Oleh: Aisyah Nur Adhayani*

Aku tak membencinya
Aku juga tak mencintainya
Memamerkan warna yang berseri
Menanam kekecewaan di dalamnya

Rona warna yang memabukkan
Namun mengapa sebatas sementara?
Tercipta untuk buruknya awan abu
Tercipta dari tetesan air mata sang langit

Mengapa sang hujan menciptakan luka yang terlihat indah?
Untuk apa membandingkan kegelapan awan yang abu dengan terang yang dipenuhi kegelapan tersirat?
Bagaimana bisa kupu-kupu mengeluarkan ulat?
Mengapa langit tidak bisa membuat hal indah abadi?

Kenapa ada kalimat “setelah badai akan ada pelangi”?
Apakah itu artinya setelah badai akan ada badai lain yang menyamar menjadi hal elok?
Atau apakah memang takdir buruk tak akan pernah berubah menjadi hal yang menyenangkan?
Atau mengajarkan kita untuk tidak menilai sesuatu karna keindahan yang hanya dilihat dari mata saja?

Dia seolah memanggil
Membawa kita ke dunia mimpi yang tiada habisnya
Setelah kita terjatuh ke dalamnya
Dia hilang dengan debu debu yang mengikuti

*Penulis adalah siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 8.3

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *