Oleh: Amara Nasifa*
Setiap kali tahun akan berakhir, dunia seolah-olah mendadak bising. Orang-orang mulai sibuk bertanya tentang pencapaian besar apa yang sudah diraih, angka berapa yang sudah dicapai, atau piala apa yang sudah dibawa pulang. Di media sosial, orang-orang sibuk menuliskan harapan-harapan besar untuk tahun yang akan datang. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, aku justru ingin menoleh ke belakang, pada ingatanku yang penuh dengan remahan peristiwa sederhana. Ternyata, yang menyelamatkanku dari rasa lelah dan membuatku tetap berdiri tegak sepanjang tahun bukanlah piala besar, melainkan serpihan kecil kebahagiaan yang seringkali lupa aku catat.
Aku ingat betapa bangganya aku saat pertama kali berdiri di kantor Bupati untuk paduan suara, atau saat suaraku tak bergetar sedikit pun ketika ceramah di bulan Ramadan. Ada rasa puas yang luar biasa saat berhasil menyetor Juz 30 dengan suara lantang di depan ibu guru, dan akhirnya bisa menyelesaikan dompet kain buatanku sendiri, meski mesin jahitnya sempat error berkali-kali.
Lalu ada malam setelah kegiatan PMR berakhir. Tubuhku hampir ambruk saking lelahnya menghadapi tanggung jawab menjadi koordinator acara. Namun, lelah itu menguap saat satu per satu kado kecil dan ucapan terima kasih dari adik kelas dan rekan-rekanku sampai di tangan. Ternyata, merasa disayang dan dihargai adalah obat lelah yang paling ampuh.
Aku juga ingat momen sederhana di ruang kelas saat persiapan pawai, ketika suara teman-temanku yang bersahutan memanggil namaku, “Amara, ini lepas!”, “Amara, ini bagaimana?”, “Amara, tolong pakaikan ini!” . Di tengah rasa panik mengejar waktu dan keringat yang terus mengalir, ada rasa hangat yang menjalar di dada. Aku menyadari, kebahagiaan ternyata sesederhana merasa dibutuhkan. Menjadi tangan yang membantu orang lain tegak adalah cara terbaik untuk merasa semangat kembali.
Bahkan, hal sepele seperti mencari takjil sore hari dengan teman sekamar atau sekadar melihat kakak kelas yang aku kagumi saat classmeeting pun ikut andil dalam menyusun kebahagiaanku. Momen-momen kecil inilah yang menjadi cahaya, membantuku melewati hari-hari yang sulit.
Tapi, tahun ini tidak selalu tentang tawa. Di sela kebahagiaan itu, aku sempat mengalami jatuh yang cukup keras. Aku gagal menjadi koordinator yang baik hingga merasa merugikan banyak orang. Aku harus menghadapi remedi pelajaran sejarah, dan yang paling menyesakkan adalah saat aku harus merelakan peringkatku hanya karena selisih satu angka. Aku menangis semalaman untuk satu angka itu, rasanya sakit sekali. Di saat-saat jatuh seperti itu, aku beruntung punya rumah untuk pulang. Kehadiran orang tua dan suasana rumah selalu berhasil menjadi tombol reset yang membuatku siap berjalan lagi.
Menatap tahun depan, aku tidak ingin membebani diriku dengan resolusi yang sulit. Harapanku sangat sederhana. Jika tahun depan aku harus bertemu dengan remedi atau kegagalan lagi, aku harap aku tidak perlu menangis semalaman. Aku ingin lebih tangguh dan percaya bahwa satu atau dua kegagalan tidak akan menghapus nilai diriku. Aku ingin tetap menjadi orang pertama yang dicari teman-temanku saat mereka butuh bantuan, dan tetap menemukan kebahagiaan dalam obrolan sore hari atau senyum orang tua saat aku pulang.
Tahunku bukan tentang pengalaman terbaik atau kemenangan di atas panggung. Tahunku adalah tentang bertahan, tentang jatuh, dan tentang menemukan kebahagiaan di sela-sela rutinitas yang biasa saja. Aku sadar bahwa tidak perlu memburu matahari jika kunang-kunang sudah cukup untuk menyinari perjalananku yang gelap.
Watansoppeng, 31 Desember 2025
*Penulis adalah Siswi MAN 1 Soppeng
