Oleh: Firda Sudirman*
Ini cerita tentang si bungsu, pemilik beban berat yang bergelar” si puncak harapan.”
Kata mereka jadi anak bungsu itu anak yang paling enak, nggak pernah ngerasain penderitaan kayak kakak-kakaknya, selalu disayang sama orang tua, apa yang dia mau udah ada.
Anak yang sering kali dianggap pemenang untuk kasih sayang, sering kali dianggap terpenuhi segala keinginan dan kemauannya. Padahal nyatanya, banyak masa di mana pendapatnya tidak didengar. Banyak masa di mana ia tak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan.
Tapi pernah nggak sih orang-orang itu berpikir kalau jadi anak bungsu juga pasti ngerasain penderitaan yang kakaknya nggak pernah rasain, rasanya selalu serba salah di mata keluarga, kalau dia diam dikiranya pemalas, harus lebih sukses daripada kakak-kakaknya, selalu ada standar dari kakak padahal dia juga ingin menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia selalu tidak didukung oleh keadaan padahal dia pengen banget melakukan apa yang dia mau.
“Anak kecil,anak manja ” begitu pandangnya pada si bungsu. Percayalah jika ku katakan tak boleh ada “opsi gagal” dalam hidupnya. Jika kakak gagal mereka harus berhasil, jika kakak sukses mereka harus lebih sukses.
Percayakah jika aku katakan mereka hidup dikejar waktu? Sebelum orang tua menemui penghujung usianya. Sebelum masa jaya keluarga menuju kesudahannya. Sebelum kakak pergi dan menata hidupnya, dan pada akhirnya merekalah pemegang tanggungjawab terberat.
*Penulis adalah siswi SMPN 2 Lilirilau
