5 tahun kemudian…
“Kak… buruan… entar aku telat” ucap Bella
“Iya sabar… kafe lagi rame… Mil… aku titip kafe” ucap Juan
“Oke siap…” ucap Emilio
“Bella… mobil udah keluar…” Teriak Juan dari Dalam Mobil
“Iya sabar… lagi make sepatu” ucap Bella
Setelah selesai memakai sepatu, Bella bergegas masuk kemobil. Melihat Bella sudah naik ke mobil, Juan pun menyalakan mesin mobil dan berkendara menuju sekolah Bella.
Sesampainya di sekolah, Bella membuka pintu mobil lalu turun. Baru beberapa langkah yang di ambil, Bella teringat dengan buku tugasnya yang tertinggal di atas meja belajarnya
“Kak Juan… bukuku ketinggalan di kamar” ucap Bella menghampiri Juan
“Hah… untung aku belum balik… bentar yah” ucap Juan
“Nah dapet… buku ini kan?” tanya Juan menyodorkan sebuah buku ke Bella
“Nah bener… kak Juan emang hebat” puji Bella
“Tapi ingat… jangan kasih tau siapapun tentang kekuatan kakak ingat” ucap Juan
“Iya…iya ngapain kasih tau orang lain” ucap Bella
“Yaudah kak… Bella ke kelas dulu… hati-hati” ucap Bella
Juan pun mengendarai mobilnya menuju ke kafe miliknya.
“Eh… Juan dateng… buruan siap-siap” bisik para pelanggan cewek yang duduk di meja yang berdekatan dengan pintu masuk ketika melihat Juan turun dari Mobilnya.
‘Juan… hati-hati loh’ ucap Emilio melewati telepati
‘Hah… apaan?’ tanya Juan bingung
“Kak Juan… aku punya hadiah nih”
“Aku juga punya kak”
“Aku bawain kak Juan Coklat terkenal itu”
“Kak Juan ini aku bawain jam tangan model terbaru… aku suruh papa ku beliin”
Ucapan para gadis-gadis yang terpana melihat wajah tampan Juan.
“Cih dasar pemuja Juan” ucap Sekelompok wanita lain yang sedang menunggu pesannya
“Permisi… pesanannya sudah siap” ucap Emilio membawa pesanan ke meja para wanita itu
“Wah… Emilio kau tidak kalah tampan dengan Juan… mau jadi pacar ku gak?” ucap Siska
“Wey… jangan menggoda kakakku” ucap Emili keluar dari dapur dengan sebuah pisau di tangannya
“Emi… mengapa kau bawa pisau… sudah masuk sana” tegur Emilio
“Hahah… kalian berdua sangat lucu… tadi aku hanya bercanda… jangan marah Emili” ucap Siska
“Huh… Nicho kecil kami sangat imut” ucap sekelompok wanita lain yang mengelilingi Nicho
‘Haist… mengapa kehidupan di bumi seperti ini’ ujar mereka bertiga dalam hati
“Maaf yah… aku bukannya tidak mau menerima pemberian kalian hanya saja kalau aku terima pasangan ku akan marah nanti” ucap Juan
“Hais… baiklah… kami juga tau… kak Lena kalau marah nyeremin” ucap Adela
“Yang nyeremin siapa?” ucap Lena yang baru saja masuk ke dalam kafe sambil memelototi kelompok gadis yang mengerumuni Juan
“Eh Lena… kok gak bilang mau kesini sih… kan bisa ku jemput” ucap Juan yang langsung menghampiri Lena
“Gak perlu di jemput… aku juga gak akan lama kok… aku cuma mau kasih kamu ini” ucap Lena memberi Juan sebuah kotak kecil
“Ini apa?” ucap Juan melihat kotak di tangannya
“Hanya jam tangan” ucap Lena
“Wah… ini kan jam tangan yang hanya ada tiga di dunia itu” ucap Adela melihat jam tangan dikotak itu
“Hah… benarkah?… wah keren banget… hadiah kita mah kalah” ucap para gadis itu
“Kalau gitu aku pergi dulu… supirku sudah menunggu” ucap Lena
“Biar ku antar sampai mobil” ucap Juan lalu mengantar Lena ke mobil
sekelompok gadis tadi pun kembali ke tempat duduknya dan kembali seperti biasa dan memesan makanan.
Setengah hari telah berlalu, pelanggan kafe sedikit demi sedikit mulai berkurang dan jam pulang Bela sudah dekat sehingga Juan bersiap-siap untuk pergi menjemput Bela.
Saat Juan keluar dari pintu kafe, ia berpapasan dengan seorang wanita yang ingin masuk ke kafe
‘Bau ini…’ batin Juan lalu meraba saku celananya
“La mort..” ucap Juan sambil melihat kartu tarot yang ia ambil dari saku celananya yang bergambar penunggang kuda yang sudah berbentuk kerangka yang berarti kematian.
‘Emilio… wanita itu memiliki bau kematian… walaupun samar-samar… perhatikan dia’ ucap Juan kepada Emilio melalui telepati
‘Baiklah… kau tenang saja’ balas Emilio
Di sekolah Bela
“Bel… pulangnya biar aku antar yah” pinta Dafa
“Gak usah Daf… kakakku bakalan jemput kok” balas Bela
“Yah… gak asik ah… kau ini kayak anak kecil tau gak?” ucap Dafa
“Hah? maksudnya apaan? aku? anak kecil?” tanya Bela
“Pergi di anter.. pulang di jemput… kalau bukan anak kecil terus apaan?” ucap Dafa ketus
“Kok kamu ngomongnya gitu sih?” ucap Bela
“Kenapa? kau gak terima kalau dia anak kecil?” ucap Juan yang bersandar di dinding yang tak jauh dari mereka berdua
“Kak Juan… kak Juan kapan datang?” tanya Bela menghampiri Juan
“Baru aja” balas Juan
“Oiya… satu lagi… menjauh dari Bela” ucap Juan
“Kalau aku tidak ingin menjauhinya bagaimana?” ucap Dafa
“Benarkah?… kalau begitu… aku bisa mematahkan kedua tangan dan kakimu seperti ini” ucap Juan yang tiba-tiba sudah berada di depan Dafa sambil memegang kedua tangan Dafa lalu memelintirnya hingga terdengar suara retakan dan menendang kakinya hingga terdengar suara tulang patah
“Akhh..” rintih Dafa menahan sakit
“Yah… walaupun hanya ilusi tapi sudah cukup menciptakan ketakutan di pikiranmu… selanjutnya kau lupakan yang terjadi… Fel.. hapus ingatannya tentang yang barusan terjadi tapi jangan hilangkan ketakutannya” ucap Juan sambil memegang dahi Dafa
“Bela ayo kita pergi… kau juga harus menjauh darinya… bau kematian dalam tubuhnya lumayan besar” ucap Juan
“Jadi maksudmu…” ucap Bela
“Seperti yang kau pikirkan….”balas Juan
“Apa kau tidak bisa menolongnya?” ucap Bela
“Aku tidak suka sikapnya… untuk apa aku menolongnya” jawab Juan
“Tapi…”
“Sudahlah… jangan pikirkan dia lagi… kita kembali kerumah saja…” ucap Juan
“Baiklah” ucap Bela sedih
‘Kau terlalu baik Bela…’ batin Juan melihat raut sedih adiknya
***
Penulis : Muh. Irwan ali dari SMAs Haji Agus Salim Katoi
