Oleh : Uqail Khafadi*

Semua orang akan hilang tapi tidak dengan karya yang dibuatnya. Menulis tidak hanya tercatat di buku tapi juga tercatat di hati kita, sebagaimana Om Ruslan Ismail mage (RIM) yang menulis buku berjudul, “Sumpah Pena”.

Tulisan Om RIM bukan hanya tercatat dalam bukunya, tetapi juga tercatat dalam hatiku. Meskipun baru bisa membaca bukunya. Namun, Om RIM sudah hadir di hatiku, terlebih selalu hadir membimbingku secara digital memperbaiki tulisanku.

Melalui bukunya yang saya dapat dari ayahku, saya sangat terinspirasi untuk menjadi penulis seperti Om RIM. Alhamdulillah, saya sudah bisa menulis walau belum jadi penulis. Menurut ayahku, semua orang bisa menulis tetapi belum tentu bisa menjadi penulis yang baik.

Kendati pun saya baru bisa menulis, tetapi saya tidak akan berhenti belajar untuk menjadi penulis yang baik dalam melahirkan karya-karya tulis. Dalam buku karyanya Sumpah Pena, Om RIM mengatakan, “Teruslah menulis, karena tulisan yang baik hanya bonus dari kebiasaan”.

Saya pernah membatin dalam hati, apakah bisa mewujudkam impianku menjadi penulis? Hati kecil saya menjawab tentu kamu bisa Uqail, tapi kuncinya harus berusaha. Ada sebuah pepatah yang membuat saya termotivasi untuk menulis, yaitu “Belajar di waktu kecil bagai melukis di atas batu, belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air”.

Buatlah karya sebelum mati gaya kata istilah kekinian. Karena itu, saya tidak akan berhenti berterima kasih kepada ayahku yang telah mendaftarkan masuk anggota di Pena Anak Indonesia. Begitu pula kepada ibuku yang selalu mendukungku menjadi penulis.

Teristimewa kepada Om RIM yang telah mengarahkan langsung menjadi penulis walau hanya melalui pesan lewat ayahku. Semoga suatu saat bisa bertemu langsung dengan Om RIM.

*Siswa SDIT ATTIN Lubuk Buaya Kota Padang

(Visited 60 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *