Karya: Muhammad Syawal – Siswa SDN 12 Biccuing

Pada zaman dahulu di Sulawesi Selatan, berdirilah sebuah kerajaan besar di Luwu. Rakyatnya hidup damai dan makmur. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang jujur dan adil bernama La Busatana Datu Maongge. Beliau dikaruniai seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Tandampalik. Kecantikannya bahkan terkenal hingga ke seluruh pelosok Sulawesi Selatan.

Suatu hari, utusan dari Kerajaan Bone yang dipimpin oleh Arung Palakka datang ke Kerajaan Luwu untuk melamar Putri Tandampalik. Raja Luwu meminta waktu tiga hari sebelum memberikan jawaban, sebab di Luwu terdapat aturan adat bahwa putri kerajaan dilarang menikah dengan pria dari daerah lain. Namun, jika lamaran itu ditolak, kemungkinan besar akan terjadi perang antara Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone.

Tidak lama kemudian sebuah peristiwa besar terjadi di Kerajaan Luwu. Putri Tandampalik tiba-tiba jatuh sakit karena penyakit misterius. Kulitnya berbintik-bintik hitam dan melepuh. Para tabib kerajaan tidak mampu menyembuhkannya. Baginda Raja dan seluruh penghuni istana sangat panik dan bersedih. Agar penyakit itu tidak menular kepada rakyat, Raja terpaksa mengasingkan Putri Tandampalik ke Pulau Wajo.

Sebelum sang putri meninggalkan istana, Raja Luwu memberinya sebuah keris pusaka sebagai tanda cinta dan kehormatan.

Sudah setahun Putri Tandampalik tinggal di Pulau Wajo, namun penyakitnya belum juga sembuh. Suatu hari, ia duduk di pinggir danau sambil menangis, menatap wajahnya yang kini penuh bintik-bintik hitam. Tiba-tiba seekor kerbau putih datang menghampirinya. Hewan itu menjilat betis sang putri, dan secara ajaib penyakit kulitnya perlahan-lahan sembuh.

Pada suatu hari, secara kebetulan pangeran dari Kerajaan Bone datang ke Pulau Wajo untuk berburu. Ia tersesat hingga menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan tempat Putri Tandampalik tinggal. Di sanalah mereka bertemu kembali, meski sebelumnya dipisahkan oleh lamaran yang tertunda dan penyakit misterius.

Sang pangeran kemudian berlayar menuju Istana Luwu untuk menyampaikan lamaran resminya. Ia harus menghadapi badai dan banyak rintangan selama perjalanan. Keteguhan hatinya membuat Raja Luwu luluh dan akhirnya menerima lamaran tersebut.

Putra mahkota Kerajaan Bone akhirnya menikah dengan Putri Tandampalik di Wajo. Setelah menikah, Putri Tandampalik memerintahkan rakyatnya agar tidak menyembelih atau memakan kerbau putih. Inilah sebabnya hingga sekarang masyarakat Wajo dan beberapa daerah Bugis tidak memakan kerbau putih.

Kisah ini mengajarkan bahwa penderitaan yang dihadapi dengan tulus dan sabar akan melahirkan harapan indah pada waktunya. Jodoh adalah rahasia Sang Pencipta.

Ketika sang pangeran menyatakan keinginannya untuk melamar, Putri Tandampalik menyerahkan keris pusaka pemberian ayahnya seraya berkata,
“Berikan pusaka ini kepada Raja Luwu. Jika beliau menerimanya, berarti lamaranmu diterima.”

Watansoppeng, 5 Desember 2025

*Disadur dari beberapa sumber

(Visited 9 times, 1 visits today)

By Awal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *