Oleh: Amara Nasifa*

Kalau dengar kata “tikus”, apa yang pertama kali muncul di pikiran kalian? Pasti nggak jauh-jauh dari hewan kotor, hama, atau malah sindiran buat para pejabat koruptor yang hobi makan uang rakyat. Tapi, kamu harus tahu kalau di salah satu sudut Rusia, ada tikus yang justru dijunjung tinggi, bahkan dibuatkan monumen spesial. Pastinya bukan karena mereka rakus, tapi karena dia sangat berjasa bagi masa depan manusia. Kok bisa? Yuk, kenalan sama sisi lain dari tikus yang jadi pahlawan di dunia sains ini.

Di Novosibirsk, Rusia berdiri patung unik yang menarik perhatian dunia. Patung yang terletak di taman depan Institut Sitologi dan Genetika Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia ini, menampilkan seekor tikus yang sedang merajut untaian DNA, lengkap dengan kacamata kecil seperti ilmuwan.
Patung ini dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada jutaan tikus yang selama ini berperan besar dalam penelitian ilmiah.

Patung ini menggambarkan peran hewan kecil itu dalam membantu penemuan besar di dunia medis, mulai dari pengembangan ilmu pengetahuan, pengujian obat-obatan, penelitian kanker, hingga pemahaman genetika manusia. Para peneliti sengaja memilih tikus karena hewan ini telah menjadi model penelitian utama selama puluhan tahun, dan kemiripan biologis mereka dengan manusia mencapai lebih dari 90%. Melalui percobaan pada tikus, para ilmuwan dapat menguji obat baru dan terapi gen sebelum diujicobakan pada manusia.

Melihat pengorbanan tikus ini, rasanya sulit untuk tidak membandingkannya dengan realita yang sering kita temui di tanah air. Di saat kita terbiasa melihat “tikus” yang memakai dasi, duduk manis di kursi empuk, dan punya gaji yang fantastis, tikus laboratorium justru sebaliknya. Dia bekerja keras untuk manusia tanpa pamrih, tanpa perlu mengadakan konferensi pers, dan tanpa pencitraan.

Dia tidak pernah mencuri anggaran, dan tidak pernah memakan uang rakyat. Dia justru memberikan nyawanya untuk kemajuan manusia dan terus berkontribusi hingga sebuah penemuan baru lahir. Mereka adalah pahlawan tanpa gelar, tanpa sorot kamera, dan tanpa kesempatan untuk berkata “Saya keberatan”. Pengabdian tikus-tikus ini sederhana tapi dalam, kecil tapi menentukan masa depan.

Pada akhirnya, kita memang tidak bisa menghapus fakta bahwa tikus adalah makhluk yang identik dengan kotoran dan ini menjadi sebuah alasan logis mengapa mereka menjadi simbol bagi para “tikus berdasi” yang serakah. Namun, melalui patung di Rusia ini, kita diajak untuk membuka satu sudut pandang baru yang lebih luas. Bahwa di balik stigma buruknya, ada mereka yang dipaksa menjadi bahan uji masa depan umat manusia lewat nyawa mereka.

Di sini kita belajar bahwa terkadang hewan yang kita anggap rendah justru punya kontribusi yang jauh lebih besar dibandingkan manusia-manusia serakah yang kita sebut “tikus berdasi”. Walaupun berukuran kecil dan sering tidak terlihat, kontribusi para tikus dalam penelitian tidak dapat disangkal. Mereka menjadi pahlawan tanpa nama yang membantu melahirkan banyak terobosan ilmu pengetahuan yang hari ini menyelamatkan jutaan manusia. Mungkin sudah saatnya kita melihat tikus bukan hanya sebagai pengganggu, tapi juga sebagai pengingat akan sebuah pengorbanan yang tak pernah mereka minta.

*Disadur dari berbagai bacaan

Watansoppeng,30 Desember 2025

*Penulis adalah Siswi MAN 1 Soppeng

(Visited 41 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *