan semata saja, dan untungnya juga aku cepat mengetahui bahwa kau hanya mempermainkan aku. Mungkin akan lebih sakit lagi jika aku terus mengejarmu yang kukira tulus, ternyata engkau tidak betul-betul menyukaiku.

Mengapa sepertinya kau dendam akan diriku ini? Engk au mendekati ku hanyalah gabut mu saja, ada apa denganmu? Bukankah sebelumnya kita tidak pernah saling komunikasi, bahkan dulu aku takut menyapamu karena aku mengetahui dirimu dari teman dekatku saja. Sungguh aku bingung akan dirimu.

Selamat tinggal, hubungi aku jika engkau butuh. Aku masih seperti saat kita dekat dulu. Aku memang membenci sifatmu, tapi aku tidak bisa membenci dirimu seutuhnya. Aku tergila-gila pada dirimu. Namun, jika kau ingin pergi, pergilah, dan jika engkau ingin kembali, kembalilah.

Watansoppeng, 25 Januari 2023

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *